Al-Quran

Parameter dan Batasan Pertemanan

ICC Jakarta – Manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan interaksi sosial. Interaksi yang akan membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam kehidupannya, baik interaksi sosial antara individu yang satu dengan individu yang lainnya atau interaksi antara individu atau kelompok atau sebaliknya. Yang perlu kita ketahui adalah batasan dan aturan-aturan yang harus kita perhatikan bagaimana menjalin komunikasi dan interaksi dengan orang lain. Teman yang selalu mengajak kepada-Nya bukan justru membuat jarak dan semakin menjauhi-Nya.

Allah Swt berfirman:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah: 31)

Ahbar dalam ayat ini berarti ilmuwan merupakan bentuk plural dari kata Hibr. Sementara kata Ruhban merupakan bentuk plural dari Rahib yang berarti orang yang meninggalkan dunia. Kedua kelompok manusia ini dengan segala kesuciannya hanyalah hamba Allah dan bukan sesembahan.

Imam Shadiq as berkata, “Ahli Kitab tidak melakukan sembahyang dan puasa untuk ulamanya, tapi ulama mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal lalu masyarakat mengikuti perbuatannya.”[1]

Ketaatan mutlak kepada orang lain merupakan model lain penyembahan kepada mereka. Untuk itu Imam Shadiq as berkata, “Man Atha’a Rajulan fi Ma’shiyah Allah Faqad ‘Abadahu… Barangsiapa yang menaati seseorang dalam maksiat berarti ia telah menyembahnya.”[2]

Dengan demikian, cinta, pertemanan dan ketaatan harus memiliki batasan. Setiap sistem, qutub (maqam dalam irfan), mursyid (guru dalam irfan), aturan organisasi dan partai dan yang lainnya bila sumbernya tidak berasal dari wahyu dan perintah Allah, maka itu guluw atau berlebih-lebihan. Begitu juga bila bersikap guluw kepada para nabi seperti menyembah sebagian dari mereka atau menyebut mereka sebagai anak-anak Allah. Karena itu sudah menjadi kesyirikan. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Mohsen Qarati, Daghayeghi ba Quran, Tehran, Markaz Farhanggi Darsha-i az Quran, 1388 Hs, cet 1.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *