Opini

Isa al-Masih; Pembawa Pesan Perdamaian

Kelahiran Nabi Isa as juga merupakan sebuah mukjizat mengingat Maryam sa tidak memiliki suami. Allah Swt dalam Al-Quran menyebut Maryam sa sebagai putri Imran dan merupakan seorang wanita yang sangat bertakwa. Wanita mulia ini dalam ketauhidan dan penghambaan memiliki derajat maknawi sangat tinggi sehingga makanan dan hidangan didatangkan dari langit untuknya.

Ketika Sayyidah Maryam sedang beribadah dan bermunajat, malaikat Jibril turun dan memberikannya kabar tentang kelahiran seorang putra darinya. Allah Swt menyebutkan hal ini dalam surat Maryam ayat 16-21. Nabi Isa as adalah salah satu dari nabi besar yang namanya disebutkan dalam Al-Quran dan dicatat dengan penuh kemuliaan dan kehormatan serta disebut juga dengan Kalimatullah atau Ruhullah. Nama Nabi Isa as disebutkan dalam Al-Quran sebanyak 45 kali dan di beberapa bagian beliau disebut dengan nama Al-Masih. Sang ibu, Maryam sa, adala salah satu wanita suci dalam sejarah umat manusia yang memiliki posisi taqarrub sangat tinggi. Sedemikian mulia sosok Maryam, sehingga malaikat diturunkan kepadanya untuk memberi kabar  soal kelahiran putranya.

Kelahiran Nabi Isa Al-Masih as tanpa ayah merupakan bukti kekuatan Allah Swt dimana Dia tidak membatasi beberapa makhluknya dari hukum sebab-akibat. Namun sebagian kelompok menjadikan fenomena kelahiran Nabi Isa Al-Masih as tanpa ayah sebagai bukti untuk ketuhanan Isa Al-Masih. Dan ada pula yang menjadikan fenomena tersebut sebagai alasan untuk menuding Maryam telah melakukan perbuatan tercela.

Sekelompok Kristen datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah Saw. Dalam percakapan dengan Rasulullah, mereka menilai kelahiran Nabi Isa as tanpa ayah sebagai bukti ketuhanannya. Ketika itu turunlah ayat 59 surat Al-Imran yang artinya: ” Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” Itu berarti jika kelahiran Nabi Isa as tanpa ayah adalah bukti ketuhanannya, maka Nabi Adam as yang ada tanpa ayah dan ibu juga harus disebut Tuhan, sedangkan tidak ada orang yang mengatakan Nabi Adam as itu Tuhan.

Nabi Isa as muncul pada era penuh kekerasan, kezaliman dan kesewenang-wenangan. Sebuah era di mana masyarakat benar-benar membutuhkan seorang pemimpin yang mampu membimbing masyarakat dan menyelamatkan mereka dari kesesatan dan derita. Nabi Isa as menyampaikan risalahnya serta mengajak masyarakat untuk bertakwa, bertauhid dan menyerukan kebenaran. Nabi Isa as telah mengalami banyak penderitaan dan pengorbanan dalam menyelamatkan Bani Israel serta memberantas penyimpangan mereka.

Nabi Isa as masuk dalam kelompok studi para ilmuwan Baitul Maqdis dan mendengar ucapan mereka serta merenunginya. Nabi Isa as mengetahui betapa masyarakat dengan mudah menerima segala ucapan yang mereka dengar dan membenarkannya. Namun Nabi Isa as tidak mampu menahan diri di hadapan kondisi seperti ini. Beliau bangkit menyuarakan pendapatnya dan bahkan mendebat pemikiran menyimpang dalam masyarakat. Sampai akhirnya sejumlah rabi Yahudi geram menyaksikan perilaku Nabi Isa as serta tidak menggubris pertanyaan beliau.

Secara perlahan-lahan, kondisi masyarakat berubah hingga akhirnya jika Nabi Isa as berbicara, perhatian masyarakat akan tertuju kepada beliau. Ini kian mempersempit medan bagi kaum batil. Karena hingga sampai saat itu, tidak ada seorang pun yang mampu menandingi atau menjawab ideologi batil mereka. Namun Nabi Isa as tidak menggubris protes mereka dan bahkan membalikkan protes tersebut kepada mereka sendiri dengan berbagai argumentasi kokoh.

Salah satu risalah Nabi Isa as adalah datangnya seorang utusan Allah Swt setelahnya bernama Ahmad yaitu Nabi Muhammas Saw. Allah Swt melalui lisan Isa as menyebutkan, “Dan ketika itu Isa bin Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israel! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah Swt untuk kalian dan aku membenarkan Taurat dan aku mengabarkan kalian tentang seorang nabi setelahku dan namanya adalah Ahmad.”

Islam sebagai agama terakhir dan resep terakhir untuk kebahagiaan hidup umat manusia, membenarkan agama langit dan tauhid serta menghormati seluruh nabi dan rasulnya.  Allah Swt dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 136 berfirman, ” Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

Al-Masih berkata, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membencimu, mintalah berkat bagi orang yang mengutukmu, dan berdoalah bagi orang yang mencacimu.” Ajaran utama Al-Masih adalah penekanan pada rahmat, cinta, kasih sayang, dan saling memaafkan. Isa as berkata, “Aku memberi perintah baru kepadamu, yaitu hendaklah kamu saling mengasihi, sama seperti aku sudah mengasihi kamu, maka kamu pun harus saling mengasihi. Melalui hal itu, semua orang akan tahu bahwa kamu adalah para pengikutku, yaitu jika kamu saling mengasihi.”

Isa Al-Masih as dari segi fisik memiliki postur tinggi sedang, putih kemerahan, dan berambut keriting. Dari segi akhlak, Nabi Isa as memiliki jiwa yang suci dan luhur. Ia lebih memilih hidup serta berdampingan dengan kaum fakir miskin dan meringankan beban kehidupan mereka. Isa as menjauhi kehidupan mewah dan kedudukan duniawi. Ia lebih memilih membantu kaum tertindas dan melindungi mereka. Pakaian yang dipakai oleh Isa terbuat dari bulu domba yang sangat sederhana dan kasar. Nabi Isa as menghiasi lembaran kehidupannya dengan tafakur dan ibadah.

Imam Ali as dalam sebuah ucapan tentang sifat Nabi Isa as berkata, “Jika kalian ingin aku berbicara tentang Isa ibnu Maryam. Ia tidur berbantalkan batu, mengenakan pakaian berbahan kasar, memakan makanan yang keras (tanpa kuah) dan kuahnya adalah kelaparan. Ia tidak memiliki istri yang membuatnya tersibukkan, anak yang membuatnya bersedih, harta yang menjadikan hatinya lalai, dan makanan untuk disimpan. Tunggangan Isa adalah kedua kakinya dan pelayannya adalah kedua tangannya.”

Isa Al-Masih as termasuk salah satu di antara para nabi ulul azmi, di mana mereka menjadi teladan utama dalam sifat-sifat seperti, ketakwaan, kesabaran, dan pemaaf. Meskipun para musuh menuduh Nabi Isa as sebagai dukun dan tukang sihir, tapi hinaan musuh tidak pernah membuatnya ragu tentang kebenaran risalahnya. Isa as cukup aktif dalam melawan orang-orang zalim dan memprotes keras kerusakan moral para ulama Yahudi. Ia berkali-kali menyebut ulama Yahudi terlibat korupsi, memakan harta haram, dan bermoral rendah.

Nabi Isa as selalu dalam perjalanan untuk menyampaikan dakwah dan memberi nasehat kepada masyarakat dalam bentuk kiasan. Ia menekankan ajaran tauhid dan pengesaan Tuhan, serta menekankan akhlak di samping persoalan penegakan hak-hak masyarakat dan keadilan. Al-Masih adalah penerus risalah para nabi terdahulu dan penyempurna pandangan dunia dan ideologi mereka. Isa berkata, “Aku tidak diutus untuk menghapus hukum-hukum Taurat, tapi aku diutus untuk menyempurnakannya.”

Isa Al-Masih as adalah seorang utusan langit, di mana ucapan dan perilakunya sesuai dengan para pendahulunya dan juga nabi yang datang sesudahnya. Ajaran Isa as adalah membenarkan ucapan para nabi terdahulu dan menyampaikan kembali pesan-pesan mereka. Di samping itu, Isa as juga mempersiapkan kondisi untuk kemunculan penghulu para nabi.

Hari kelahiran Al-Masih dan para nabi lainnya menjadi kesempatan bagi para pengikut agama samawi untuk merenungkan kembali ajaran kolektif para utusan Tuhan. Tak diragukan lagi, jika Nabi Isa as saat ini berada di tengah-tengah kita, maka ia tidak akan tinggal diam menyaksikan kezaliman.

Sumber: Pars Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *