Akhlak

Seruan Akal Untuk Berbuat Baik

ICC Jakarta – Para ulama dan pakar agama mengatakan bahwa salah satu kunci kelestarian Islam adalah karena agama ini menyeru dan menggiring umat manusia kepada hal yang diinginkan oleh akal yang sehat. Akal tentunya menghendaki nilai-nilai etika dan norma yang diantaranya adalah perbuatan baik kepada masyarakat umum. Hal itu pula yang ditekankan berulang kali di dalam kitab suci al-Quran. Di ayat 26 surat Yunus Allah Swt berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.”

Secara alamiah manusia menyenangi orang yang berbuat baik dan menjauhi orang yang berbuat jahat. Perbuatan buruk seseorang dan penyimpangan yang dilakukannya muncul dari perangi buruk pada dirinya. Artinya, perangai buruk mencegah orang untuk berbuat baik kepada orang lain atau menghargai kebaikan orang lain.

Perbuatan baik ada banyak bentuknya. Singkatnya semua bentuk yang memberikan keuntungan kepada orang lain, membantu kemajuan dan pendidikan, serta memenuhi kebutuhannya masuk ke dalam kategori perbuatan baik kepada orang lain. Dikisahkan bahwa suatu hari seorang hamba sahaya menghadiahkan setangkai bunga kepada Imam Hasan Mujtaba as. Sebagai balasannya, beliau memerdekakan hamba sahaya itu. Orang-orang yang bersama Imam bertanya dengan keheranan, apakah setangkai bunga mesti dibalas dengan balasan yang sangat besar seperti itu? Imam Mujtaba as membawakan ayat ke 86 surat al-Nisa dalam menjawab keheranan mereka. “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.”

Prinsip mengapresiasi dan menyampaikan penghargaan adalah salah satu metode manajemen yang diakui saat ini. Menurut para pakar manajemen, menghargai perbuatan baik adalah salah satu modus manajemen yang sukses. Cara itu dapat memacu etos kerja. Memberi penghargaan kepada perbuatan yang baik akan mendorong sosialsi perbuatan baik di tengah masyarakat. Imam Ali as dalam sebuah riwayat menjelaskan, faedah menghargai kebajikan untuk orang lain seraya menyinggung dua dimensi kejiwaannya. Kepada sahabatnya yang setia bernama Malik Asytar, beliau mengingatkan, “Pujilah selalu orang-orang yang ikut mengabdi dalam pemerintahanmu baik tentara maupun sipil. Berterima kasihlah kepada mereka. Ungkap dan jelaskan kepada umum pekerjaan baik yang mereka lakukan. Membalas kebaikan orang akan menghasilkan dua hal. Pertama, dengan itu engkau mendorong orang-orang yang punya keberanian untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Sebab, penghargaanmu membuat mereka terpacu untuk melanjutkan pekerjaan itu. Kedua, dengan penghargaanmu engkau menggugah hati orang-orang yang tidak peduli akan masalah-masalah ini untuk terpacu melakukan pekerjaan yang baik.

Di bagian lain Risalatul Huquq Imam Sajjad as menjelaskan hak orang yang berbuat kebajikan dan mendorong kita untuk menghargainya.  Beliau berkata, “Hak orang yang berbuat baik kepadamu adalah bahwa engkau harus berterima kasih kepadanya dan selalu mengingat kebaikannya. Dengan kata-kata yang baik harumkan namanya dengan kebaikan dan saat berdoa ingatlah ia dengan tulus di hadapan Tuhanmu. Jika itu kau lakukan berarti kau telah melaksanakan kewajibanmu untuk berterima kasih secara terbuka maupun sembunyi. Jika memungkinkan maka balaslah kebaikannya dengan tindakan, jika tidak maka nantikan saat untuk membalas kebaikannya.

Dalam penjelasan Imam Sajjad as menyebut balasan kebaikan lewat tindakan, berdoa, dan menyebarkan namanya dengan baik sebagai hak orang yang telah melakukan kebaikan kepada kita. Imam juga mengimbau kita untuk menghargai nilai perbuatan baik. Sebab, orang yang baik adalah orang yang bisa menghargai kebaikan dan orang yang melakukan kebaikan itu. Dengan demikian ia bisa membalas kebaikan tersebut.

Salah satu hal yang ditekankan dalam masalah hak orang yang berbuat baik adalah hak para duta kebenaran yang para utusan Allah yang datang membimbing kita ke jalan yang benar. Dengan rahmat dan kemurahan-Nya, Allah memilih insan-insan terbaik sebagai duta dengan mengamanatkan kenabian dan risalah kepada mereka. Mereka mendapat tugas untuk mengajak dan membimbing umat manusia kepada kebenaran dan menyelamatkan mereka dari kebodohan dan kezaliman. Para duta Ilahi itu melaksanakan titah Allah tersebut tanpa pamrih. Dengan hikmah, makriofat dan akhlak yang mulia mereka menebar benih spiritualitas, akhlak dan ilmu di tengah umat serta mendidik dan menyucikan manusia. Karena itulah mereka memiliki hak yang amat besar di pundak semua orang.

Ketika Nabi Muhammad Saw tiba di Madinah lalu menegakkan sendi-sendi pemerintahan Islam di sana, kaum Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah mengumumkan akan menghadiahkan harta mereka sebagai hadiah bagi Nabi atas jerih payah beliau dalam berdakwah. Harta itu bisa dimanfaatkan untuk mengarasi kesulitan masyarakat. Meski demikian, Allah Swt menjawab hal itu dengan firman-Nya di surat al-Shura ayat 23 yang artinya, “[Wahai Nabi] katakankah bahwa aku tidak mengharapkan upah dari kalian kecuali kecintaan kalian kepada keluargaku?

Tak diragukan bahwa  membimbing umat manusia di jalan kebahagiaan adalah kebaikan tertinggi bagi umat. Menurut para mufassir Quran, kecintaan kepada Ahlul Bait yang dinyatakan dalam ayat tadi sebagai bentuk balasan atas kebaikan Nabi Muhammad Saw disebabkan karena Ahlul Bait adalah insan-insan yang melanjutkan jejak Nabi Saw. Mereka mirip dengan Rasulullah yang mengajak umat manusia kepada kebenaran dan mengajarkan budi pekerti luhur serta menyebarkan ilmu dan makrifat.

Source: Pars Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *