Tokoh

Mengenal Rahbar: Aktivitas Politik Setelah Kemenangan Revolusi Islam Iran

ICC Jakarta – Setelah membincangkan tentang latar belakang, aktivitas belajar mengajarnya dan aktivitas politik pada masa sebelum kemenangan revolusi Islam Iran, kini kita akan menguraikan tentang aktivitas-aktivitas politik rahbar setelah kemenangan revolusi Islam Iran.

Keanggotaan di Dewan Syuro Inqilab

Setelah Imam Khomeini diungsikan ke Perancis, atas usulan Sayid Ali terbentuklah Syura-e Inqilab pada tahun 1977 dan anggotanya secara bertahap dipilih oleh Imam Khomeini. Anggota-anggota pertama dari lembaga ini adalah Syahid Muthahhari, Syahid Behesyti, Sayid Abdul Karim Musawi Ardabili, Mahdawi Kani, Sayid Ali Khamenei, Muhammad Jawad Bahonar dan Akbar Hasyemi Rafsanjani.

Lembaga tersebut dimasa-masa itu memiliki peran mengambil keputusan-keputusan penting berkenaan dengan perlawanan terhadap rezim syah, diantaranya: mengadakan pembicaraan dengan para pejabat pemerintahan Pahlevi serta para pejabat luar negeri, membentuk komite penyambutan Imam Khomeini dan memperkenalkan Mahdi Bazarghan sebagai pemimpin pemerintahan sementara kepada Imam Khomeini.

Sementara tanggung jawab yang diemban oleh lembaga ini setelah terjadi revolusi antara lain adalah: Merumuskan undang-undang dimasa absennya lembaga legistatif, melaksanakan sebagian dari tugas lembaga eksekutif setelah terbentuknya pemerintahan sementara dan Syura-e Inqilab ini pada  tahun 1978 melaksanakan seluruh tugas eksekutif setelah pengunduran diri sementara pada tanggal 5 November 1979. Ayatullah Khamenei menjadi anggota tetap sampai akhir masa aktifitas lembaga ini pada tanggal 20 Juli 1980.

Beliau berkeyakinan bahwa lembaga Syura-e Inqilab harus terdiri dari perwakilan seluruh lapisan masyarakat yang majemuk.

Masalah-masalah berkenaan dengan Kurdi, Sistan Balujistan dan daerah-daerah lain di negara Iran serta pentingnya menjaga kesatuan, merupakan tugas-tugas penting lain yang harus jadi prioritas dalam lembaga Syura-e Inqilab.

Hadir di Lembaga-lembaga Pertahan dan Militer

Di akhir bulan Juli tahun 1979 Ayatullah Khamenei terpilih sebagai wakil urusan-urusan revolusi menteri pertahanan juga sebagai anggota di komisi para menteri keamanan yang bertugas sebagai penanggung jawab seluruh urusan-urusan militer, kepolisian dan keamanan.  Tugas-tugas lain yang beliau emban dari pihak Syura-e Inqilab adalah bertanggung jawab pusat dokumentasi dan ketua Militer Sepah Pasdaran revolusi Islam pada tanggal  24 November 1978 dan pada tanggal 24 Februari 1980 beliau mengundurkan diri dari ketua Militer Sepah Pasdaran karena dia mencalonkan diri dalam pemilu tahap pertama Majelis Syura Islami.

Pembentukan Partai Jumhuri

Mulai dari masa-masa menjelang kemenangan revolusi Islam dan sampai setelahnya,  Ayatullah Khamenei banyak melakukan aktifitas pembentukan komunitas revolusi bersama Sayid Muhammad Huseini Beheshti, Akbar Hashemi Rafsanjani, Sayid Abdul Karim Musawi Ardebili dan Muhammad Jawad Bahonar.  Komunitas ini dinamakan dengan partai Jumhuri Islami yang secara resmi dideklarasikan pada tanggal 18 Februari 1979. sementara latar belakang pembentukannya dimulai dari pertemuan-pertemuan di Masyhad pada musim panas tahun 1977.

Dia termasuk orang yang merumuskan anggaran dasar partai dan dalam pembagian devisi, dia bertanggung jawab dalam bidang dakwah partai. Ayatullah Khamenei menduduki anggota dewan pendiri dan anggota dewan syuro pusat partai, secara keseluruhan di masa-masa pendirian partai, dia banyak berperan sebagai pemberi arahan dan menjelaskan posisi partai dalam bentuk lisan ke seluruh hauzah. Dia juga berperan dalam pembentukan cabang partai di kota Masyhad dan dia yang meresmikan kantor cabang tersebut pada tanggal 20 Maret 1979.

Pada bulan September tahun 1981, Ayatullah Khamenei terpilih sebagai sekjen partai Syura-e Inqilab periode ketiga setelah Ayatullah Behesyti dan Muhammad Jawad Bahonar.  Pada bulan Mei tahun 1984 dalam kongres pertama partai, dia untuk kedua kalinya terpilih sebagai sekjen partai dan juga terpilih sebagai anggota dewan syuro pusat  dan sebagai anggota dewan syuro pengadilan partai.

Selama menjabat sebagai presiden beliau selalu mengikuti pertemuan-pertemuan partai Syura-e Inqilb baik di pusat maupun di daerah dan dalam rangka menjelaskan tugas-tugas dan tujuan partai, beliau selalu memberikan jawaban terhadap pertanyan-pertanyaan dari para anggota dan kader partai baik yang ada di pusat maupun di daerah.

Menjadi Imam Jumat Tehran

Pada tanggal 14 Januari 1980. Imam Khomeini mengangkat Ayatullah Khamenei sebagai imam jumat di kota Teheran dengan melihat trend positifnya di masa lalunya dan juga karena kelayakan baik dalam ilmu maupun dalam amal.  Dia mengawali tugasnya sebagai imam shalat jum’at pada tanggal 18 Januari 1980. Semenjak itu sampai tragedi di tanggal 26 Juni 1981. dimana terjadi peristiwa teror terhadapnya di masjid Abu Dzar Teheran sehingga mengakibatkan luka yang parah dialami olehnya di bagian tangannya. Peristiwa tersebut terjadi tidak begitu lama setelah dia mengimami shalat jumat di Teheran.  Setelah kejadian itupun dia masih memegang jabatan tersebut.

Salah satu gerakannya di masa itu adalah mengajukan usulan untuk diselenggarakannya seminar para imam jum’at dengan tujuan agar terwujudnya keserasian diantara para imam jumat baik di dalam negeri maupun di dunia Islam.  Dan setelah mendapat kesepakatan Imam Khomeini diadakanlah seminar pertama yang diselenggarakan di madrasah Faidziyah kota Qom.

Perhatian kepada khotbah dengan menggunakan bahasa arab dari khotbah kedua merupakan kekhususan dalam khotbah beliau.

Perwakilan Majelis Syura-e Islami

Ayatullah Khamenei terpilih sebagai anggota majlis dalam pemilu pertama periode legislatif Majlis Syuro-e Islami pada bulan Februari 1980. dengan dukungan Jamaah Ruhaniyun-e Mubarez Teheran, partai Jumhuri Islami dan beberapa lembaga dan kelompok Islam lainnya.  Di majlis beliau menduduki anggota dan ketua komisi pertahanan.

Dengan terpilihnya sebagai presiden pada bulan September 1981 diapun mengundurkan diri menjadi legislatif.

Terluka Disebabkan Teror

Ayatullah Khamenei mengalami luka pada tanggal 26 Juli 1981 ketika sedang berceramah setelah melakukan shalat dhuhur di masjid Abu Dzar yang terletak di salah satu kawasan selatan kota Teheran, disebabkan ledakan bom yang dipasang di tape recorder. Disebabkan teror ini dia mengalami luka serius di bagian dada dan tangan kanan serta luka itupun meninggalkan cacat pada dirinya sehingga tangan kanan beliau tidak lagi berfungsi. Berdasarkan laporan, kelompok Mujahidin Khalq bertanggung jawab atas kejadian ini.

Imam Khomeini dalam pesannya yang disampaikan kepada Ayatullah Khamenei, mengutuk teror ini dan memujinya.  Pada tanggal 8 Agustus 1981 dia keluar dari rumah sakit dan kembali ke ranah sosial politik dan mulai tanggal 16 Agustus 1981 hadir di pertemuan-pertemuan Majlis Syura-e Islam. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *