Maarif Islam

Tujuan Diutusnya Nabi Muhammad Saw

ICC Jakarta – Dalam  al-Qur’an disebutkan bahwa salah satu tujuan pengutusan nabi adalah untuk menjadi guru dan pembimbing umat dan menyelesaikan perselisihan di antara masyarakat. Allah Swt berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَ مُنْذِرِيْنَ وَ أَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ

 “Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS Al-Baqarah: 213)

Setelah hijrah dari Mekah ke Madinah, langkah pertama yang dilakukan oleh Nabi Saw adalah mengikat umat dalam ikatan persaudaraan. Beliau mendamaikan antara dua kabilah besar Madinah, yakni Aus dan Khazraj yang telah terlibat permusuhan dan perang berkepanjangan.

Al-Qur’an menceritakan hal itu:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَميعاً وَلا تَفَرَّقُوا وَ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْداءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْواناً

 “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (QS Ali Imran: 103)

Tujuan lain dari Bi’tsah Nabi Saw adalah untuk membuka peluang bagi tegaknya keadilan di tengah masyarakat.

Dalam surah al-Hadid Allah berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنا رُسُلَنا بِالْبَيِّناتِ وَ أَنْزَلْنا مَعَهُمُ الْكِتابَ وَ الْميزانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” ( QS al-Hadid: 25)

Ayat tadi menjelaskan bahwa Nabi memanfaatkan mukijzat dan argumentasi logis untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan membimbing manusia kepada pengembangan potensi akal dan pemikiran yang ada pada manusia.

Tak syak, pengutusan Nabi adalah karunia Allah yang sangat besar untuk manusia. Allah selalu memilih hambaNya yang terbaik untuk menerima risalah kenabian. Dengan bekal akhlak mulia dan ajaran Ilahi yang suci, Rasulullah Saw mengemban tugas untuk mengajak umat manusia kepada kesucian dan keindahan.

Allah Swt berfirman:

هُوَ الَّذي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِهِ وَ يُزَكِّيهِمْ وَ يُعَلِّمُهُمُ الْكِتابَ وَ الْحِكْمَةَ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.” (al-Jumu’ah: 2)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *