Tanya Jawab

Membangun Keluarga Qur’ani 1

Pertanyaan: Bagaimana cara menciptakan keluarga Qurani?

Jawaban:

Ketika seseorang ingin membangun sebuah keluarga, tentunya mereka menginginkan terbentuknya keluarga yang Islami dan didasarkan nilai-nilai ke-Islaman yang kental. Keluarga-keluarga yang telah lama terbentukpun tentunya selalu menginginkan keluarga mereka sesuai dengan prinsip-prinsip al-Quran.  Keluarga merupakan sebuah pondasi dan institusi yang paling dicintai dalam Islam. Keluarga adalah pusat perkumpulan dan poros untuk melestarikan tradisi-tradisi serta tempat untuk menyemai kasih sayang dan emosional.

Pada dasarnya, keluarga Qurani sukar diukur karena merupakan satu perkara yang abstrak dan hanya boleh ditentukan oleh pasangan yang berumahtangga. Namun, terdapat beberapa ciri-ciri keluarga Qurani, diantaranya

1. Rumah Tangga didirikan berlandaskan Al-Quran dan Sunnah

Asas yang paling penting dalam pembentukan sebuah keluarga Qurani ialah rumah tangga yang dibina atas landasan taqwa, berpandukan Al-Quran dan Sunnah dan bukannya atas dasar cinta semata-mata. Ia menjadi panduan kepada suami istri sekiranya menghadapi perbagai masalah yang akan timbul dalam kehidupan berumahtangga.

Firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa’ ayat 59 :“Kemudian jika kamu selisih faham / pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasulullah (Sunnah)”

2. Rumah Tangga berasaskan kasih sayang (Mawaddah Warahmah)

Tanpa ‘al-mawaddah’ dan ‘al-Rahmah’, masyarakat tidak akan dapat hidup dengan tenang dan aman terutamanya dalam institusi kekeluargaan. Dua perkara ini sangat-sangat diperlukan kerana sifat kasih sayang yang wujud dalam sebuah rumah tangga dapat melahirkan sebuah masyarakat yang bahagia, saling menghormati, saling mempercayai dan tolong-menolong. Tanpa kasih sayang, perkawinan akan hancur, kebahagiaan hanya akan menjadi angan-angan saja.

3. Mengetahui peraturan berumah tangga

Setiap keluarga seharusnya mempunyai peraturan yang patut dipatuhi oleh setiap ahlinya yang mana seorang istri wajib taat kepada suami dengan tidak keluar rumah melainkan setelah mendapat izin, tidak menyanggah pendapat suami walaupun si istri merasakan dirinya betul selama suami tidak melanggar syariat, dan tidak menceritakan hal rumahtangga kepada orang lain. Anak pula wajib taat kepada kedua orangtuanya selama perintah keduanya tidak bertentangan dengan larangan Allah.

Lain pula peranan sebagai seorang suami. Suami merupakan ketua keluarga dan mempunyai tanggung jawab memastikan setiap ahli keluarganya untuk mematuhi peraturan dan memainkan peranan masing-masing dalam keluarga supaya sebuah keluarga Qurani dapat dibentuk. Pada dasarnya melakukan peraturan rumah tangga merupakan perekat keluarga. Akan tercipta hubungan hak-hak dan kewajiban antara anggota keluarga.

Firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa’ ayat 34:

Kaum laki-laki itu adalah pengayom bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka)”

4. Kedua orang tua adalah poros dalam keluarga

Kedua orang tua sebagai poros keluarga mendapat perhatian dan perlakuan khusus dalam Islam. Al-Quran setelah memberi perintah menyembah Allah Swt dan larangan menyekutukan-Nya, juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.

Dalam surat An-Nisaa’ ayat 36, Allah Swt berfirman:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” Surat Al-An’am ayat 151 menyebutkan, “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” Sementara surat Al-Israa’ menyatakan, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Seorang mufassir besar Islam, Allamah Thabathabai ketika menafsirkan ayat 151 surat Al-An’am dalam tafsir al-Mizan menulis, ayat ini menunjukkan bahwa durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa yang paling besar setelah menyekutukan Allah Swt, sebab kelestarian generasi umat manusia tergantung pada eksistensi keluarga yang dibangun atas dasar mawaddah dan rahmah. Dengan melemahnya pilar-pilar keluarga, masyarakat yang terdiri dari individu-individu tidak lagi memiliki kekerabatan di antara mereka dan juga hubungan kasih sayang. Pada akhirnya, masyarakat akan tercerai-berai dan kebahagiaan dunia dan akhirat mereka akan binasa. Semoga Allah Swt selalu memberikan taufik dan karunianya kepada kita semua sehingga kita bisa mewujudkan keluarga Qurani dalam keluarga kita masing-masing. Amin. [ZB]

 

2 thoughts on “Membangun Keluarga Qur’ani 1

  1. Salam,,
    Suatu awal yg baik dimana ciri ciri keluarga yg Qur ani disampaikan disini.
    Mamun akan lebih baik lagi bila juga disampaikan bagaimana cara untuk mencapai keluarga Qur ani tersebut bisa diraih. Umpama untuk mencapai memerlukan beberapa perangkat seperti:
    1. Adanya kitab suci di rumah beserta terjemahan dan tafsir,
    2. Adanya buku hadist hadist Nabi,
    3. Adanya ulama sebagai kepanjangan tangan Rahbar yang mudah di mintai pendapat untuk solving problem kehidupan, membantu untuk memahami ayat Al quran.
    4. Dibentuk forum bertemuan keluarga yg semi formal antara bpk istri dan anak2 plus pembantu bila memang punya pembantu rumah tangga . Dalam rangka memberi pemahaman yang benar tentang aturan suatu kehidupan sehari hari yang hrs dijalani menurut Al Qur an dan sunnah.
    5. Menghadiri event event penting yg menumbuhkan semangat untuk mengabdi pada Agama Allah, semangat untuk mengamalkan Al quran dan menumbuhkan rasa malu bila kedahuluan teman lain dalam mengamalkan Alquran
    Demikian sekedar usulan dari saya semoga ada usulan lain yang lebih baik sehingga bisa saling melengkapi demi tatanan masyarakat yg diridhoi oleh Allah swt, Allahuma sholi alla Muhammad wa ali Muhammad.
    Wass,
    Pramu
    CILEGON, 082137999997

    1. Salam. Terimakasih atas masukannya. Intinya keluarga Qurani adalah bentuk keluarga yang sangat ideal yang dibangun berlandaskan Al-Quran dan Sunnah demi tercapainya kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat. Amalan praktisnya bisa dengan yang sudah antum sebutkan..Insya Allah akan kami lanjutkan postingan selanjutnya dengan membahas cara menggapai keluarga Qurani sehingga pembahasannya akan lebih lengkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *