Ahlulbait

Peran Sayyidah Zainab dalam Peristiwa Karbala: Pembawa Kabar Revolusi Husaini

ICC Jakarta – Apakah Anda hingga saat ini pernah berpikir bahwa jika bukan karena keindahan dan kemuliaan ayah, teladan tanpa cela dan cermin sempurna sang bunda Fatimah, dan penolong kokoh saudara kinasih, yang termanifestasi dalam diri Zainab, apa yang akan terjadi pada sejarah Islam, perubahan apa yang akan terjadi pada lintasan gerakan Islam? Apa yang akan berlaku sekiranya bukan peran Zainab yang mewartakan kepada seluruh dunia atas apa yang terjadi di Karbala?

Sekiranya tiada Zainab, silsilah imamah yang jatuh di pundak Imam Keempat Syiah dan risalah Ilahi para imam dalam menjelaskan secara benar dan lurus agama Muhammad tidak akan sempurna. Sekiranya tiada Zainab  pengorbanan abangnya al-Husain tidak akan tersiar ke seantero jagad.  Karena Zainab As sehingga kita memiliki Imam Zaman saat ini. Muhammad Jawad Mughiniyah berkata “Ali As yang mendapatkan ilmu-ilmu Rasulullah Saw secara langsung darinya dan meneruskannya kepada keturunannya dan ilmu ini sampai di tangan kita melalui keluarga dan anak-keturunan Ali As.”

Sejarah Islam merekam dengan baik peran elegan dan atraktif  Zainab binti Ali bin Abi Thalib dalam mempropagandakan pesan Asyura kepada masyarakat. Hanya Allah yang tahu apa yang  akan terjadi pada sejarah Islam sekiranya tiada Zainab. Sebagaimana datuknya, ayah, bunda dan kandanya, Zainab terdidik dengan sifat-sifat unggul kemanusiaan yang membuatnya tampil sebagai srikandi Karbala.  

Zainab adalah wanita yang mempunyai kepribadian menjulang dalam dunia Islam. Ia adalah putri  Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra yang lahir pada 5 Jumadil Awal tahun ke-5 H di kota Madinah. Pada usia 5 tahun, Ibunda tercintanya telah berpulang ke haribaan-Nya. Dan semenjak zaman itulah Zaenab kecil ini telah akrab dengan duka dan susah. Pada zaman khalifah Umar bin Khatab, Zainab telah bersabar atas aneka ragam kesusahan yang harus dideritanya. Wafatnya Rasulullah Saw, syahadah bunda kinasihnya, terkoyaknya hati Hamzah bin Abu Thalib dalam perang Badar, syahadah saudaranya, Hasan bin Ali As, syahidnya putra-putranya dan juga saudara-saudaranya, dipenggalnya kepala saudaranya, Imam Husain As dalam tragedi berdarah Karbala, adalah serentetan musibah yang telah dialami dan dilalui oleh Sayidah Zaenab.  Zainab adalah saksi sejarah atas segala tragedi getir nan pilu ini.

Dengan segala musibah yang ia jalani, telah mencetak dirinya sebagai seorang yang sabar dalam menghadapi berbagai musibah. Ia dikenal sebagai Ummu Kultsum Kubra dan Shadiqah Sughra.MuhadatsahAlimah dan Fatimah merupakan julukan yang ia sandang. Dia adalah seorang wanita yang abid, zuhud, arif, ahli retorika dan afif (menjaga kemuliaan).

Orang lain sangat menaruh rasa hormat kepada Zainab karena kedudukan yang ia miliki, sehingga ketika ia memasuki ke suatu majelis, seluruh hadirin akan berdiri demi menyambut kedatangannya. Perjalanan hidupnya yang paling penting adalah perjalanan sejarahnya menuju ke Karbala yang memiliki peranan yang sangat bermakna dalam revolusi Imam Husain As ini. Di samping musibah yang secara bersama-sama dilaluinya bersama saudaranya, Imam Husain As, ia juga menanggung musibah atas syahid saudaranya, menjadi penanggung jawab bagi tawanan perang keluarga Nabi Saw yang terdiri dari anak-anak dan orang-orang yang sakit. Ia juga berkewajiban untuk  merawat Imam Sajad As yang ketika itu sedang sakit.  Ya, Zaenab Kubra yang ibunya syahid, anaknya syahid, saudarinya syahid dan juga bibinya syahid. Kepribadian nan luhur yang sangat jarang ditemukan pada setiap seorang.

Segera selepas tahapan pertama tragedi Karbala yang berakhir dengan pembantaian oleh pasukan Ibn Ziyad atas Imam Husain As dan para penolong setianya, kini giliran wanita-wanita keluarga Nabi yang akan meneruskan pesan suci Asyura. Mereka kini sedang dikawal oleh pasukan musuh dan diperlakukan sebagai tawanan perang yang sangat hina. Mereka menempatkan tawanan perang ini yang sebenarnya  adalah anak-anak dan para wanita keluarga mulia Nubuwah di atas unta-unta yang tidak berpelana dan tidak jua mempunyai atap. Wajah-wajah mereka menjadi tontonan bagi masyarakat yang dilewati oleh iring-iringan itu. Mereka digiring dengan menanggung segala duka dan nestapa, melewati kota demi kota. Menurut beberapa riwayat, jumlah tawanan perang ketika itu adalah 25 orang. Di mana 20 orang dari mereka adalah kaum wanita dan anak-anak. Sedangkan sisanya adalah Imam Sajad As yang ketika itu masih sakit sehingga kelihatan lemah, Imam Baqir As yang kala itu berusia 4 tahun, dan 3 putra-putra Imam Hasan As: Hasan Mutsana, Zaid dan ‘Amr yang dengan penuh ketabahan membela paman dan imamnya, hingga menderita cukup banyak luka di tubuhnya. Umur Sayidah Zainab kala itu adalah 55 tahun dan telah 5 bulan meninggalkan tanah kelahirannya. Dengan keadaan demikian, tentunya ia tidak berada dalam kondisi yang seperti biasanya. Terlebih pada hari-hari terakhirnya adalah puncak penderitaan mereka karena tiadanya bekal makanan, adanya blokade air yang dilakukan oleh pihak musuh dan kondisi-kondisi lainnya yang sangat susah. Namun ia mengerjakan tugas sebagai penanggung jawab rombongan tawanan perang itu dengan sebaik-baiknya. [Zinat Badri/Sekiranya Tiada Zainab].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *