Opini

Nabi Muhammad Saw Dalam Pandangan Syahid Muthahhari

ICC Jakarta – Sosok Syahid Muthahhari adalah sosok ulama yang hebat. Pandangannya dalam menjawab tantangan-tantangan zaman dirasa telah mampu memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan keraguan-keraguan kaum muda dan kaum intelektual yang terbaratkan tentang masalah-masalah yang membuat ragu mereka. Pada kesempatan ini akan dijelaskan bagaimana pandangan Muthahhari dalam melihat sosok Muhammad. Jika di Barat, sosok Nabi Muhammad Saw digambarkan sebagai nabi yang mengenalkan Islam dengan pedang, sosok yang galak dan kejam, maka Syahid Muthahhari memandang Nabi Muhammad dengan pandangan pola jaraj dekat dan sebagai sosok yang realitas, bukan imajinatif. Pandangan seperti akan menghasilkan pandangan Nabi Muhammad Saw sebagai sosok yang lemah lembut, memiliki akhlak luhur, tegas dalam menindak kezaliman yang merajalela ditengah-tengah masyarakat dan lainnya.

Perspektif tentang imajinasi dan realitas sebagaimana di atas juga digunakan Muthahhari untuk menganalisis pandangan Muslimin tentang Muhammad saw. Menurut Muthahhari, sosok Muhammad sebagai nabi dan teladan dapat diposisikan dalam dua pola pandangan yang berbeda: jarak dekat dan jarak jauh. Pola pandangan jarak jauh adalah sebuah metode pembacaan diri Muhammad sebagai sebuah sosok imajinatif. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad ditempatkan tidak sebagai sosok individu realistis melainkan sebagai sosok imajinatif. Imajinatif di sini dekat pada kecenderungan “superiorisasi” Muhammad. Muhammad diimajinasikan sebagai sosok super yang secara eksistensial memiliki perbedaan mendasar dengan manusia biasa lainnya, demikian juga dengan segala bentuk aktivitasnya. Semua dipandang dalam konteks superiorisasi.

Menurut Muthahhari, pola pandang atau pendekatan yang seperti ini dalam memosisikan Muhammad bukan hanya salah dan akan memberikan ekses negatif tetapi juga akan menarik konsekuensi logis yang vital bagi visi kenabian Muhammad. Penempatan Muhammad dalam kerangka pola pandangan jauh, atau dengan kata lain superiorisasi Muhammad, sama artinya dengan pengingkaran tentang antropomorfisme Muhammad sebagai seorang manusia. Dan, pengingkaran pada sisi antropomorfis Muhammad berarti sebuah sikap kontradiktif dengan apa yang tertuang dalam al-Quran bahwa Nabi saw adalah manusia biasa.

Bagi Muthahhari, penegasan al-Quran bahwa Nabi adalah seorang manusia biasa dari “jenis kamu” bukannya tidak memiliki landasan epistemologis dan argumentasi yang kuat. Penegasan itu memiliki nilai korelatif dengan fitrah manusia yang selalu mendambakan dan menuntut hadirnya seorang “sosok teladan” yang juga dari spesies yang sama. Itu semua sebagai bukti penegasan konsepsional bahwa misi dan visi kenabian adalah realistis, tidak imajinatif sehingga tidak ada ruang bagi manusia untuk melayangkan gugatan dan pengingkaran terhadap visi dan misi kenabian tersebut.

Jika Nabi Muhammad kemudian diposisikan dalam pola pandang jarak jauh, maka bagi Muthahhari, itu sama artinya dengan memberikan ruang bagi manusia untuk mengingkari, menolak, serta menggugat visi dan misi kenabian. Padahal, menurut Muthahhari, terciptanya ruang tersebut sebenarnya diakibatkan oleh pola pandang yang salah dari umat Islam dalam memosisikan Muhammad sebab, secara fundamental, al-Quran, menurut Muthahhari, menegaskan antropormisme Muhammad. Inilah konsekuensi logis pertama dalam pandangan Muthahhari tentang akibat pola pandang jarak jauh dalam memosisikan Muhammad.

Di sisi lain, menurut Muthahhari, pola pandang jarah jauh dalam memosisikan Muhammad, secara tidak langsung, akan “memasukkan” Muhammad ke dalam dunia imajinatif. Muhammad dianggap sebagai sosok manusia yang hanya bersemayam dalam imajipasi manusia biasa. Jika ini terjadi, maka dampaknya, menurut Muthahhari, sangatlah fatal, yaitu bahwa visi, misi, dan posisi primordial Muhammad, sebagai seorang sufi teladan, menjadi hilang dan tidak berfungsi. Bagaimana umat Islam dapat meneladani Muhammad jika, dalam kognisi mereka, Muhammad diasumsikan sebagai sosok imajinatif, sosok yang segala prestasi dan aktifitasnya tidak dapat ditiru hanya dengan mengandalkan potensi manusia biasa. Menurut Muthahhari, umat Islam tidak akan pernah dapat meneladani Muhammad karena, secara kognitif, Muhammad diposisikan dalam dunia imajinatif sedangkan Muslimin sendiri berada dalam dunia realitas. Bagaimana dua dunia tersebut dapat bertemu? Ini merupakan salah satu ekses negatif yang paling vital dari pola pandang jarak jauh dalam memosisikan Muhammad.

Berikut kutipan pernyataan Muthahhari.
“Dengan begitu, kita telah meletakkan satu hijab yang sangat tebal antara kita dengan Rasulullah. Perilaku dan kehidupan Rasul tidak akan menjadi contoh bagi kita dan kita tidak akan mati berpikir tentang kehidupan beliau hingga dapat mengambil manfaat dari kehidupannya itu. Sesungguhnya Rasul adalah manusia yang telah sampai menapak derajat kenabian. Namun karena beliau adalah seorang manusia maka beliau dapat menjadi guru, pendidik, dan pemberi petunjuk bagi manusia. Namun karena kita mempunyai kecenderungan untuk melihat sesuatu yang nyata dan jauh, kita dibatasi oleh satu ungkapan, “Janganlah engkau bandingkan pekerjaan-pekerjaan orang suci dengan dirimu.” Di sini kita telah menciptakan jarak yang sangat jauh antara kita dengan sumber petunjuk, yaitu para nabi dan rasul.”
Itulah pandangan Muthahhari tentang perubahan yang harus segera dilakukan umat Islam dalam memosisikan al-Quran dan Muhammad, yakni dari pola pandang jarak jauh dalam memosisikan keduanya menjadi pola pandang jarak dekat. Dengan jalan ini, maka kemajuan Islam akan dapat diraih. Inilah salah satu rekomendasi pembaharuan pemikiran Islam ala Muthahhari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *