Mahdawiyah

Filsafat Keghaiban Imam Mahdi Afs: Ujian bagi Manusia

ICC Jakarta – Tidak diragukan lagi bahwa salah satu hikmah Ilahi yang terdapat dalam peristiwa keghaiban Imam Mahdi As adalah untuk menguji manusia sehingga dapat diketahui siapakah diantara mereka yang akan sukses dan berhasil dalam ujian tersebut. Hal ini karena kita tahu bahwa hidup ini adalah ujian, karena apabila kita taat dan patuh dalam menjalankan perintah Allah Swt, maka kitapun akan selamat dan berhasil dalam mengarungi berbagai ujian dan rintangan tersebut.

Salah satu hikmah yang ada dalam peristiwa keghaiban Imam Mahdi As adalah untuk menguji manusia. Hal itu karena cobaan dan ujian yang dialami manusia menjadi sangat berat ketika mereka tidak mampu melihat bahwa Imam Mahdi As tidak berada ditengah-tengah mereka. Ujian dan cobaan tersebut kemudian menjadi peran yang sangat penting dalam mengantarkan manusia kepada kesempurnaannya. Sehingga tak jarang apabila sebagian mereka lulus akan tetapi sebagian lainnya justru terpuruk ke dalam kesesatan karena lemahnya iman mereka.

Jabir Al-Ju’fi mengatakan, “Aku bertanya kepada Imam Baqir As, “Kapankah farajakum (kegembiraanmu dengan munculnya Imam Mahdi As) akan nampak?” Imam menjawab, “Mustahil dan tidak mungkin itu akan terjadi sampai kalian akan benar-benar diuji, kalian benar-benar akan diuji, dan kalian benar-benar akan diuji (tiga kali diulang). Dengan ujian tersebut maka tidak akan tersisa dari kalian kecuali orang-orang yang ikhlas dan memiliki hati yang jernih.[1]

Ali bin Ja’far juga meriwayatkan dari saudaranya, Imam Musa Al-Kazhim yang bersabda, “Ketahuilah! Begitu washi kelima dari Imam yang ketuju ghaib, maka camkan baik-baik! Jangan sampai seseorang mampu memisahkan engkau dari agamamu! Pada saat itu anakku, Shahib Al-Zaman akan ghaib selama beberapa waktu lamanya hingga orang-orang yang tadinya percaya kepadanya akan berbalik dan kemudian mengingkarinya. Hal itu tidak lain adalah ujian dan cobaan dari Allah Swt yang diturunkan kepada  para hamba-Nya.[2]

Sudah jelas bahwa hanya orang-orang shaleh yang memiliki tingkat iman yang sangat tinggi saja yang akan selamat dan mampu mengarungi ujian tersebut. Sedangkan orang-orang yang lemah imannya tidak akan menemukan sesuatu dalam dirinya selain kebingungan belaka sehingga iapun kemudian akan jatuh terpuruk.

Imam Shadiq As ketika menyampaikan hakikat ini bersabda, “Demikianlah! Sungguh Al-Qaim akan ghaib selama beberapa waktu lamanya sehingga kebenaran akan benar-benar nampak dari kedzaliman, demikan juga keimanan akan benar-benar terpisah dan tersaring dari kemunafikan. [3]

Dari seluruh hadis dan riwayat-riwayat yang disampaikan oleh Nabi Saw dan juga para Imam Suci Ahlulbait As, dapat diambil kesimpulan bahwa manusia diakhir zaman akan dihadapkan dengan ujian tersebut, dan mayoritas dari mereka sudah tidak lagi menghiraukan nilai-nilai Agama. Hal tersebut tidak lain disebabkan karena mereka sudah jatuh kepada nilai-nilai dan kehidupan duniawi[4].

Nabi Saw beserta para Imam Suci Ahlulbait As selain menjelaskan ciri-ciri masa tersebut, mereka juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa berbagai macam ujian dan cobaan yang amat besar akan menimpa manusia pada akhir zaman tersebut[5].

Orang-orang yang hidup pada masa tersebut, apabila ia masih tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai Agama dan taat kepada Allah Swt, maka ia akan hidup dalam penuh kehormatan dan kemuliaan. Hal ini sebagaimana Nabi Saw ketika mengabarkan tentang ciri-ciri orang yang selamat pada masa itu, dengan wajah yang terlihat sangat gembira, beliau bersabda kepada Ali As, “Wahai Ali! Ketauilah bahwa tingkat keimanan seseorang yang paling tinggi dan tingkat keyakinan seseorang paling besar adalah keimanan dan keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang yang hidup di akhir zaman –karena  selain mereka tidak pernah berjumpa dengan Nabi mereka, mereka juga tidak melihat Imam zamannya-. Mereka menuliskan keimanan mereka dengan tinta teramat hitam serta tebal di halaman-halaman yang putih bersih (menunjukkan akan ketinggian tingkat iman mereka).[6]

Sungguh kasihan nasib mereka yang hidup diakhir zaman yang hanya menjadi hamba setan dengan mengikuti hawa nafsu mereka dan senantiasa hidup dalam kebodohan dan kemaksiatan belaka.  (Dars Nameh Mahdawiyat II, Khuda Murad Salimiyan)

Daftar Pustaka

[1]. Muhammad Hasan Thusi, Kitâb al-Ghaibah, Qum, Muassasah Ma’arif Islami, 1411 HS , hal. 339.

[2]. Muhammad binYa’qub Kulaini, Kâfi, Teheran, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1365 HS, jil. 1, hal. 336; Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Shaduq, Kamâl al-DînwaTamâm al-Ni’mah, Qum, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1395 HS, jil. 2, hal. 359.

[3]. Muhammad Hasan Thusi, Kitâb al-Ghaibah, Qum, Muassasah Ma’arif Islami, 1411 HS, hal. 170; Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Shaduq, Kamâl al-DînwaTamâm al-Ni’mah, Qum, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1395 HS, jil. 2, hal. 355.

[4]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Kâfi, Teheran, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1365 HS, jil. 8, hal. 306, hadis 476; Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Shaduq, Tsawâb al-A’mâlwa ‘Iqâb al-A’mâl, Qum, Syarif Ridha, 1364 HS, hal. 253.

[5]. Nuri, Mirza Husain, Mustadrak al-Wasâil, Qum, MuassasahÂl Al-Bait as, 1408 HS, jil. 11, hal. 379, hadis 13305; Muslim bin Hajjaj Al-Qasyiri, Shahîh Muslim, Beirut, Dar Ihya’ Al-Turats Al-Arabi, cetakan tunggal, jil. 1, hal. 131.

[6]. Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Shaduq, Man LâYahdhuruhu al-Faqîh, Qum, Jame’eh-e Mudarrisin, 1413 HS, jil. 4, hal. 366; Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Shaduq, Kamâl al-DînwaTamâm al-Ni’mah, Qum, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1395 HS, jil. 1, hal. 288, bab 25, hadis 8.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *