Teologi

Tujuan Diutusnya Rasul – Bagian 3

ICC Jakarta – Tuhan, dalam mengutus para Nabi dan Rasul-Nya mengacu pada satu pandangan dunia universal yang agung, tujuan yang tinggi, dan faedah yang beragam  untuk memekarkan benih ilmu dan amal manusia sehingga mereka bermikraj bertemu dengan Tuhan, yakni maqam yang paling tinggi bagi maujud mumkin. Sebagian dari tujuan dan faedah kenabian di antaranya adalah:

  1. Menghakimi dan Memutuskan Perselisihan Masyarakat    

Menghakimi dan menghilangkan perselisihan di antara masyarakat, juga menjadi salah satu dari tujuan diutusnya (bi’tsah) para nabi As, firman Tuhan: “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan dan Dia menurunkan bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan….”  (Q.S. al-Baqarah [2] : 213).

Ayat yang disebutkan di atas mengandung dua poin penting: pertama, memberi kabar gembira dan peringatan, dimana keduanya ini juga merupakan tujuan dari diutusnya para (bi’tsah) nabi-nabi,  sebab motivasi dan ancaman adalah dua rukun signifikan dalam tarbiyah jiwa dan penjamin bagi keselamatan mereka. Kedua, memutuskan perkara secara benar berasaskan pengajaran kitab-kitab langit, khususnya kitab al-Qur’an; sebab dalam menghakimi manusia harus berdasarkan undang-undang yang sempurna, dan hanya kitab-kitab langit yang memiliki aturan yang universal dan sempurna.

Juga dari ayat ini dapat diketahui bahwa terdapat dua tipe pertentangan dan perselisihan dalam masyarakat manusia; pertama, perselisihan sebelum hak  (kebenaran) jelas, tipe perselisihan ini adalah natural dan tidak tercela dan memiliki kesiapan untuk sampai pada kebenaran serta realitas, dan lainnya, perselisihan sesudah hak jelas, dimana jenis perselisihan ini adalah setani dan tercela, dan menjadi wasilah fitnah serta tersembunyinya kebenaran.

  1. Mengajak kepada Kehidupan yang Lebih Baik dan Konstruktif

Wahyu dan ajaran para nabi As adalah penjamin kehidupan yang lebih baik bagi manusia, sebagaimana kita jumpai ungkapan ayat al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan (yang lebih baik)  kepadamu….” ( Q.S. al-Anfal [8] : 24).

Imam Sadiq As berkata: Hal yang menghidupkan manusia dan memberikan kepada mereka kehidupan abadi, adalah wilayah. Sementara itu Imam Baqir As berkata: Wilayah imam, Amirul mukminin Ali As dan mengikutinya akan mencegah masyarakat kamu dari ketercerai-beraian dan akan lebih menjaga tegaknya keadilan di antara kamu. ( Tafsir Nur ats-Tsaqalain, Jld. 2, Hal. 141).

Faktor terpenting kehidupan maknawi adalah keyakinan tauhid dan keyakinan ini disyaratkan dengan orbit wilayah; sebagaimana yang terdapat dalam hadis “silsilah adz-dzihab”  Ahlulbait As.

Dalam irfan teoritis, pembahasan muwahhid (orang-orang yang sampai maqam wilayah) menjadi salah satu pembahasan yang paling asas sesudah pembahasan tauhid, yakni pembahasan tajalli tâm (manifestasi sempurna) seluruh nama-nama dan sifat Tuhan dalam mazhar-Nya, yaitu insan kamil. Dengan perantara insan kamil inilah faidh (emanasi) Tuhan sampai kepada maujud-maujud (mazhar-mazhar) lainnya. Dan paling sempurnanya mazhar-mazhar Tuhan adalah para nabi dan imam-imam As (wali-wali Tuhan), yakni misdak-misdak daripada insan kamil, dan paling sempurna serta paling agung dari insan kamil ini adalah nabi Islam Muhammad Saw serta kemudian Amirul Mukminin Ali As, orang yang paling dekat kepada Rasulullah Saw dari dimensi maqam batin dan lahir dan sebagai pemilik rahasia-rahasia seluruh para nabi As. ( Futuhat Makkiyyah, Jld. 1, Bab. 6, Hal. 169)

Para nabi dan wali Tuhan inilah yang memimpin kafilah-kafilah ruhani menuju kedekatan kepada Tuhan dan memberi kehidupan maknawi sebagai sebuah bentuk kehidupan yang lebih baik dan konstruktif bagi umat manusia.

3.   Mengingatkan Nikmat-nikmat Tuhan

Allah Swt, dalam berbagai ayat al-Qur’an menyebutkan bahwa salah satu dari misi kenabian mengingatkan manusia kepada nikmat-nikmat Ilahi. Di antara ayat-ayat itu adalah: “…Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung.” Q.S. al-A’raf [7] : 69. “…Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi.” ( Q.S. al-A’raf [7] : 74). 

Membahas tujuan pengutusan (bi’tsah) terkadang matlab yang diutarakan secara langsung berkenaan tujuan inti dari risalah kenabian dan terkadang di samping meneliti tugas dan program para utusan Tuhan itu, juga diutarakan matlab yang berhubungan dengan tugas asli dan perintah resmi bagi mereka; dan masalah mengingatkan manusia pada nikmat-nikmat Tuhan ini termasuk pada kategori yang kedua.[]

Source: Wisdom4all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *