Ahlulbait

Teladan Sayidah Khadijah sebagai Istri

ICC Jakarta – Sayidah Khadijah as hidup bersama Rasulullah Saw selama 24 tahun dan memberikan pelayanan luar biasa kepada Rasulullah dan agama Islam. Dukungan dana, semangat dan emosional kepada Rasulullah Saw. Beliau membenarkan Nabi Muhammad Saw ketika tidak ada orang yang menerimanya dan membantu Rasulullah di hadapan gangguan orang-orang Musyrik merupakan bagian dari dukungan Sayidah Khadijah as. Selama hidupnya, beliau tidak mengizinkan orang-orang Musyrik mengganggu dan menyiksa Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah Saw kembali ke rumah dengan musibah dan kegalauan yang di hadapinya di luar, Sayidah Khadijah as menenangkannya dan berusaha mengusir segala kecemasan dari benak Nabi.

Sayidah Khadijah as merupakan wanita terkaya di Jazirah Arab. Beliau memiliki sekitar 8000 onta dan konvoi dagangnya setiap hari dan malam bergerak ke daerah-daerah seperti Taif, Yaman, Syam, Mesir dan daerah-daerah lainnya. Beliau memiliki banyak budak pria dan wanita serta harta yang banyak dan menyerahkannya semua kepada Rasulullah. Anak pamannya, Waraqah bin Naufal berkata, “Umumkan kepada masyarakat bahwa Khadijah telah memberikan semua hartanya kepada Muhammad.” Karena harta Sayidah Khadijah sejak awal telah diserahkan demi kemajuan Islam. Bahkan akhir pemberian Khadijah digunakan oleh Imam Ali as dalam perjalanan hijrah ke Madinah.

Sekaitan dengan ini, Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada kekayaan yang bermanfaat bagiku seperti kekayaan Khadijah as.”

Sikap berani Sayidah Khadijah as dalam mendukung agama baru dan membela pembawanya di masa Jahiliah merupakan langkah luar biasa dan perlahan-lahan membuka jalan, sehingga Rasulullah Saw mendapat kesempatan untuk berdakwah agama Islam. Sekaitan dengan hal ini, Thabarsi menulis, “Musibah kematian Abu Thalib dan Khadijah terjadi ketika Sayidah Khadijah waktu itu berperan selaku perdana menteri cerdas dan berani yang membela mati-matian Rasulullah Saw dari segala masalah yang di hadapinya. Kelembutan dan kasih sayangnya yang membuat Nabi Muhammad Saw lebih tenang.”

Masalah ini yang membedakan antara Sayidah Khadijah as dengan istri Rasulullah yang lain. Perbedaan yang membuat Rasulullah mencintainya dan menyatakan cintanya kepada beliau hingga ajal menemput. Aisyah pernah berkata, “Saya tidak pernah hasud kepada istri-istri Nabi Muhammad Saw selain Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Karena beliau mengisi luasnya hatinya Rasulullah, sehingga Nabi Muhammad tidak hanya Khadijah, tapi apa dan siapa saja yang mengingatkannya akan Khadijah, akan dilihat dengan gaya yang tidak biasa!”

Sebagian istri Rasulullah membayangkan bahwa dikarenakan Rasulullah Saw sebagai pemimpin umat, maka di masa depan kehidupan mereka akan lebih baik dan sejahtera. Tapi tahun berganti harapan mereka tinggal harapan. Setelah Islam tersebar, mereka mulai mendebat Rasulullah dan menuntut nafkah yang lebih. Nasihat Nabi juga tidak membuat mereka berpaling dari keinginannya, sehingga dalam riwayat disebutkan, “Suatu hari Abu Bakar menemui Rasulullah Saw dan istri-istri beliau berada di sisinya. Ia melihat Rasulullah sedang bersedih. Ketika memahami putrinya memrotes kehidupannya dan membuat Rasulullah bersedih, Abu Bakar bangkit dan bermaksud menghukuminya. Dalam kondisi yang demikian Allah Swt menurunkan ayat 28-29 surat al-Ahzab yang memberikan pilihan kepada istri-istri Rasulullah Saw apakah memilih kelezatan dunia atau Rasulullah. Pada saat itu mereka mengetahui bahwa modal terbesar adalah bersama Rasulullah Saw.”

Source: Parstoday

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *