Islam Mancanegara

Tujuan dan Dampak Serangan AS ke Suriah

ICC Jakarta – Sekretaris jenderal Hizbullah Lebanon mereaksi serangan militer Amerika Serikat, Inggris dan Perancis ke Suriah. Sayid Hassan Nasrullah dalam pidatonya pada hari Minggu, 15 April 2018 menjelaskan tujuan dan dampak dari serangan AS dan sekutunya ke Suriah.

Militer AS, Inggris dan Perancis melancarkan serangan udara ke Suriah pada Sabtu dini hari untuk menarget sejumlah posisi di negara ini dengan melibatkan rudal jelajah, Tomahawk. Serangan tersebut dilancarkan atas dasar klaim penggunaan senjata kimia oleh militer Suriah di kota Douma.

Sekjen Hizbullah mengatakan, setiap kali pemerintah Suriah mencapai prestasi dan keberhasilan penting, maka AS dan sekutunya akan mengulang skenario penggunaan senjata kimia, dan tindakan seperti ini kemungkinan akan diulang di masa mendatang.

Keberhasilan terpenting militer Suriah dalam situasi saat ini adalah berakhirnya operasi pembebasan Ghouta Timur dari pendudukan kelompok-kelompok teroris. Kesuksesan besar ini berarti bersihnya pinggiran Damaskus dari keberadaan teroris dan kelanjutan proses kemenangan pasukan Suriah dan sekutunya di medan tempur melawan kelompok-kelompok teroris dukungan Barat.

Menurut Sayid Nasrulah, salah tujuan tepenting serangan AS dan sekutunya ke Suriah adalah untuk mengubah kondisi di Suriah yang menguntungkan rezim Zionis Israel dan negara-negara penentang pemerintah Damaskus.

Kemenangan militer Suriah di berbagai medan tempur tidak hanya membuktikan bahwa penggunaan kelompok-kelompok teroris untuk meruntuhkan pemerintah sah Suriah tidak efektif, namun juga memperkuat posisi pemerintah Damaskus dalam perundingan politik yang sedang berlangsung.

Tidak diragukan lagi, salah satu dampak keberhasilan pasukan Suriah di medan tempur dan pembebasan kota demi kota dari pendudukan kelompok-kelompok teoris adalah menguatnya semangat dan kepercayaan rakyat Suriah kepada pemerintah Damaskus dan sekutunya.

Sekjen Hizbullah meyakini bahwa serangan udara AS dan sekutunya juga bertujuan untuk menarget semangat rakyat Suriah dan melemahkannya. Terkait hal ini, Sayid Nasrullah menyinggung  menjelaskan dua hal penting.

Menurutnya, keberhasilan unit pertahanan udara Suriah yang menembak jatuh mayoritas rudal AS dan sekutunya telah memperkuat kepercayaan rakyat negara itu kepada kemampuan militer Suriah dalam menghadapi serangan asing. Oleh karena itu, menurut Sayid Nasrullah, menguatnya kepercayaan rakyat Suriah kepada pemerintah adalah salah satu dampak dari serangan AS dan sekutunya.

Dampak kedua dari serangan udara AS, Inggris dan Perancis ke Suriah adalah “semakin rumitnya proses politik” untuk menyelesaikan krisis Suriah. Selama tahun 2017 –bersamaan dengan kekalahan berturut-turut para teroris di Suriah– digelar perundingan politik tentang masa depan Suriah, seperti perundingan Astana, Jenewa dan Sochi.

Perundingan Astana dan Sochi merupakan inisiatif Rusia tentang Suriah yang didukung oleh Republik Islam Iran dan Turki. Namun perundingan Jenewa adalah adalah kelanjutan dari upaya di bawah pengawasan PBB.

Perundingan Astana dan Sochi telah mencapai prestasi penting untuk memecahkan krisis Suriah, bahkan hingga tahap sensitif untuk mengambil keputusan, terutama tentang konstitusi dan tatanan politik masa depan Suriah. Namun perundingan Jenewa tidak memiliki hasil konstruktif untuk krisis Suriah.

Prestasi tersebut menunjukkan keunggulan Rusia, Iran dan paling tidak Turki dalam krisis Suriah dan marjinalisasi kekuatan-kekuatan Barat yang dipimpin oleh AS dan poros Arab, penentang pemerintah Damaskus.

Presiden AS Donald Trump, Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Theresa May merancang serangan ke Suriah sebagai upaya untuk menyabotase proses perundingan politik guna menyelesaikan krisis di negara ini. Oleh karena itu, Sekjen Hizbullah mengatakan bahwa salah satu dampak serangan militer AS dan sekutunya adalah memperumit proses politik Suriah.

Poin lain dari pidato Sayid Nasrullah adalah menyinggung serangan terbatas AS dan sekutunya ke Suriah yang berlangsung sekitar 50 menit. Menurutnya, serangan terbatas itu menunjukkan pengakuan AS dan sekutunya atas kekuatan Poros Muqawama (perlawanan).

Sebelum meluncurkan rudal-rudalnya ke Suriah, AS dan sekutunya menggaungkan kekuatan serangannya tersebut dan dampak dekstruktifnya, namun faktanya, serangan itu gagal dan mayoritas rudalnya berhasil dihancurkan militer Suriah di udara, bahkan media Barat juga mengakui kegagalan serangan AS, Inggris dan Perancis. Surat kabar The Washington Post menulis, serangan ke Suriah alih-alih merugikan negara ini, namun telah merusak kredibilitas AS di arena internasional. (RA/Pars Today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *