Ahlulbait

Menjadi Pengikut Sejati Ahlulbait

ICC Jakarta – “Hai Jabir! Apakah seseorang yang mengklaim dirinya sebagai pengikut kami, baginya cukup hanya mengklaim dan mengatakan demikian, “Aku adalah pecinta keluarga Rasulullah”? Demi Allah! Bukan pengikut kami kecuali orang yang bertakwa dan menaati perintah Allah. Kenalilah para pengikut kami dengan sifat berikut ini:

1. Tawadhu.

2. Beramanat.

3. Banyak mengingat Allah.

4. Ahli salat dan puasa.

5. Menghormati ayah dan ibunya.

6. Mengasihi para tetangganya yang membutuhkan, orang yang punya hutang dan anak-anak yatim.

7. Jujur, membaca al-Quran dan tidak membuka mulutnya terkait orang lain selain hanya menyebutkan kebaikannya.

8. Dalam segala urusan ia sebagai orang yang bisa dipercaya dan berperilaku baik bagi keluarganya.

Bertakwalah! Berusahalah untuk mendapatkan pahala ilahi! Tidak ada hubungan kekeluargaan antara Allah dan siapapun. Hamba-hamba Allah yang paling tercinta adalah mereka yang bertakwa dan menaati Allah.

Hai Jabir! Demi Allah! Seseorang tidak akan mendekatkan diri kepada Allah, kecuali dengan pengetahuan, dengan wilayah dan kecintaan pada kami melalui amal dan ketakwaan.”

Biarawan Kristen Yang Masuk Islam

Imam Baqir bersama putra sulungnya diasingkan dari Madinah ke Syam oleh Hisyam. Suatu hari ketika beliau berjalan, melihat banyak orang. Beliau bertanya, “Siapakah mereka dan untuk apa mereka berkumpul?”

Dikatakan, “Mereka adalah para pendeta Kristen. Setiap tahun di hari ini mereka selalu berkumpul di sini dan menziarahi seorang biarawan tua yang tempat peribadatannya ada di atas gunung ini dan menyampaikan pertanyaan kepadanya. Kemudian kembali ke rumahnya masing-masing.”

Imam Baqir as menutupi wajahnya dengan kain supaya orang lain tidak mengenalinya dan pergi ke menemui biarawan itu bersama mereka.

Para pendeta menghamparkan karpet merah yang dibawanya dan menyediakan tempat duduk untuk biarawan itu. Biarawan tua itu keluar dari tempat peribadatan dan duduk di tempat yang telah disediakan dan mereka duduk di depannya. Biarawan itu begitu tua sehingga alisnya yang sudah beruban sampai ke matanya. Dahinya diikat dengan kain sutra berwarna kuning dan menggerakkan matanya bak ular kobra. Hisyam mengirim mata-mata untuk melaporkan pertemuan Imam Baqir as dengan biarawan tua itu kepadanya. Biarawan memandang orang-orang yang hadir. Ketika dia melihat Imam Baqir as berada di antara orang-orang yang ada, antara dia dan Imam Baqir terjadi percakapan seperti ini:

Biarawan: Engkau bagian dari kami ataukah dari umat Islam?

Imam Baqir: Dari umat Islam.

Biarawan: Dari kalangan ulama Islam ataukah dari orang-orang yang buta hurufnya?

Imam Baqir: Saya bukan dari orang-orang yang buta hurufnya.

Biarawan: Apakah aku yang harus bertanya ataukah engkau?

Imam Baqir as: Bertanyalah engkau.

Biarawan: Hai orang-orang Kristen yang hadir! Aneh! Seorang lelaki dari umat Muhammad berani mengatakan, “Bertanyalah engkau. Sekarang sebaiknya aku menyampaikan beberapa pertanyaan padanya.”

Kemudian dia menghadap kepada Imam Baqir dan melanjutkan ucapannya:

1. Katakan padaku sehingga aku tahu; Waktu yang bukan malam dan juga bukan siang. Waktu apakah itu?

Imam Baqir as: Waktu itu adalah antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari.

2. Katakan sehingga aku tahu; waktu ini bukan siang, juga bukan malam, lalu waktu apa?

Imam Baqir: waktu itu adalah bagian dari waktu surga. Orang-orang yang sakit di waktu itu mendapatkan kesembuhan dan rasa sakit akan tenang.

Biarawan: Engkau benar.

3. Katakan padaku sehingga aku tahu; bila penghuni surga makan dan minum tapi tidak buang air kecil juga tidak buang air besar, apakah di dunia juga ada contoh semacam ini?

Imam Baqir: Iya, seperti janin yang ada di dalam rahim ibunya. Dia makan tapi tidak ada sesuatu yang terpisah darinya.

Biarawan: Engkau benar.

4. Katakan kepadaku; dikatakan bahwa di surga meski buah-buah dan makanan yang ada di sana dimakan, tidak akan ada yang berkurang darinya. Apakah ada contohnya di dunia?

Imam Baqir as: Contohnya adalah lentera dimana bila ribuan lentera dinyalakan pelitanya, maka cahayanya tidak akan berkurang.

5. Katakan padaku supaya aku tahu; siapakah dua saudara yang dalam satu waktu lahir dari ibunya sebagai anak kembar dan keduanya mati pada saat yang sama, tapi satu darinya berumur lima puluh tahun dan yang satunya berumur seratus lima puluh tahun?

Imam Baqir as: Dua saudara itu adalah Aziz dan Uzair; saudara kembar yang lahir dalam satu waktu dan mati bersama-sama dalam satu waktu juga. Allah telah mengambil ruh Uzair dan selama seratus tahun sebagai orang yang mati, kemudian ia dihidupkan kembali dan hidup bersama saudaranya selama dua puluh tahun, kemudian mati barengan dalam satu waktu. Kesimpulannya, Uzair berumur lima puluh tahun, tapi Aziz berumur lima puluh tahun.

Pada saat itu biarawan bangkit dari tempatnya dan berkata kepada orang-orang yang hadir:

“Kalian telah mendatangkan orang yang lebih pandai dari aku, supaya kalian mempermalukan aku. Demi Allah! Selama lelaki ini [Imam Baqir as] berada di Syam, aku tidak akan berbicara dengan kalian. Tanyakan apa saja kepadanya yang kalian maukan.”

Diriwayatkan bahwa ketika malam tiba, biarawan itu mendatangi Imam Baqir as dan dia menyaksikan sebuah mukjizat dan di situ juga dia masuk Islam. Ketika kabar menakjubkan ini sampai di telinga Hisyam, dan kabar dialog Imam Baqir dengan biarawan menyebar di Syam dan ilmu serta kesempurnaan Imam Baqir telah tampak di Syam, Hisyam merasa terancam. Ia mengirim hadiah untuk Imam Baqir as dan beliau dikembalikan ke Madinah. Dia [Hisyam] juga mengutus beberapa orang terlebih dahulu untuk mengumumkan kepada masyarakat bahwa jangan ada seseorang bertemu dengan dua putra Abu Turab [Imam Ali as]; Baqir dan Ja’far karena keduanya adalah tukang sihir. Aku meminta keduanya untuk ke Syam, tapi mereka cenderung kepada agama orang-orang Kristen. Barang siapa yang menjual sesuatu kepada keduanya atau mengucapkan salam, maka darahnya layak untuk ditumpahkan. [ZB]

Sumber: Parstoday

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *