Mahdawiyah

Menjalin Hubungan Dengan Imam Mahdi As Di Masa-Masa Keghaiban – Bagian 4 (Habis)

ICC Jakarta – Terkait mengenai bagaimana cara seseorang menjalin hubungan dengan Imam Mahdi Afs, terdapat empat pandangan penting:

  1. Seseorang tidak akan dapat berjumpa dengan Imam Mahdi As secara mutlak
  2. Seseorang akan berjumpa dengan Imam As, akan tetapi ia tidak akan mengenalnya.
  3. Seseorang, disamping dapat berjumpa dengan Imam As, juga dapat mengenalnya. Akan tetapi, ia dilarang menceritakan kepada orang lain.
  4. Seseorang selain berjumpa dengan Imam As, juga dibolehkan menceritakan perjumpaannya kepada orang lain.                                                                                                                                                                                                    Penjelasan poin ke empat adalah sebagai berikut:Sebagian ulama’ syiah berpendapat bahwa pada masa ghaibah kubra, terdapat manusia-manusia yang berhasil berjumpa dengan Imam Mahdi As. Pendapat ini semakin terkenal pada masa-masa terakhir dan hal ini muncul karena adanya kisah-kisah yang menyebutkan tentang perjumpaan seseorang dengan Imam Mahdi As pada masa keghaiban kubra.Mereka percaya bahwa sampai saat ini, terdapat sejumlah  kitab yang mengisahkan tentang perjumpaan seseorang dengan Imam Mahdi As dan jumlah yang sangat banyak ini menjadikan seseorang akan sulit untuk mengingkarinya.

    Banyaknya kisah-kisah itu kemudian menjadi dalil utama (sebagai pembuktian bahwa Imam Mahdi As dapat dilihat pada masa ghaibah kubra) yang senantiasa mereka utarakan. Mereka senantiasa berkata “Bagaimana mungkin kita dapat katakan bahwa pengakuan yang begitu banyak adalah bohong belaka?”

    Sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut, sebagian mengatakan bahwa bagaimana mungkin kita akan sampai pada tingkat keyakinan, sementara dalil-dalil yang digunakan hanya bersandar dengan kisah-kisah belaka. Pada sisi lain, kita sendiri juga meyakini bahwa tidak semua kisah-kisah yang ada adalah benar. Lantas, bagaimana mungkin kita dapat sampai kepada tingkat keyakinan, sementara kita tidak meyakini akan kebenaran kisah-kisah yang ada!.

    Mereka menambahkan, jangan sampai ada orang yang beranggapan bahwa banyaknya kisah-kisah yang menceritakan tentang perjumpaan seseorang dengan Imam Mahdi As menjadikan kisah tersebut menjadi kisah yang mutawatir sehingga harus di percaya akan kebenarannya. Hal itu karena “sesuatu” akan sampai pada derajat mutawatir, apabila ia memiliki kesamaan dari sisi kandungan dan tema. Sedangkan kita sendiri melihat bahwa dalam kisah-kisah yang ada, yang menceritakan tentang perjumpaan dengan Imam Mahdi As tidaklah demikian. Oleh karena itu, kebenaran akan kisah-kisah itu masih perlu kita pertanyakan.

    Selain itu, “perjumpaan dengan Imam Mahdi As” yang disebutkan dalam kitab-kitab tersebut, ternyata juga memiliki arti dan makna yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Diantaranya adalah;

    Maksud dari perjumpaan tersebut itu kebanyakan berkenaan dengan perjumpaan pada masa ghaibah shughra (yaitu, hanya pada masa ghaibah shughra Imam Mahdi As dapat di temui).

    Pada kisah-kisah yang ada, disebutkan bahwa sebagian ulama’ telah berjumpa dengan Imam Mahdi As. Akan tetapi, kisah-kisah tersebut rata-rata tidak memiliki sanad yang kuat.

    Sebagian dari kisah-kisah yang ada menyebutkan bahwa seseorang dapat berjumpa dengan Imam Mahdi As hanya di alam mimpi.

    Pada kisah-kisah itu juga disebutkan bahwa maksud dari pertemuan dengan Imam Mahdi As adalah hanya sekedar mendengar suara beliau, dan bukan berjumpa dan bertatap muka dengannya.

    Orang-orang yang mengaku telah berjumpa dengan Imam Mahdi As tersebut, mayoritas pengakuan mereka hanya perkiraan semata (tidak sampai kepada tingkat yakin).

    Arti dan maksud dari perjumpan dengan Imam As, sebagian besar hanya sebagai karamah Imam Mahdi As yang diberikan kepada seseorang, artinya perjumpaan dengan Imam Mahdi As tidak terjadi.

    Tema “berjumpa dan melihat”, yang di sebutkan dalam kisah-kisah tersebut masih memiliki banyak pertanyaan. Sebagai contoh adalah kisah kepulauan khadhra’.

    Yang dimaksud dari melihat di sini bukan melihat dengan mata telanjang, akan tetapi pada dasarnya adalah mukasyafah (penglihatan yang disertai dengan kebersihan hati dan pikiran). Oleh karena itu, hal ini telah keluar dari pembahasan kita sekarang.

    Memang benar bahwa perjumpaan dengan Imam Mahdi As merupakan satu keutamaan yang sangat besar. Akan tetapi, yang lebih penting bagi kita untuk kita lakukan sekarang adalah hendaknya kita belajar lebih mendalam untuk mengenal siapa sebenarnya Imam Mahdi As. Dan ketika kita sudah mengenal siapa kah Imam Mahdi As, maka kita harus berusaha mengamalkan segala perintah-perintahnya. Sehingga dengan begitu, kitapun akan mendapat keridhaan dari Allah Swt. Hendaknya kita tidak lupa bahwa betapa banyak orang yang hidup pada masa Nabi Muhammad Saw dan Para Imam Suci Ahlulbait As, mereka melihat dan bertemu dengan manusia-manusia pilihan tersebut, akan tetapi mereka tidak dapat mengambil banyak manfaat darinya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang justru membuat Nabi Saw dan para Imam Suci Ahlulbait As tersebut menjadi marah. Wa na’udzu billâhi min dzâlik.[]

    (Dars Nameh Mahdawiyat II, Khuda Murad Salimiyan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *