Mahdawiyah

Manfaat Keghaiban: Memperkuat Keyakinan Umat kepada Allah Swt dengan Keyakinan Mereka kepada Keberadaan Imam As

ICC Jakarta – Dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa pada masa-masa keghaiban Imam Mahdi As, khususnya pada waktu dan saat-saat tertentu, amalan-amalan manusia sebelum sampai kepada Allah Swt akan dilaporkan terlebih dahulu  kepada Imam Mahdi As. Dan apabila seseorang percaya dan yakin akan hal ini, maka secara otomatis dia akan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaan sehari-harinya.

Al-Kulaini dalam kitabnya, Kâfi menulis sebuah bab yang diberi judul “Bâb ‘ardh al-a’mâl ‘ala al-Nabi Saw wa al-Aimmah As (Dipaparkannya amalan-amalan manusia dihadapan Nabi Saw dan para Imam As)”. Dalam bab tersebut, Al-Kulaini menjelaskan berbagai riwayat tentang akan dilaporkannya amalan-amalan manusia kepada para Imam zamannya.

Sebagai contoh adalah riwayat keempat dalam bab ini menjelaskan bahwa, “Abdullah bin Aban -salah seorang yang memiliki kedudukan khusus dimata Imam Ridha as- meminta kepada Imam supaya mendoakannya dan juga mendoakan keluarganya. Kemudian Imam bersabda, “Tidakkah aku telah melakukannya? Demi Allah! Sungguh amalan-amalan kalian benar-benar dilaporkan ke hadapanku setiap hari dan malam.” Mendengar hal itu, Abdullah bin Aban menjadi sangat heran, hingga Imampun kemudian bersabda kepadanya, “Tidakkah engkau pernah membaca Kitabullah yang berbunyi, Waquli’malû fasayara Allahu ‘amâlakum wa rasûluhu wal Mukminûn (Dan katakanlah wahai Muhammad! Lakukanlah apa saja yang hendak kalian inginkan. Maka Allah benar-benar maha melihat perbuatanmu itu, demikian halnya Rasul-Nya dan orang-orang mukmin).” Beliau melanjutkan, “Demi Allah, maksud dari Al-Mukminûn dalam ayat tersebut adalah Ali bin Abi Thalib.[1]

Dengan meyakini dan mengetahui tentang riwayat-riwayat seperti ini akan menjadikan seseorang menjadi lebih terdidik dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Hal itu karena ia yakin bahwa selain Allah Swt, terdapat pula para malaikat, para nabi, dan Imam yang menyaksikan segala amal perbuatannya. (Dars Nameh Mahdawiyat II, Khuda Murad Salimiyan)

Catatan Kaki

[1]. Muhammad binYa’qub Kulaini, Kâfi, Teheran, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1365 HS, jil. 1, hal. 220.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *