Tokoh

Allamah Taqi Ja’fari mengupayakan Kedekatan antara Hauzah dan Universitas

ICC Jakarta – Muhammad Taqi Ja’fari masyhur dengan Allamah Ja’fari(1923-1998) adalah seorang filosof, ahli hukum, pakar Rumi dan ulama Syiah abad ke-15 H/21 H. Dia adalah murid Morteza Taleghani, sepanjang hidupnya ia habiskan dengan belajar, mengajar dan penelitian. Dia telah menulis lebih dari 80 buku. Buku tentang Determinisme dan Ikhtiar, Syarah Nahjul Balaghah, Syarah Masnawi Ma’nawi adalah karyanya yang paling terkenal. Allamah Ja’fari beberapa kali surat menyurat dengan Bertrand Russell mengenai isu-isu filosofis dan berdialog dengan Roger Garaudy, Profesor Abdus Salam dan Profesor Rosenthal.

Pada masa kecilnya, ia belajar beberapa pelajaran dasar dan al-Qur’an dari ibunya. Kemudian ia menyelesaikan kelas keempat dan kelima di madrasah I’timad di Tabriz.

Pada saat Perang Dunia II akan segera berakhir, ia bersama saudaranya pergi ke sekolah Talibieh di Tabriz, kemudian ia mulai belajar ilmu-ilmu agama dari para guru di sana. Demi mencukupi biaya hidup, ia terpaksa belajar di pagi hari dan bekerja di sore hari. Pada tahun 1941 ia pergi ke kota Tehran untuk melanjutkan studinya di sekolah Marvi. Pada tahun 1944 ia pindah ke kota suci dan tinggal di Sekolah Daru Syifa. Pada usia 23 tahun ia pergi ke Najaf dan pada usia itu pula ia telah mencapai kedudukan sebagai mujtahid. Pada tahun 1958 atau 1959 setelah sebelas tahun tinggal di sana, ia kembali ke Iran dan mengabdikan hidupnya untuk belajar, mengajar dan penelitian.

Selama studi , ia banyak mempelajari pelbagai bidang studi Islam dan berguru dari berbagai ulama baik ulama dari Qum, Tehran maupun Masyhad, diantaranya: Sayid Hassan Mousavi Bojnourdi, Kadzim Syirazi, Sayid Abdul Hadi Syirazi’, Abul Qasim Khu’i, Murtadha Taleqani, Ali Mohammad Boroujerdi, Mirza Hasan Yazdi, Sayid Mahmud Syahrudi, Sayid Jamaluddin Golpaygani, Mhammad Hadi Milani, Mirza Fattah Syahidi Tabrizi, Sayyid Mohsin Hakim, Mirza Mahdi Asytiani dan Mohammad Taqi Zargar.

Sedangkan murid-murid yang telah ia didik selama lima puluh tahun aktivitas ilmiah di antaranya adalah Sayid Muhammad Baqir Shadr, Mohammad Mehdi Gorjian, Ali Ridha Sadra, Mehdi Firuzan, Ali Rafi’i, Abdul Rahim Govahi.

Karya ilmiah beliau memiliki kekhasan penting yaitu bahwa beliau berupaya untuk menjembatani antara hauzah dan universitas dan juga antara ilmu klasik dan modern. Olehnya, karya-karyanya sangat diminati oleh kalangan universitas dan hauzah. Pengetahuannya yang luas akan fikih, filsafat, seni dan estetika dalam Islam serta aktivitas keilmuannya selama setengah abad membuat ia berhasil menulis lebih dari 100 jilid buku dan risalah.

Salah satu karya monumentalnya adalah syarah kitab Nahjul Balaghah dalam 27 jilid, Tafsir atasnawi Maulawi (interpretasi, kritik dan analisa Matsnawi) dalam 15 jilid. Lebih dari 70 kali ia juga berdiskusi dengan para ilmuan internasional seperti Sir Bernard Arthur Owen Williams, Bertrand Russell, Profesor Abdussalam, Roger Garaudy dan Profesor Rosenthal. Kecintaan khusus terhadap seni dan sastra mendorongnya untuk menghapal lebih dari 100 ribu bait puisi berbahasa Persia maupun Arab dan juga sebagian sastra Barat. Buku, artikel dan orasi-orasi ilmiahnya di bidang estetika dan seni sampai sekarang menjadi referensi penting seni dalam pandangan filsafat Islam. Kasyf al-Abyat Matsnawi Ma’nawi terlengkap dalam 4 jilid, yang dipublikasikan dengan topik “Az Darya ta Darya” (Dari laut ke laut)”. Lebih dari 60 buku dan artikelnya belum terpublikasikan.

Setelah melewati masa kehidupannya, akhirnya Muhammad Taqi Ja’fari wafat pada tanggal 16 November 1998. Bertindak sebagai imam shalat atas jenazahnya adalah Ayatullah Abdullah Jawadi Amuli. Beliau dimakamkan di Dar al-Zuhd Mubarake,  di komplek Pemakaman Haram Imam Ridha, Masyhad. [SZ]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *