Konsultasi Syariah

Hukum Berpura-pura Masuk Islam untuk Menikah

Bagaimana seandainya ada seorang laki-laki Kristen pura-pura masuk Islam hanya karena ingin menikah dengan wanita Muslim?

 

Jawaban:

Sesuai asumsi pertanyaan, apabila ia mengucapkan kalimat syahadat melalui lisannya dan kita tidak tahu, apakah ia beriman atau tidak terhadap apa yang diucapkannya itu maka ia dihukumi sebagai Muslim dan pernikahan yang dilangsungkan itu sah. Namun apabila kita yakin bahwa ia berdusta atas apa yang dikatakannya maka akad yang dilansungkan itu batal dan tidak sah.

 

Lampiran:

Jawaban Marja Agung Taklid terkait dengan pertanyaan ini:

Ayatullah Agung Khamenei (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):
Apabila tidak ada pengetahuan atas apa yang diucapkannya itu, secara lahir dua kalimat syahadat yang disampaikannya itu sudah mencukupi. Kalau tidak (ada pengetahuan tentang apa yang diucapakannya itu) berdasarkan prinsip ihtiyath tidak mencukupi dan hukum-hukum Islam tidak berlaku atasnya.

 

 

Ayatullah Agung Shafi Gulpaigani (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):
Apabila ia menyatakan Islam secara lahir dan tidak ada pengetahuan tentang perkataan dustanya maka tidak ada halangan baginya untuk menikah.

 

 

 

 

Ayatullah Agung Makarim Syirazi (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):
 Sesuai dengan asumsi pertanyaan, apabila ia menyatakan dua kalimat syahadat dan diyakini bahwa ia tidak beriman atas apa yang dinyatakan itu maka akad yang dilangsungkan itu tidak sah.

 

 

 

Ayatullah Nuri Hamadani ((Mudda Zhilluhu al-‘Ali):
    Mengucapkan dua kalimat syahadat adalah bukti bahwa ia telah memeluk  Islam dan hak-haknya terjaga. Namun apabila diketahui bahwa dua kalimat syahadat yang disampaikan itu hanyalah pura-pura maka hukum Islam tidak berlaku baginya.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *