Ahlulbait

Pelajaran Revolusi Karbala: Redesain Nilai-nilai Cinta dan Pengorbanan

ICC Jakarta – Asyura sebagai sebuah peristiwa sejarah, terkait dengan social engineering, dapat ditinjau dari dua sisi. Pertama pada bentuk dan konstruksinya. Dan kedua pada sisi historisnya. Kita harus menerima bahwa dalam budaya asyura pelan-pelan tampak geliat masyarakat umum yang menjadikan kisah Asyura seolah-seolah sebuah legenda. Dan secara perlahan menjauh dari kehidupan keseharian masyarakat. Seakan-akan kisah asyura ini adalah sebuah mitos.

Sebagai sebuah peristiwa sosial dan sejarah maka Asyura juga mengalami redesain terhadap nilai-nilainya dan pesannya. Setiap tahun nilai-nilai seperti kecintaan, sikap kerelaan berkorban (altruisme), ghairah terhadap syahadah, amar makruf dan nahi mungkar, penentangan terhadap tirani perlu mendapatkan penegasan ulang dan peninjauan kembali yang dengannya kita dapat mencanangkan sebuah proyek rekayasa sosial di masyarakat kita dimanapun kita berada.  Nilai-nilai ini amat dibutuhkan oleh masyarakat kita dewasa ini. Sebagai ganti dari nilai-nilai kebencian, egoisme, mengorbankan segalanya untuk kepentingan diri, keluarga dan partai, amar mungkar dan nahi makruf, sokongan terhadap tirani yang merupakan patologi sosial yang harus enyah dari kehidupan masyarakat kita hari ini.

Dari sudut pandang konstruksi peristiwa asyura yang utama adalah pada makna dan kedalaman konstruksi ini yang harus ditelusuri pada tujuan dan cita tragedi asyura. Oleh karena itu, ia memerlukan sebuah upaya rekonstruksi pemikiran terhadap kisah revolusioner ini untuk sebuah rekayasa sosial. Ia membutuhkan sebuah pemikiran bebas dan kritis sehingga kita bisa melesak lebih tinggi melebihi sekedar melulu kisah sejarah dan menggali hingga kedalaman sumbernya. Kepada mata-airnya yang berasal dari sebuah sumber maknawi, Ilahi dan insani. Rekonstruksi ini menurut saya perlu, karena ia memiliki dimensi global dan universal. Lantaran ia akan berubah menjadi sebuah teori bernama teori syahada bahwa bagaimana bisa seorang manusia berjuang tidak saja melalui jalan membunuh tapi juga terbunuh, melalui jalan resistensi. Ia akan menjelma sebagai sebuah teori amar makruf dan nahi mungkar (baca: social control) yang apabila tugas ini diabaikan bahkan dilenyapkan maka kerusakan dan penyakit sosial segera akan menggejala dan menjadi sebuah tradisi. Dan seterusnya.

Rekonstruksi pemikiran ini meniscayakan sebuah analisa dan telaah ulang. Banyak orang yang tidak beriman dan tidak memiliki landasan akidah namun memandang penting tragedi ini. Dan dari sudut pandang sosial, politik, sejarah kisah asyura ini patut mendapatkan perenungan dan perhatian. Dari sisi orang yang beriman, ia harus ditelaah dari perspektif sosial, politik, sejarah, filfasat, irfan, tarbiyah, manajemen di bawah krisis. Mengikut Syariati bahwa kita harus beranjak lebih jauh dari syahadah itu sendiri dan menyusuri sebab mengapa Imam Husain sangat bergairah menjemput syahadah, mengapa Imam Husain sangat cinta menginginkan hidupnya kembali nilai-nilai kemanusiaan dan Ilahiah, mengapa tugas amar makruf dan nahi mungkar ini perlu, mengapa menentang tirani itu harus dan sebagainya. Artinya selama ini kita hanya memandang kesemua ini sebagai sekedar sesuatu yang kudus dan suci. Dan berhenti di poin ini. Menyambut ajakan Syariat, yang harus kita jelajahi dari kisah asyura ini adalah tujuan mengapa Imam Husain syahid? Hal ini dapat kita kaji dari sisi bahwa Imam Husain adalah penentang tirani, pecinta kedamaian, penegak sebuah masyarakat madani, insan yang berupaya mewujudkan nilai-nilai moral, sosial, kultural, dimana tipologi karakter perjuangan Imam Husain ini dapat diringkas pada tujuan mengapa Islam datang dan lantaran demi Islam Imam Husain mengorbankan jiwa dan raganya, serta keluarganya. Imam Husain karena tujuan yang lebih menjulang ini mengorbankan segalanya. Tujuan inilah yang ingin dicapai oleh Imam sehingga rela berkorban jiwa dan raga, menyerahkan segalanya, anak, keluarga, sahabat dan para pengikut setianya. Dengan semua ini, Imam Husain tetap memanjatkan puji syukur kepada Allah Swt dan bermohon keridhaan Allah Swt. Hal ini tentu saja merupakan kebanggaan dan kehormatan bagi Syiah karena memiliki imam pejuang dan pengusung kebebasan seperti ini.

Oleh karena itu, dari tema syahadah, menghidupkan nilai-nilai insani dan Ilahi, amar makruf dan nahi mungkar, penentang tirani dan penegak keadilan (ansich) kita menanjak lebih tinggi lagi dan tujuan yang melalui media ini lebih dalam ditelusuri dan dijelajahi. Dimana kebanyakan orang hanya bertumpu pada subjek ini dan berhenti di halte ini. Dengan demikian, konstruksi pemikiran sejatinya kembali kepada konstruksi pemikiran tauhid yang menjadi dalih Imam Husain siap menjemput maut.

Apabila kita mampu menerima rekonstruksi pemikiran asyura seperti ini dan beralih dari tingkatan acara seremonial, pada tradisi, pensucian, pembacaan narasi maqtal, deklamasi puisi, senandung sendu dalam kidung sedih dan menyayat hati kepada tataran pemikiran untuk apa Imam Husain berkorban dan memilih untuk syahid, maka kita mampu menangkap pesan Asyura tahun ini dan merekonstruksi nilai-nilai perenial dan universal yang tertimbun di dalamnya. Dengan bercermin pada nilai-nilai Asyura ini, saya kira proyek rekayasa sosial (reformasi bukan revolusi) dapat kita canangkan dalam kehidupan keseharian kita. Sebuah proyek yang kini tetap aktual dan sering menjadi komoditas politik dan sosial masyarakat hari ini. Saya pikir tidak berlebihan jika kita menggali nilai-nilai sosial dan moral Asyura untuk mengantarkan bangsa ini kepada kehidupan yang berwarna Ilahia  yang  menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. [Asyura dan Rekayasa Sosial/A. Kamil] 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *