Ahlulbait

Imam Jawad, Bintang Dalam Etika, Hikmah dan Kesempurnaan Akal

ICC Jakarta –  Imam Jawad as adalah putra Imam Ali al-Ridha as. Imam as dididik langsung oleh ayahandanya selama 4 tahun, dan kemudian dipisahkan oleh penguasa Abbasiyah karena Imam Ali al-Ridha as dipaksa pindah dari Madinah ke Khurasan, Iran. Dan 4 tahun kemudian Imam Ali al-Ridha as menjemput kesyahidan karena diracun oleh khalifah Al-Makmun.

Imam Jawad as memegang tanggung jawab kedudukan Imamah pada usia 8 tahun setelah syahadah ayah beliau.

Sejak kanak-kanak Imam as telah menunjukkan sifat-sifat yg mulia serta tingkat kecerdasan yg sangat tinggi hingga menimbulkan kekaguman orang-orang dewasa yg mengakui akan keilmuannya, termasuk ulama-ulama pada zaman beliau. Imam Jawad as mengungguli mereka semua, baik dalam bidang fiqih, hadis, tafsir dan yg lainnya.

Daud bin Qasim mengatakan, suatu hari kami pergi ke kebun bersama Imam Jawad as. Aku berkata kepadanya, aku menjadi tebusanmu! Aku sangat gemar memakan tanah. Tolong doakan untukku! (supaya menjauhkan kebiasaan buruk ini). Imam tidak memberikan jawaban dan setelah beberapa hari, dengan tanpa pendahuluan beliau berkata: Wahai Abu Hasyim! Allah telah menjauhkanmu dari memakan tanah. Abu Hasyim berkata: Setelah itu tidak ada sesuatu yang lebih buruk dan lebih aku benci ketimbang tanah.Imam Jawad a.s. meneruskan program ayahnya dalam berdakwah dengan menyadarkan masyarakat secara ideologi. Ia mengundang fuqaha` dari berbagai penjuru negeri Islam untuk berdiskusi dengan tujuan supaya mereka dapat mengambil pelajaran dari petunjuk-petunjuknya.

Syeikh Mufid berkata: “Ma`mun sangat menyukai Imam Jawad a.s. Karena ia –dengan usia yang begitu muda– sudah berhasil menjadi orang, baik dalam bidang keilmuan maupun dalam etika. Dalam bidang hikmah dan kesempurnaan akal, ia telah berhasil sampai kepada suatu tingkat yang para ulama kaliber pada masanya tidak mampu menyamainya”.

Belianya usia Imam Jawad a.s. adalah sebuah mukjizat yang (dengan keluasan pengetahuan yang dimilikinya) sangat mempengaruhi para penguasa saat itu. Ketika ayahnya syahid, ia hanya berusia kurang dari 8 tahun. Pada usia itu juga, ia harus memegang tampuk keimamahan.

Imam Jawad a.s. selalu mengadakan hubungan erat dengan kekuatan masyarakat yang siap mendukungnya. Mu’tashim merasa khawatir dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Imam a.s. Oleh karena itu, ia memerintahkannya untuk kembali ke Baghdad. Begitu Imam Jawad a.s. memasuki kota Baghdad, Mu’tashim dan Ja’far, putra Ma`mun selalu membuat rencana untuk membunuhnya. Akhirnya pada akhir bulan Dzul Qa’dah 220 H. mereka berhasil melaksanakan niatnya tersebut.

Imam Jawad a.s. menjalani mayoritas kehidupannya pada masa Ma`mun. Oleh karena itu, ia tidak begitu banyak mendapat tekanan pada masa ini. Melihat kesempatan yang ada, ia menggunakannya dengan sebaik-baiknya untuk menyebarkan missi Islam.

Pada kesempatan ini kami haturkan kepada para pembaca budiman hadis-hadis pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Jawad a.s. selama ia hidup.

1.Mukmin perlu kepada tiga hal

“Seorang mukmin perlu kepada taufik dari Allah, penasihat dari dalam dirinya dan menerima nasihat orang yang menasihatinya”.

2.Kokohkan terlebih dahulu kemudian tampakkan!

“Mengeksposkan sesuatu sebelum diperkokoh tidak lain adalah kerusakan belaka”.

3.Terputusnya nikmat akibat tidak bersyukur

“Tambahan nikmat dari Allah tidak terputus selama rasa bersyukur seorang hamba tidak terhenti”.

4.Mengakhirkan taubat

“Mengakhirkan taubat adalah semacam menipu diri sendiri, selalu berjanji yang tidak pernah ditepati adalah semacam kebingungan (batin), mencari-cari alasan di hadapan Allah adalah kehancuran dan melakukan maksiat secara kontinyu adalah merasa aman dari makar-Nya. “Maka tidak akan merasa aman dari makar Allah kecuali kaum yang fasik”.

5.Surat Imam Jawad a.s. kepada salah seorang sahabatnya

“Kami semua di dunia ini berada di bawah pimpinan orang lain. Akan tetapi, barang siapa yang sesuai dengan kehendak imamnya dan mengikuti agamanya, maka ia akan selalu bersamanya di mana pun ia berada. Dan akhirat adalah dunia keabadian”.

6.Tanggung jawab mendengarkan

“Barang siapa yang mendengarkan kepada seorang pembicara (dan seraya mengikuti semua ucapannya) sesungguhnya ia telah menyembahnya. Jika pembicara tersebut berasal dari Allah, maka ia telah menyembah Allah, dan jika pembicara tersebut berbicara atas nama Iblis, maka ia telah menyembah Iblis tersebut”.

7.Merelai sama dengan menerima

“Barang siapa yang menyaksikan sebuah perkara kemudian ia mengingkarinya, maka ia seperti orang yang tidak pernah melihatnya. Dan barang siapa tidak menyaksikan sebuah peristiwa lalu merelainya, maka ia seperti orang yang menyaksikannya”.

8.Wasiat Imam Jawad a.s.

“Jiwa dan seluruh harta kita adalah anugerah Allah yang sangat berharga dan pinjaman dari-Nya yang telah dititipkan (kepada kita). Segala yang dianugerahkan kepada kita adalah pembawa kebahagiaan dan kesenangan, dan segala yang diambilnya (dari kita), pahalanya akan tersimpan. Barang siapa yang kemarahannya mengalahkan kesabarannya, maka pahalanya telah sirna. Dan kami berlindung kepada Allah dari hal itu”.

9.Bersahabat dengan sahabat Allah

“Allah pernah mewahyukan kepada sebagian para nabi a.s.bahwa sikap zuhudmu terhadap dunia akan membahagiakanmu dan penghambaanmu terhadap diri-Ku karena Aku akan memuliakanmu. Akan tetapi, apakah engkau telah memusuhi musuh-Ku dan bersahabat dengan sahabat-Ku?'”.

10.Sebuah nasihat

“Bertemanlah dengan kesabaran, peluklah kefakiran, tolaklah nafsu dan tentanglah segala keinginanmu. Dan ketahuilah bahwa engkau tidak akan lepas dari pandangan Allah. Oleh karena itu, periksalah keadaan dirimu”.

11.Ulama yang terasingkan

“Ulama akan terasingkan karena banyaknya orang-orang bodoh (yang tidak mau memahami nilai mereka)”.

12.Sumber ilmu Imam Ali a.s.

“Rasulullah SAWW mengajarkan seribu kalimat kepada Ali a.s. Dari setiap kalimat bercabang seribu kalimat (yang lain)”.

13.Pesan Rasulullah SAWW kepada Fathimah a.s.

“Sesungguhnya Rasulullah SAWW pernah berpesan kepada Fathimah a.s. seraya bersabda: “Jika aku meninggal dunia, janganlah engkau mencakar-cakar wajahmu, janganlah engkau uraikan rambutmu, janganlah berkata ‘celakalah aku’ dan janganlah mengumpulkan para wanita untuk menjerit-jerit menangisiku. Ini adalah kebajikan (ma’ruf) yang Allah firmankan dalam ayat-Nya: “Dan mereka tidak menentangmu dalam kebajikan”. (Al-Mumtahanah : 12)

14.Imam Mahdi a.s.

“Al-qa`im dari keluarga kami adalah Mahdi yang wajib untuk ditunggu ketika ia menjalani ghaibah dan ditaati ketika ia muncul. Ia adalah anakku yang ketiga (Imam Mahdi bin Imam Hasan Al-Askari bin Imam Ali Al-Hadi dan a.s.–pen.)”.

Selamat atas milad Imam Jawab bin Ali al-Ridha, semoga menjadi hari bahagia bagi kita semua…. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *