Akhlak

Taubat dan Permohonan Maaf: Upaya untuk Menggapai Ampunan-Nya

ICC Jakarta –  Dalam Islam terdapat suatu aktivitas yang dinamakan taubat. Apabila seorang hamba Allah berbuat dosa, lalu ia ingin menyucikan dirinya dari dosa maka ia harus bertaubat. Taubat menjadi penting karena setiap manusia tidak pernah lepas dari dosa. Setiap saat atau setiap waktu, manusia cenderung berbuat dosa, baik itu disengaja maupun tidak sengaja. Jadi, adanya taubat ini untuk menghapus dosa kita. Coba kita bayangkan apabila tidak ada yang namanya taubat, semua manusia akan bingung pada saat hisab karena dosa-dosanya terlalu banyak menumpuk.

Taubat dan kembali kepada Tuhan yang senantiasa disertai dengan penyesalan dari dosa-dosa yagn lalu dan memutuskan untuk menjauhi dosa di masa akan datang serta menebus segala perbuatan (buruk) yang telah dikerjakan dengan mengerjakan perbautan-perbuatan baik. Terdapat banyak ayat yang menyinggung persoalan ini, namun untuk menyingkat ruang dan waktu, kami hanya akan menyebutkan satu ayat dari ayat-ayat yang ada. Allah Swt berfirman, “Huwalladzi yaqbal al-taubah ‘an ‘ibâdihi ya’fu ‘an al-sayyiati.” Dialah yang menerima taubat dari para hamba-Nya dan memaafkan segala kesalahan.” (Qs. Al-Syura [42]:25)

Hakikat “taubat” adalah penyesalan dari dosa. Keniscayaan taubat adalah keputusan serius untuk meninggalkan dosa di masa mendatang dan bertekad untuk menebus segala perbuatan yang dapat dilakukan. Menyebut isitighfar juga merupakan penjelas atas makna ini. Dengan demikian rukun-rukun taubat dapat disimpulkan dalam lima perkara: Pertama, meninggalkan dosa. Kedua, penyesalan. Ketiga, keputusan untuk meninggalkan dosa. Keempat, menebus segala kesalahan di masa lalu. Kelima, istighfar.

Maaf Ilahi yang mencakup orang-orang yang layak dan mereka adalah orang-orang beriman yang dulunya memandang enteng amalan atau terkontaminasi perbuatannya. Apabila mereka tercakup dalam maaf Ilahi dan layak untuk hal itu maka mereka akan tergabung dengan kelompok ahli surga dan apabila tidak tersangkut dengan ampunan Ilahi maka mereka akan digiring ke neraka. Namun ma’wa dan kedudukan mereka bukan di situ dan mereka tidak akan tinggal di tempat itu selamanya.

Kembali kami ingatkan bahwa maaf Ilahi bersyarat pada kehendak-Nya dan karena itu merupakan masalah umum dan bukan tanpa syarat, dan kehendak-Nya hanya terkait dengan orang-orang yang dapat membuktikan kelayakannya mendapatkan maaf Ilahi.

Karena itu, Allah Swt yang merupakan Sang Pencipta manusia dan Mahamengetahui seluruh tipologi manusia bahwa tersucikannya manusia dari segala dosa (betapa pun besar dosanya) sebagai sesuatu hal yang mungkin dan menyeru setiap orang kepada ampunan-Nya dan memberikan janji ampunan dan maaf sedemikian sehingga putus harapan dari ampunan dan maaf Tuhan dipandang sebagai dosa yang paling tinggi dan paling besar. Seluruh nabi Ilahi diutus untuk menyampaikan manusia kepada samudera tak-terbatas rahmat Ilahi sedemikian sehingga Rasulullah Saw disebut sebagai Nabi al-Rahmat (Nabi yang penuh kasih).

Apabila seorang mukmin menjaga imannya hingga akhir hayatnya, tidak melakukan dosa-dosa yang menyebabkan hilangnya taufik darinya, tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan su’ul khatimah (akhir yang buruk, unhappy ending), dan tidak condong kepada keraguan atau pengingkaran, singkat-nya jika ia meninggal dunia dalam keadaan mukmin, maka ia tidak akan mengalami siksa yang abadi, dosa-dosa kecilnya akan diampuni lantaran ia menjauhi dosa besar, dan akan diampuni pula dosa-dosa besarnya jika ia melakukan taubat dengan segenap syarat-syaratnya.

Namun, jika ia tidak sempat melakukan taubat, ketabahannya dalam menanggung berbagai musibah dan kesulitan dunia dapat meringankan beban dosa-dosanya, berbagai kesulitan dan goncangan alam barzakh serta tahap-tahap awal nusyur (kebangkitan) dan Hari Kiamat. Apabila dosa-dosa dan kesalahannya itu masih juga belum bisa disucikan dengan itu semua, syafa’at akan melakukan perannya untuk menyelamatkannya dari neraka. Syafa’at ini merupakan manifestasi rahmat Tuhan yang paling besar yang dianugerahkan kepada para kekasih-Nya, khususnya Rasul Saw dan Ahlul Baitnya yang mulia.

Akan tetapi pada saat yang sama, mereka tidak boleh merasa aman dari makar Tuhan. Hendaknya mereka waspada sehingga tidak melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan mereka su’ul khatimah (akhir buruk) dan tercabutnya iman pada saat ajal datang menjemput. Dan seyogyanya mereka tidak terikat dengan perkara-perkara duniawi, dan jangan sampai mengakar dalam hati-hatimereka sedemikian sehingga mereka meninggalkan dunia ini dalam keadaan Tuhan murka kepadanya (semoga Allah Swt melindungi kita dari hal ini).[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *