Opini

Wahai dunia, tipulah orang lain selain aku

ICC Jakarta – Keberadaan Imam Ali As dari berbagai sisi dan dimensi dan dalam berbagai situasi dan kondisi, merupakan suatu pelajaran yang kekal abadi dan tidak pernah terlupakan bagi seluruh generasi manusia; baik dalam perbuatan yang bersifat individual dan perorangannya, di mihrab ibadahnya, munajatnya, kezuhudannya, tenggelam dan kefanaannya dalam mengingat Allah Swt, serta perjuangannya dalam melawan hawa nafsu, setan dan berbagai dorongan yang bersifat material.

Kalimat yang diucapkan secara langsung oleh Amirul Mukminin di tengah alam penciptaan dan alam kehidupan manusia ini adalah senantiasa berbobot dan penuh makna: يَا دُنْيَا… غُرِّي غَيْرِي “Wahai dunia… tipulah orang lain selainku”, wahai berbagai gemerlap dunia, wahai berbagai keindahan yang amat memikat, wahai nafsu yang mampu membelenggu manusia yang amat kuat, pergilah kepada orang lain selain Ali dan tipulah dia; Ali lebih agung, lebih tinggi dari semua itu. Dengan demikian, setiap manusia yang sadar dan tercerahkan akan menemukan berbagai pelajaran yang tidak terlupakan pada detik per detik dari kehidupan Amirul Mukminin dan pada hubungannya dengan Allah serta spiritual.
Pada sisi lain, jihad dan perjuangannya adalah demi menegakkan hak dan keadilan. Pada hari saat Nabi mulia—salawat dan salam Allah atasnya dan keluarganya—mengemban tugas risalah (kerasulan), pada hari itu ada seorang remaja yang berada di sisi beliau, seorang pejuang dan mujahid yang siap berkorban; dia adalah Ali. Bahkan, hingga saat-saat terakhir dari kehidupan Nabi yang penuh berkah, Amirul Mukminin tidak pernah menghentikan perjuangan demi menegakkan pemerintahan Islam dan menjaganya. Betapa besar perjuangannya, betapa banyak bahaya yang dihadapinya dengan siap mengorbankan nyawa, betapa tegar dalam berjuang demi menegakkan hak dan keadilan. Ketika tidak ada seorang pun yang berdiri di tengah medan laga, dia pun tetap berdiri dengan tegar. Ketika tidak ada seorang pun yang bersedia maju ke medan pertempuran, dia pun maju ke medan pertempuran. Ketika berbagai kesulitan bagaikan gunung yang berat membebani pundak para pejuang di jalan Allah, ketegarannyalah yang membuat orang-orang menjadi penuh semangat. Baginya, inilah makna kehidupan itu, berbagai kemampuannya yang merupakan karunia Allah, kekuatan jasmani, rohani, semangat, dan semua yang ada padanya, dipergunakan untuk meninggikan kalimat hak dan menghidupkan hak.
Jika pada hari ini Anda menyaksikan orang-orang yang berakal menyuarakan hak, keadilan, kemanusiaan dan berbagai nilai-nilai lainnya, dan hari demi hari nilai-nilai ini semakin bertambah kuat dan kokoh, maka ketahuilah bahwa semua itu adalah berkat perjuangan dan pengorbanan tersebut. Jika bukan karena keberadaan seorang seperti Ali bin Abi Thalib—yang di sepanjang sejarah umat manusia adalah cukup langka—pada hari ini tidak akan dijumpai nilai-nilai kemanusiaan; perkara-perkara indah yang sangat baik bagi umat manusia, menjadi tidak indah dan tidak menarik. Manusia, tidak memiliki kehidupan, kebudayaan, peradaban, tujuan, harapan, nilai-nilai dan cita-cita tinggi; manusia berubah menjadi sekumpulan hewan buas. Manusia itu menjadi manusia adalah berkat menjaga dan memelihara nilai-nilai tinggi yang merupakan peninggalan Amirul Mukminin, dan peninggalan para pribadi mulia yang sejajar denganya. Berbagai perjuangan itu, memiliki berbagai pengaruh semacam ini.
Sisi lain dari kehidupan Amirul Mukminin adalah keberadaan beliau di tengah arena pemerintahan. Ketika manusia agung ini dan berpikiran agung ini, memegang kendali kekuasaan dan pemerintahan, pada masa singkat tersebut, beliau melakukan suatu pekerjaan yang jika para penulis, sejarawan, dan ilmuwan, hendak menggambarkan kenyataan yang ada dengan menulis selama bertahun-tahun, maka gambaran dan tulisan mereka masih kurang sempurna. Kehidupan Amirul Mukminin pada masa pemerintahan, adalah suatu kebangkitan. Ali benar-benar mengubah pengertian pemerintahan.
Dia adalah wujud nyata dari pemerintahan Ilahi, dia adalah wujud nyata dari ayat-ayat al-Quran di tengah kaum muslim. Dia adalah wujud nyata dari,
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka (QS. al-Fath[48:29). Dia adalah wujud nyata dari keadilan mutlak. Dia mendekati fakir miskin, كَانَ يَقْرَبُ الْمَسَاكِيْنَ dan memberi perhatian khusus kepada orang-orang lemah.
Orang-orang yang menyombongkan diri dengan memamerkan uang, kekuatan dan berbagai sarana lainnya, menurut pandangan Ali semua itu adalah sama dengan tanah. Sesuatu yang memiliki nilai dalam di mata dan hatinya adalah iman, takwa, ikhlas, jihad, dan kemanusiaan. Ya hakekat manusia ada pada sisi ruhiyah dan batinnya bukan pada jasmani dan penampilan lahirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *