Sejarah

Semenjak Kapan Syiah Muncul?

ICC Jakarta – Sehubungan dengan sejarah Syiah dan kemunculannya terdapat beragam pendapat yang dilontarkan oleh sejarawan.[1] Syiah Imamiyah meyakini bahwa benih kemunculan Syiah pertama kali ditebarkan oleh Allah Swt dalam al-Quran dan Rasulullah Saw menyirami benih ini sepanjang masa risalahnya.[2] Karena itu Syiah telah bersemi pada masa Nabi Muhammad Saw dan atas dasar itu pada masa Rasulullah Saw sebagian sahabat terkenal dengan nama ini orang-orang besar seperti Salman Persia, Abu Dzar Al-Ghiffari dan Miqdad bin Aswad.
Sekelompok sahabat pada masa Rasulullah Saw dengan mendengarkan ayat-ayat dan riwayat terkait urusan imamah, wilayah dan khilafah Imam Ali As, setelah Rasulullah Saw, beriman kepadanya dan menerima kepemimpinannya serta termasuk orang-orang yang setia kepada Imam Ali As. Kelompok ini semenjak masa itu terkenal dengan sebutan Syiah Ali As.
Ibnu Khaldun dalam hal ini menulis, “Sebagian sahabat adalah Syiah Imam Ali dan memandangnya lebih layak atas yang lain dalam urusan khilafah.”[3]
Demikian juga disebutkan, “Sekelompok pembesar sahabat terkenal sebagai orang-orang yang berwilayah kepada Ali As pada masa Rasulullah Saw. Di antara sahabat itu adalah Salman Persia yang berkata, “Kami berbaiat kepada Rasulullah Saw demi kebaikan umat Islam dan mengikuti Ali bin Abi Thalib serta sebagai orang yang setia kepadanya.” Abi Said Khudri berkata, “Orang-orang (pada masa itu) diperintahkan kepada lima perkara: mereka mengerjakan empat perkara dan meninggalkan satu perkara.” Abu Said Khudri ditanya apa gerangan yang ditinggalkan itu?”  Ia menjawab, “Wilâyah Ali bin Abi Thalib As.”  Ia ditanya kembali, “Apakah wilâyah itu juga wajib seperti empat perkara lainnya?” Ia menjawab, “Iya. Mereka adalah Abu Dzar, Ammar bin Yasir, Hudzaifah bin Yaman, Dzu al-Syahadatain Khuzaimah bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Khalid bin Sa’id bin Ash, Qais bin Sa’ad bin Ibad.”[4]
Berdasarkan beberapa riwayat juga, Rasulullah Saw memberikan gelar Syiah pada masa hidupnya kepada para pengikut Amirul Mukminin Ali As misalnya sembari memberi isyarat (menunjuk) kepada Ali bin Abi Thalib As, Rasulullah Saw bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya orang ini dan Syiahnya adalah orang-orang yang meraih kemenangan di hari kiamat.”[5] [iQuest]


[1]. Untuk telaah lebih jauh terkait dengan hal ini silahkan lihat, Ali Asghar Ridwani, Syiah Syinâsi wa Pâsukh be Syubahât, jil. 1, hal. 39-41, Nasyr Masy’ar , Cetakan Kedua, Tehran, 1384 S; Firkah-firkah Penting Syiah, 922.
[2]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Syi’ah fi al-Islâm, hal. 21, Bait al-Kita, Cetakan Pertama, Beirut, 1999 M; Ja’far Subhani, al-Adhwâ ‘ala Aqâid al-Syi’ah al-Imâmiyah, hal. 17-18, Muassasah Imam Shadiq As; Sayid Muhammad Baqir Hakim, al-Imâmah wa Ahlulbait al-Nazhariyah wa al-Istidlâl, hal. 267, al-Markaz al-Islami al-Ma’ashir, Cetakan Pertama, Qum, 1424 H.
[3]. Abdurrahman bin Muhammad Ibnu Khaldun, Diwân al-Mubtada wa al-Khabar fi Târikh al-‘Arab wa al-Barbâr wa Man Asharahum min Dzawi l-Sya’n al-Akbar (Târikh Ibnu Khaldun), Riset oleh Khalil Syahadah, jil. 3, hal. 215, Dar al-Fikr, Cetakan Kedua, Beirut, 1408 H.
[4]. Ali Kurd, Khitath al-Syam, jil. 5, hal. 251, Muhammad bin Abdurrazzaq, Maktabah al-Nuri, Damaskus,,Cetakan Ketiga, 1403 H.
[5]. Ahmad bin Muhammad Ibnu Uqdah Kufi, Fadhâil Amir Al-Mu’minin As, Riset oleh Abdurrazzaq Muhammad Husain, Hirzuddin, hal. 219, Dalil Ma, Cetakan Pertama, Qum; Muhammad bin Hasan, Syaikh Thusi, al-Amali, hal. 251, Qum, Dar al-Tsaqafah, Cetakan Pertama, 1414 H.
«وَ الَّذِی نَفْسِی بِیَدِهِ، إِنَّ هَذَا وَ شِیعَتَهُ لَهُمُ الْفَائِزُونَ یَوْمَ الْقِیَامَة»

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *