Fikih

Keagungan Doa Arafah Imam Husain As

ICC Jakarta – Allah Swt menyeru umat manusia untuk berdoa dan menjanjikan ijabah atas doa-doa mereka.”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.” Ibadah dan doa merupakan media penghubung antara manusia dengan Sang Pencipta yang maha kuasa. Untuk itu, ibadah dan doa tidak hanya dikhususkan pada waktu tertentu saja, tapi kita juga memiliki momen-momen istimewa dan kesempatan emas untuk menjalin hubungan dan berkomunikasi dengan Allah Swt lewat bahasa doa. Pada momen istimewa itu, rahmat khusus Allah Swt tercurahkan kepada para hamba dan mereka perlu berusaha untuk menempatkan dirinya di bawah pancaran nikmat-Nya. Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya bagi Tuhan kalian ada anugerah untuk hari-hari kalian, maka tempatkanlah diri kalian di dalamnya.”

Salah satu momen istimewa ini adalah hari kesembilan di bulan Dzulhijjah atau hari Arafah. Arafah termasuk salah satu dari hari raya meski tidak disematkan kata eid di depannya. Pada hari itu, Allah Swt menyeru hambanya untuk bermunajat dan membuka lebar pintu rahmatnya kepada mereka, sementara syaitan dihinakan dan diusir. Para jamaah haji setelah shalat subuh di Mina, bertolak menuju Padang Arafah sambil bertalbiyah dan bertakbir.Arafah adalah sebuah daerah di Makkah al-Mukarramah yang menjadi tempat berkumpulnya para jamaah haji dari seluruh dunia.Mereka melakukan wukuf di Arafah mulai azan dzuhur pada hari kesembilan Dzulhijjah sampai waktu shalat magrib. Mereka semua larut dalam doa, munajat, dan tafakkur.

Para pemuka agama telah mengajarkan kita tentang bahasa dan muatan doa. Mereka memohon sesuatu yang paling baik kepada Allah Swt dan juga memberi contoh tentang bagaimana kita meminta kebaikan dan kenikmatan. Pada hari Arafah, Imam Husein as melantunkan bait-bait yang indah dalam doanya dan sekarang doa fenomenal itu tidakhanya menggema di kalangan jamaah haji, tapi juga mengguncang kalbu manusia di sepanjang sejarah. Doa Imam Husein as di hari Arafah merupakan kumpulan kalimat-kalimat penuh makna tentang tauhid, makrifatullah, dan penyucian jiwa.

Mutiara doa yang memancar dari kalbu Imam Husein as memuat makrifat yang tinggi dan mendorong manusia untuk bertafakkur. Setiap bait doa itu menanamkan cahaya, kecintaan, dan tauhid dalam sanubari manusia. Imam Husein as ingin mengajarkan pengenalan kepada Tuhan dan kebutuhan manusia kepada-Nya. Munajat pribadi agung ini menjelaskan tentang hubungan paling rasional antara manusia dan Tuhannya. Beliau dengan seluruh eksistensinya, menunjukkan kehadiran Sang Pencipta dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Imam Husein as menuangkan apa yang disaksikannya dalam bahasa lisan dan bait-bait doa yang indah.

Pada sore hari Arafah, Imam Husein as keluar dari kemahnya bersama keluarga dan sekelompok sahabatnya menuju Padang Arafah. Dengan penuh kerendahan dan kekhusyukan, beliau dan rombongan menghadapkan wajah ke Jabal Rahmah. Imam Husein as kemudian menghadap Ka’bah dan mengangkat kedua tangannya untuk bermunajat kepada Allah Swt. Beliau mementaskan bentuk penghambaan terindah dan pengenalan terdalam lewat bait-bait yang indah dan penuh makna. Imam Husein as memuji Allah Swt dengan pujian yang indah dan menyebut nikmat-nikmat yang dicurahkan kepada manusia di semua jenjang perjalanan hidup mereka. Cucu Rasulullah Saw ini kemudian berbicara tentang masalah mensyukuri nikmat dan menganggap dirinya tidak mampu menunaikan rasa syukur.

Dalam lanjutan doanya, Imam Husein as menjerit lirih dan berkata, “Akulah wahai Tuhanku yang mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Akulah yang berbuat kejelekan, akulah yang bersalah, akulah yang menginginkan (maksiat), akulah yang bodoh, akulah yang lalai, akulah yang lupa, akulah yang bersandar (pada-Mu), akulah yang sengaja (berbuat dosa), akulah yang berjanji dan akulah yang mengingkari, akulah yang merusak, akulah yang menetapkan, akulah yang mengakui akan nikmat-Mu atasku, namun aku menghadap-Mu dengan dosa-dosaku. Maka ampunilah aku.”

Hari Arafah memiliki beberapa amalan khusus yang bisa kita lakukan dan salah satunya adalah puasa. Akan tetapi, jika puasa Arafah justru membuat kita lemah dan tidak mampu melakukan amalan-amalan lain, maka lebih baik kita tidak berpuasa. Bentuk amalan lain di hari istimewa itu adalah bertaubat, bertafakkur, dan memperbanyak pujian kepada Allah Swt. Pada hari Arafah, kita juga dianjurkan untuk mandi, membaca doa ziarah Imam Husein as, menunaikan shalat dua rakaat setelah shalat Ashar, melaksanakan shalat empat rakaat, dan berdoa serta berzikir khususnya membaca doa Arafah Imam Husein as.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *