Mahdawiyah

Beberapa Contoh Tawqi’ yang Muncul Setelah Masa Keghaiban Shughra

Beberapa contoh tawqi’ yang Muncul setelah Masa Keghaiban Shughra:

  1. Surat-surat yang sampai di tangan Syaikh Mufid yang diyakini sebagai tawqi’ Imam Mahdi As.

Pada mulanya, surat-surat tersebut ditulis oleh Abu Manshur Al-Thabarsi dalam kitabnya, Al-Ihtijâj. Abu Manshur adalah salah seorang ulama’ yang hidup di abad ke enam Hijriah. Sementara surat-surat (tawqi’) yang ia sebutkan dalam kitabnya, selain tidak memiliki sanad yang jelas, surat-surat (tawqi’) juga baru ditulis setelah berlalunya masa sekitar 100 tahun semenjak wafatnya Syaikh Mufid. Bahkan muridnya yang bernama Ibnu Syahr Asyub (wafat 588 H.Q.) juga telah mengisyaratkan akan hal itu. Sementara Ibnu Bithriq (wafat 600 H.Q.) yang nota bene adalah murid Ibnu Syahr Asyub, kemudian juga memaparkannya. Dalam kitab tersebut disebutkan, “Surat-surat ini telah sampai pada Syaikh Mufid melalui tangan salah seorang yang dapat dipercaya.” Anehnya, nama orang tersebut tidak disebutkan dalam kitab itu[1].

Yang menambah keraguan lagi adalah tidak adanya isyarat dari para murid Syaikh Mufid mengenai surat-surat (tawqi) tersebut. Misalnya apabila kita menyelusuri kitab dan karangan-karangan yang ditulis oleh sebagian murid-muridnya seperti Sayid Murtadha, Ibnu Idris, Najasyi, Syaikh Thusi, Abu Ya’la Ja’fari, Abul Fath Karajiki, Salar bin ‘Abdul ‘Aziz Dailami, dan lain-lainnya, maka kita tidak akan menemukannya[2].

Oleh karena itu, apabila Syaikh Mufid menerima tawqi tersebut, tentunya para muridnya pasti akan menuliskan dalam kitab dan karangan yang mereka tulis[3].

Selain itu, Syaikh Mufid dalam semua karya-karya pentingnya, juga tidak pernah menyinggung tentang surat-surat tersebut. Lalu, bagaimana mungkin sebagian orang masih bersikeras mengatakan bahwa surat-surat yang sampai di tangan Syaikh Mufid itu tidak lain adalah tawqi’ Imam Mahdi As?.

Al-‘Allamah Bahrul ‘Ulum Thaba’thabai dalam kitabnya, Rijâl dan Syaikh Khui dalam kitabnya, Mu’jam Rijâl al-Hadîs juga meragukan bahwa surat-surat tersebut adalah tawqi’ Imam Mahdi As. Adanya prediksi tentang beberapa kejadian yang akan terjadi pada masa depan yang disebutkan dalam tawqi’ tersebut juga tidak dapat dijadikan dalil akan kebenarannya. Hal itu karena tawqi’ tersebut baru muncul setelah terjadinya beberapa kejadian yang disebutkan dalam tawqi’ itu sendiri. Sehingga sangat dimungkinkan bahwa tawqi’ tersebut hanyalah palsu dan tipuan belaka.

  1. Sebagian penulis mengategorikan surat yang tertuju untuk Ayatullah Sayid Abul Hasan Al-Ishfahani yang diriwayatkan oleh Syaikh Muhammad Kufi adalah tawqi’ dan hadis dari Imam Mahdi As.

Dalam surat tersebut tertulis, “Berkhidmatlah kepada masyarakat! Duduklah tepat di depan pintu masuk rumahmu (supaya masyarakat lebih cepat dan lebih gampang menjalin hubungan denganmu). Dan penuhilah segala kebutuhan-kebutuhan mereka! Kami akan membantumu[4].”

Sebagai penutup dalam pembahasan tawqi’ ini, maka kita hendaknya tidak cepat-cepat mengklaim bahwa tawqi’ (yang saat ini selain diyakini berasal dari Imam Mahdi As, khat yang ada dalam tawqi’ tersebut juga dikatakan sebagai khat dan tulisan beliau) hanyalah bohong belaka. Karena bisa jadi bahwa apabila kita berbuat demikian, maka tidak ada yang untung kecuali hanyalah musuh-musuh kita.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kita tidak memiliki dalil yang kuat tentang bagaimanakah tawqi’ Imam Mahdi As itu muncul pada masa keghaiban sughra. Akan tetapi, dari beberapa riwayat yang ada, kita hanya dapat menyimpulkan bahwa pada masa itu, para duta dan utusan Imam Mahdi As adalah orang-orang yang bertugas untuk menyampaikan surat-surat yang datang dari kaum syiah kepada Imam Mahdi As. Maksimal setelah tiga hari, surat-surat itu akan mendapat jawaban dari Imam As. Dalam menjawab surat-surat yang datang dari kaum syiah tersebut, terkadang Imam As akan menjawabnya secara lisan kepada para duta khususnya yang kemudian merakapun akan mencatat jawaban tersebut ke dalam daftar mereka, dan terkadang Imam As akan datang langsung menemui para penanya dan memberikan jawaban secara langsung atau bahkan beberapa surat yang ada justru tidak mendapatkan jawaban dari Imam As. Semua ini tentu memiliki hikmah yang hanya Allah Swt dan hanya orang-orang yang diberi ijin-Nya yang mengetahuinya.

Tema-tema yang terkandung dalam tawqi’ Imam As memiliki cakupan yang sangat luas, baik mencakup ilmu-ilmu Agama atau ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu sosial kemasyarakatan dan lainnya.  (Dars Nameh Mahdawiyat II, Khuda Murad Salimiyan)

Catatan Kaki

[1]. Ahmad bin Ali Thabarsi, Ihtijâj, Masyhad, Murtadha, 1403 HQ , hal. 497.

[2]. Jam’i az Newisandegan, Cesym be Râh-e Mahdi Ajf, cetakan kedua, Qum, Daftar Tablighat-e Islami, 1378 HS, hal. 98.

[3]. Guruhi az Newisandegan, Fashlnameh-e Intizhar, Qum, Markaz-e Takhashushi-e Mahdawiyat, hal. 152.

[4]. Muhammad Khademi Syirazi, Majmu’eh-e Farmâyesyât-e Baqiyatullah Ajf, Qum, Resalat, 1377 HS, hal. 170.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *