Teologi

Mengkaji Ajaran Nabi, Jalan Untuk Mengenal Ajaran Samawi

ICC Jakarta – Diantara jalan-jalan untuk mengenal kenabian adalah dengan meneliti dan mengkaji ajaran-ajaran Rasul. Melalui jalan menelaah dan mengkaji teks-teks akidah dan undang-undang moralitas agama tersebut. Jika akidah yang ditawarkan memiliki beberapa ciri antara lain: sesuai dengan akal bukan khayalan dan takhayul, memberikan problem-problem moral-sosial masyarakat, menganjurkan akhlak dan perilaku yang baik dan melarang kerusakan-kerusakan sosial dan moral maka agama itu adalah hak dan samawi. Pembawanya berasal dari sisi Allah dan ia adalah seorang nabi Allah yang nyata.

Namun jika yang terjadi sebaliknya, maka pengaku nabi itu pastilah seorang pembohong dan agamanya batil dan tak bermakna.

Sebagian Muslim menerima Islam dengan jalan ini. Setelah menelaah dan merenungi akidah dan undang-undang Islam mereka sampai pada suatu kesimpulan bahwa penyampaian dan penyusunan akidah tersebut seratus persen benar dan sempurna tidak mungkin disusun oleh seorang manusia. Ia tentulah dari Tuhan yang disampaikan pada masyarakat terbelakang di pusat pemujaan berhala dan kebejatan moral di Jazirah Arab.

Permisalan tentang kebenaran ajaran agama Islam adalah ketika  ‘Amr bin ‘Anbasah mengatakan “Pada awal bi’tsah di Mekkah aku mendatangi Rasulullah Saw yang sedang melakukan dakwah. Aku bertanya ke padanya ‘Siapa Anda?

‘Aku seorang rasul ‘ jawabnya.

‘Rasul siapa?’ tanyaku.
‘Rasulullah!’
‘Benarkah Allah mengutus Anda?’

‘Ya.’

‘Untuk apa?’

Ia menjawab ‘Agar kamu hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Dan agar kamu meng hancur kan berhala serta menjalin hubungan baik dengan keluargamu.’

‘Dia mengutus Anda untuk perkara-perkara yang baik’ tambahku.”

‘Amr mengatakan “Aku masuk Islam karena mendengar perkataan ini.”

Kisah lain terjadi pada tahun kelima bi’tsah sebagian Muslim merasa lelah karena siksaan dan gangguan para musuh. Untuk menjaga jiwa dan agama mereka terpaksa mereka hijrah ke Habasyah. Tidak lama kemudian kaum Quraisy mengirim dua orang delegasi ke Habasyah dengan membawa banyak hadiah dengan tujuan agar raja Habasyah menahan dan mendeportasi kaum Mus lim yang lari itu ke Mekkah. De-legasi (Quraisy) itu datang menemui Raja Najasyi dan menjelaskan maksud dan perkara mereka. Raja Najasyi memanggil pengungsi Muslim itu dan bertanya “Agama apakah yang menyebabkan Anda meninggalkan ajaran ayah-ayah kalian dan tidak memeluk agama kami atau agama-agama lainnya?”

Ja’far bin Abi Thalib-jubir kaum Muslim-menjawab “Kami di masa jahiliyah menyembah berhala-berhala makan daging binatang yang haram, berbuat keburukan memutuskan tali keluarga sendiri, tidak menghormati tamu dan para penguasa kami merampas hak kaum lemah. Sampai Allah mengutus seorang nabi kepada kami yang kami kenal nasabnya dan dipercaya kejujuran amanah dan kesucian nya. Ia mengajak kepada pengesaan Tuhan (Tauhid) dan penafian kesyirikan serta meninggalkan penyembahan berhala. Ia memerintahkan kami untuk jujur dalam menunaikan amanah bersilaturahmi dengan kerabat berbuat baik kepada tetangga dan menjauhi semua dosa seperti membunuh. Ia mengajak kami mendirikan shalat dan berpuasa.”
Ja’far juga menjelaskan beberapa ajaran-ajaran dan aturan-aturan Islam lainnya. Kemudian berkata “Kami mengimani Nabi Muhammad Saw dan membenarkannya. Bagi kami apa yang dihalalkan beliau adalah halal dan apa yang diharamkan beliau adalah haram. Karena itu kami dianiaya dan disakiti oleh sahabat-sahabat kami (sendiri). Mereka menyiksa dan mendera kami dengan sewenang-wenang agar kami tinggalkan agama kami dan kembali memuja berhala. Karena mereka berkuasa kami dizalimi dan dilarang menjalankan kewajiban-kewajiban agama kami. Maka kami hijrah ke negeri Anda dan berharap di sini kami tidak teraniaya.”

Najasyi bertanya “Apakah sesuatu yang dia (Nabi) bawa dari Tuhan untuk kalian itu ada bersama kalian?”

“Ya” jawab Ja’far. Kemudian dia membacakan beberapa ayat dari surah Maryam.
Raja Najasyi dan para uskup yang hadir menangis mendengar ayat-ayat itu.

Raja Najasyi berkata “Perkataan ini dan apa yang turun kepada Isa berasal dari satu sumber yang bercahaya. Kalian bebas di negeri kami. Pergilah kemana pun yang kalian mau. Saya tidak akan pernah menyerahkan kalian kepada mereka.”

Oleh karena itu jalan menelaah dan mengkaji akidah dan hukum-hukum Islam dapat dinilai sebagai satu perantara mengenal agama yang hak. Di awal Islam dan masa sesudahnya banyak yang menjadi Islam lewat jalan ini. Di zaman ini pun sebagian para pencari kebenaran memeluk Islam melalui jalan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *