Mahdawiyah

Masa Imam Mahdi Afs adalah Masa Monoteisme Dan Berkeadilan

ICC Jakarta – “Penantian berarti menanti kedatangan sosok manusia yang hidup dan hakikat yang pasti. Penantian seperti ini meniscayakan beberapa hal, diantaranya persiapan diri secara spiritual dan kejiwaan serta kondisi sosial yang sesuai dengan masa yang bakal terjadi dan kondisinya yang istimewa.”

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan para ulama, cendekiawan, penulis dan alumnus program ‘Mahdawiyah’ menyebut ‘Mahdawiyah’ sebagai masalah yang sangat penting, seraya menegaskan bahwa Mahdawiyah adalah tujuan dari gerakan dan perjuangan para nabi sepanjang sejarah.

Seraya menyatakan bahwa tema penantian tak bisa dipisahkan dari masalah ‘Mahdawiyah’, beliau mengatakan, salah satu tugas penting yang mesti dilaksanakan terkait masalah ‘Mahdawiyah’ adalah meningatkan pekerjaan yang mendalam, cermat dan kuat dengan melibatkan para pakar yang benar-benar menguasai masalah ini dan menghindari langkah-langkah yang dangkal, bodoh, tidak otentik dan hanya didasarkan oleh khayalan dan dugaan semata.

Di awal pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan signifikansi masalah ‘Mahdawiyah’ sebagai isu paling mendasar dalam ajaran Islam, seraya mengungkapkan, tujuan gerakan para nabi dan pengutusan mereka adalah untuk membangun dunia yang dilandasi oleh tauhid dan keadilan dengan mengembangkan segala potensi yang dimiliki manusia. Masa ‘dhuhur’ (kedatangan) Imam Mahdi (aj) adalah masa kedaulatan hakiki tauhid, spritualitas, agama, dan keadilan pada semua sisi kehidupan individu dan sosial umat manusia.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menandaskan, tanpa ‘Mahdawiyah’ semua kerja keras dan perjuangan para nabi tidak ada artinya. Seraya menyinggung bahwa ‘Mahdawiyah’ juga diyakini oleh semua agama Ilahi, beliau menambahkan, “Semua agama Ilahi secara umum meyakini akan hakikat ‘Mahdawiyah’. Akan tetapi dalam Islam ‘Mahdawiyah’ adalah masalah keyakinan yang diterima secara penuh. Dan dari seluruh madzhab dalam Islam, Syiah meyakini masalah ‘Mahdawiyah’ dengan rincian kriteria dan sosok pribadinya yang dinantikan itu sesuai dengan riwayat-riwayat sahih yang terdapat dalam literatur riwayat Syiah dan non-Syiah.”

Rahbar lebih lanjut menjelaskan tentang prinsip ‘penantian’ yang tidak bisa dipisahkan dari masalah ‘Mahdawiyah’. Beliau mengatakan, “Penantian berarti menanti kedatangan sosok manusia yang hidup dan hakikat yang pasti. Penantian seperti ini meniscayakan beberapa hal diantaranya persiapan diri secara spiritual dan kejiwaan serta kondisi sosial yang sesuai dengan masa yang bakal terjadi dan kondisinya yang istimewa.”

Orang yang menanti, kata beliau, harus selalu memiliki, menjaga dan memperkuat sejumlah kriteria masa penantian, sehingga tidak menganggap bahwa masa penantian ini akan berlangsung sangat lama dan dari sisi lain tidak beranggapan bahwa masa itu sudah sangat dekat.

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengenai kondisi di masa dhuhur Imam Mahdi mengatakan, masa dhuhur adalah masa kedaulatan tauhid, keadilan, kebenaran, ketulusan, dan penghambaan kepada Allah Swt. Karena itu seorang penanti harus selalu mendekatkan dirinya pada kriteria-kriteria tersebut dan tidak merasa puas dengan kondisi yang ada.

Beliau juga menekankan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mendalam dan ilmiah dalam masalah ‘Mahdawiyah’.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menandaskan, salah satu bahaya besar dalam masalah ‘Mahdawiyah’ adalah munculnya langkah-langkah yang dangkal, bodoh, tidak otentik dan didasari oleh khayalan dan dugaan semata. Hal seperti ini justeru akan memunculkan para pembohong dan menjauhkan masyarakat dari hakikat penantian yang sebenarnya.

Beliau menyinggung tentang kemunculan para pembohong dalam rentang sejarah yang menyebut diri sendiri atau orang-orang tertentu sebagai bagian dari tanda-tanda kedatangan al-Mahdi. “Semua klaim seperti itu salah dan menyimpang. Sebab, sejumlah hal yang disebut sebagai tanda ‘dhuhur’ tidak otentik dan lemah, sementara hal-hal yang sah juga tidak mudah dicarikan objek penerapannya,” kata beliau menjelaskan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengingatkan bahwa isu-isu yang menyimpang justeru akan mengaburkan hakikat ‘Mahdawiyah’ dan ‘penantian’ yang sebenarnya. Karenanya, tindakan dan isu-isu bodoh seperti itu harus dihindari.

Beliau menambahkan, pekerjaan yang mendalam dan ilmiah dalam masalah ‘Mahdawiyah’ adalah ruang kerja bagi para pakar yang menguasai ilmu Hadis dan ilmu Rijal serta mengenal berbagai masalah pemikiran dan filsafat secara sempurna.

Poin terakhir yang disinggung Ayatollah al-Udzma Khamenei dalam pembicaraannya adalah masalah hubungan dan tawassul dengan Imam Mahdi (afs). Beliau mengatakan, mengenal masalah ‘Mahdawiyah’ dengan benar dan ilmiah akan membantu meningkatkan keakraban dengan Imam Mahdi (as) dan gerakan yang lebih cepat ke arah cita-cita yang mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *