Mozaik

Dr. Hasani Ahmad Said Ceritakan Tradisi Tilawah al-Quran di Iran

ICC Jakarta – Dosen Prodi Ilmu Alquran Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Dr. Hasani Ahmad Said, M.A dalam kunjungannya ke Iran selama dua pekan dan sempat mengikuti langsung efouria rakyat Iran merayakan peringatan hari kemenangan Revolusi Islam Iran pada 11 Februari lalu, berbagi cerita dan pengalaman. 

Doktor terbaik UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2011 tersebut menyebut kedatangannya pertama kali di Iran telah memberikan pengalaman yang sangat mengesankan. Melihat langsung Iran dan merasakan denyut nadi rakyat Iran dari dekat menurutnya sangat penting untuk membangun persepsi yang benar mengenai Iran. 

Pengisi Kajian Serambi Islami TVRI dan Cahaya Hati ANTV tersebut menyayangkan masih adanya kelompok yang lebih disibukkan mencari titik perbedaan dalam tubuh umat Islam untuk diperselisihkan. Menurutnya, yang relevan dan perlu dilakukan umat Islam saat ini, adalah menggalang persatuan dan ukhuwah Islamiyah. “Persatuan, adalah kekuatan besar umat Islam yang ditakuti musuh-musuh Islam.” Tegasnya.

Pada kesempatan kali ini, ia menceriterakan pengalamannya tentang tradisi tilawah yang ada di Iran:

“Tradisi tilawah al-Quran di Iran bisa dibilang sangat maju, dalam even-even musabaqah Internasional nama Iran masih menduduki rangking dunia. Dalam mengundang para qari-qari internasional, Iran termasuk yang sering mengadakan haflah haflah tilawatil Alquran. Telah banyak lahir qari-qari sekaliber internasional, misalnya Syekh Syakir Najd,” ujarnya.

Suatu waktu, Pusat Studi al-Quran pimpinan Prof. Dr. M. Quraish Shihab kedatangan tamu para qari dan hafidz-hafidz cilik dari Iran. Dr. Hasani adalah salah seorang yang ikut serta dalam penyambutan para tamu tersebut. Dalam perbincangan di acara tersebut, rombongan asal Iran membuka salah satu “rahasia” kesuksesan mereka dalam memelihara tradisi al-Quran. Rahasia tersebut adalah bahwa  para qari dan hafidz di Iran, sebelum belajar al-Quran, mereka selalu diajarkan pelajaran tentang akhlak selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

“Jadi sangat tidak beralasan ada tuduhan Syiah punya Alquran sendiri dan tuduhan-tuduhan lain. Dengan keberadaan saya di Iran selama dua minggu, anggapan-anggapan ini terus saya buktikan, dan akhirnya saya berkesimpulan tuduhan ini tidak benar,” ujarnya.

Dr. Hasani kemudian menambahkan, “paling tidak ada beberapa hal yang bisa menguatkan pandangan saya. Pertama,  saya membaca langsung mushaf cetakan Iran, dari hasil bacaan itu saya tidak menemukan ada kejanggalan dengan mushafnya. Kedua, saya datang langsung ke percetakan al-Quran di Iran, ternyata tidak saya temukan juga keganjilan sebagaimana sangkaan. Bahkan saya menemukan kertas yang dipakai untuk al-Quran di Iran harus berlabel halal, (dan) salah satunya yang digunakan adalah sertifikat halal MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan kertas impor dari Indonesia. Ketiga, ketika dalam forum diskusi juga sempat saya menanyakan langsung kepada orang Syiah di Iran, dan jawaban mereka tidak ada perbedaan dan tidak benar bahwa Syiah meyakini adanya tahrif (perubahan) dalam al-Quran.”

 

Tradisi Keilmuan di Iran

Dr. Hasani menaruh perhatian terhadap tradisi keilmuan di Iran. Menurutnya tradisi hauzah (pesantren) di Iran perlu dicontoh. “Seseorang dinilai alim dengan tingkatan derajat mujtahid, Ayatullah dengan penguasaan ratusan kitab dengan macam-macam keilmuannya dan dengan pakaian tersendiri yang mencirikan ustadz atau ulama. Sehingga, tidak ada muncul istilah ustadz karbitan, kiai gadungan, dan lain sebagainya. Karena proses keilmuan dan standarisasinya jelas. Jubah dan sorban tidak sembarang orang memakainya, kecuali orang alim yang telah diijazahkan. Yang mendakwahkan Islam melalui televisi, bukan orang yang asal bisa bicara, hapal hadis dan ayat sekadarnya. Di Indonesia, siapapun bisa mengenakan jubah ulama, bahkan bisa sampai tampil di televisi meskipun tanpa ilmu yang mumpuni. Ini jelas menipu diri sendiri dan juga masyarakat,” jelasnya.

Selain itu dia juga menyoroti tentang rasa percaya diri yang dimiliki oleh warga Iran, dia berkata, “hal positif lain yang bisa ditiru, adalah soal kemapanan dan kepercayaan diri bangsa. Kendati Iran di embargo, namun kemandirian dan ketaatannya pada ajaran Islam mampu menjadikan negara mereka digdaya dan mandiri.”

 

Kampanye Negatif Tentang Syiah

Tentang kampanye negatif terhadap Syiah dan Iran yang belakangan ini sering didengungkan di Indonesia, Dr. Hasani mempunyai penilaian sendiri, dia berkata, “tanggapan saya tentang kelompok yang mengkampanyekan permusuhan dan kebencian kepada Iran, lebih lagi isu Sunni-Syiah, lebih baik dihentikan atas dasar persatuan Islam. Memperseterukan Sunni-Syiah adalah politik pecah belah. Kalau tidak dihentikan, maka benih-benih kebencian akan berubah menjadi bara api dan suatu saat akan meledak. Maka, bersatulah umat Islam, maka akan menggetarkan musuh-musuh Islam.”

Menurutnya, perbedaan antara Sunni dan Syiah adalah sebuah kepastian, namun baginya itu bukanlah suatu hal yang relevan untuk dijadikan perbenturan, persatuan adalah suatu hal yang lebih penting. “Kalau ada perbedaan itu pasti. Jangankan berbeda mazhab, satu mazhab pun kalau mau mencari titik seteru pasti ada. Namun bukan itu yang kita kedepankan. Ukhuwah islamiyah adalah sebuah keniscyaaan. Dan sekali lagi ini kekuatan terbesar Islam yang ditakuti musuh-musuh Islam,” ujarnya.

Terakhir dia menitip pesan kepada mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di Iran, dia berkata, “pesan saya untuk mahasiswa Indonesia yang di Iran, jadilah mahasiswa yang baik. Tidak perlu menjadi Syiah meski belajar di negara mayoritas Syiah. Bagi yang Syiah, teruslah menebar kasih sayang dan kemuliaan sebagaimana ajaran Islam dan Ahlulbait. Jangan gentar jika disebut Syiah. Sebagaimana pesan Imam Syafi’i, andai karena mencintai Ahlulbait kita dituduh Syiah, maka tuduhlah aku Syiah.”

Sumber: ABNA

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *