Akhlak

Bahaya Buruk Sangka

ICC Jakarta – Buruk sangka dalam literatur agama disebut sebagai su’u al-zhan. Buruk sangka merupakan sebuah kondisi batin yang membuat orang yang tertimpa kondisi seperti ini akan kehilangan kepercayaan kepada orang lain dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Karena itu, ia terdorong untuk melihat pelbagai peristiwa, kejadian, orang-orang dan pekerjaan-pekerjaan mereka dengan pandangan negatif dan menafsirkannya secara keliru.

Buruk sangka (su’u al-zhan) merupakan salah satu dosa dan sifat buruk. Lawan katanya adalah baik sangka (husn al-zhan) yang merupakan sebuah sifat baik.

Al-Quran menyinggung masalah ini dan mengolongkannya sebagai salah satu perbuatan dosa. Al-Quran menyatakan, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (Qs. Al-Hujurat [49]:12)
Cara Pencegahan Berulangnya Buruk Sangka
Setelah berusaha menjauhi sifat buruk ini tentu saja langkah yang harus ditempuh adalah penguatan dan pengukuhan apa yang dilakukan untuk memberantas penyakit ini sehingga penyakit ini tidak kambuh lagi.

Buruk Sangka kepada Semua Orang atau Sebagian Orang
Tidak terdapat hukum dan kaidah universal terkait dengan persoalan ini; karena bergantung pada orang-orang yang mengidap penyakit buruk sangka, level buruk sangka dan akarnya. Pada sebagian waktu, seseorang disebabkan oleh sebagian persoalan seperti permusuhan terhadap orang tertentu, sikap hasud kepadanya, dan lain sebagianya maka ia berburuk sangka pada orang itu dan tidak ada sikap seperti ini pada orang lain. Terkadang juga dekat pada seseorang akan menyebabkan sangka buruknya kepada orang itu yang berbuat sesuatu bertentangan dengan keinginannya. Ia berharap seseorang melakukan kebaikan padanya namun kenyataannya tidak berlaku demikian sehingga ia menilai orang tersebut pelit atau bakhil. Namun terkdang juga sifat buruk ini telah menjadi karakternya maka orang seperti ini akan berburuk sangka keapda seluruh masyarakat, bahkan kepada istri, anak dan sahabatnya. Imam Shadiq As bersabda, “Lebih dari dua pertiga masyarakat terjangkiti dosa ini.”[13]

Azab Orang Yang Berburuk Sangka
Gambaran dan ilustrasi pikiran manusia tidak dapat dikategorikan sebagai dosa. Namun apa yang telah dilarang (dalam agama) dari perbuatan ini adalah manusia yang berburuk sangka kepada seseorang dan mempercayai pikiranya, condong hati kepadanya dan tentu saja tampak dalam amal perbuatan.[14] Karena itu, buruk sangka itu memiliki tiga tahapan: 1. Hati. 2. Lisan. 3. Perbuatan. Apa yang terlintas dalam hati tidak termasuk bagian taklif; karena berada di luar ikhtiar manusia, namun apa yang telah dilarang dari buruk sangka adalah terucap lisan dan lahir dalam tindakan.[15]
Dosa ini mungkin saja terjadi pada setiap orang pada setiap tingkat usia. Artinya bahwa yang dimaksud dengan “Jauhilah prasangka” (yang disebutkan pada surah al-Hujurat) bukanlah prasangka itu sendiri; karena prasangka merupakan salah satu jenis pencerapan jiwa dan terbuka dalam hati, secara tiba-tiba terlilntas prasangka dan manusia tidak dapat membuat pintu yang dapat mengunci supaya prasangka itu tidak masuk dalam hati dan jiwa manusia. Karena itu, larangan tidak tertuju pada prasangka itu sendiri.

Lain halnya kalau larangan itu berkaitan dengan pendahuluan-pendahuluan prasangka buruk yang memang berada dalam wilayah ikhtiar manusia. Karena itu, larangan yang dimaksud dalam ayat itu adalah larangan untuk menerima sangka buruk. Sejatinya ayat itu ingin mengatakn, “Apabila Anda menolak sangka buruk terkait dengan seseorang masuk dalam hati Anda dan jangan peduli dengannya.” Karena itu apa yang disebutkan dalam ayat, “sebagian prasangka itu dosa” bukanlah prasangka (an sich) yang dimaksud; karena prasangka, entah itu baik atau buruk, bukanlah dosa karena kita sudah katakan bukan termasuk perbuatan ikhtiari.

Yang dimaksud dalam ayat itu adalah mengindahkan dan menaruh perhatian pada sebagian urusan itu dosa;  misalnya ada seseorang berkata buruk tentang seseorang, dan Anda kemudian berburuk sangka pada orang itu dan menerima buruk sangka ini, dan Anda mengindahkan serta bereaksi atas informasi itu kemudian Anda menghinanya atau info yang Anda dengarkan Anda sampaikan kepadanya atau tindakan lainnya yang merupakan reaksi dari informasi yang Anda dengarkan. [16]Kesemua ini adalah pengaruh yang buruk, dosa dan haram hukumnya. dan orang ini tentu akan memperoleh azab ukhrawi.

Pengaruh Sangka Buruk
Sangka buruk dan su’u al-zhan memiliki efek dan pengaruh buruk bagi manusia, antara lain:

  1. Hilangnya ketentraman: Seseorang yang bersangka buruk akan melanggar kehormatan pribadi seorang Muslim.
  2. Penasaran pada urusan orang lain: Seseorang yang berburuk sangka, untuk memperoleh bukti-bukti atas sangka buruknya, akan melakukan pelanggaran terhadap kebebasan seorang Muslim.
  3. Terpaksa mengunjing sesama orang beriman:[17]Karena ia akan membenarkan gunjingan atas orang lain yang padanya ia bersangka buruk.[18]
  4. Lunturnya ibadah: Imam Ali As bersabda, “Jauhilah sangka buruk; karena sesungguhnya sangka buruk akan menghilangkan ibadah dan membesarkan dosa.”[19]
  5. Hilangnya teman dan terisolasi: Imam Ali As bersabda, “Barang siapa yang bersangka buruk maka ia akan kehilangan teman dan tidak tersisa pesahabatan baginya.”[20]
  6. Menyebabkan ketakutan, sikap pelit dan tamak: Rasulullah Saw bersabda kepada Ali As: Wahai Ali! Sikap takut, bakhil dan tamak adalah penyakit yang lahir dari adanya sangka buruk.”[21][Islam Quest]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *