Filsafat

Tafsir Surah al-Takatsur ayat 5 dan 6: Mukasyafah Qalbu

ICC Jakarta – Pada prinsipnya, makhluk yang ada di dunia ini terbagi ke dalam dua kelompok:

Makhluk material. Yaitu, makhluk yang bisa disentuh yang disebut juga dengan alam fisis, yaitu alam materi.
Makhluk nonmaterial. Yaitu, makhluk yang tersembunyi dari sentuhan indra kita yang biasa disebut juga dengan alam gaib.
Akan tetapi, terkadang manusia bisa menemukan persepsi dan pandangan baru yang membuatnya menemukan jalan untuk memasuki alam gaib dan menyaksikan alam gaib tersebut dengan pandangannya (sesuai dengan kemampuannya masing-masing). Dengan kata lain, tirai yang berada di hadapannya telah tersibak dan ia menemukan sebagian realitas yang terdapat di alam gaib dengan jelas, sebagaimana jelasnya manusia menyaksikan alam materi ini dengan mata kepalanya. Bahkan, hal itu lebih jelas dan lebih meyakinkan beberapa kali lipat. Kondisi inilah yang disebut dengan mukasyafah atau pencerapan kalbu.

Ini adalah sebuah topik pembahasan yang telah direfleksikan dalam surat At-Takatsur [102], ayat 5 dan 6 yang menegaskan:

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ.  لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat  Jahannam.”

Tentang pelaku kriminal dan mukminin, telah ditegaskan dalam literatur Islam yang beragam bahwa ketika seseorang sedang menghadapi kematian, mereka akan mengalami penyingkapan batin dan menyaksikan para malaikat atau ruh-ruh suci para wali Allah yang datang menghampirinya, sementara orang-orang yang berada di sekitar mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mempersepsikan persoalan ini.

Hal inilah yang disaksikan oleh Rasulullah saw. dalam perang Khandaq, saat beliau berada di antara percikan api yang muncul dari sabetan beliung di atas pecahan batu. Beliau bersabda, “Aku melihat istana-istana Kisra Persia, kaisar Romawi, dan istana raja-raja Yaman.”

Dan ini pula yang telah dinukil dalam sebuah hadis terkenal tentang Aminah, ibunda mulia Rasulullah saw. pada masa kehamilan beliau yang mengatakan, “Aku menyaksikan sebuah cahaya keluar dari dalam diriku dan aku melihat istana negeri Basra di Syam dengannya.” Ini bukan sebuah wahyu dan bukan pula ilham kalbu, akan tetapi sebuah penyaksian, penglihatan, dan penyingkapan mata batin yang berada dalam tingkatan yang lebih tinggi dari penyaksian alam material.

Ini pulalah yang dikatakan oleh Sanaj yang menegaskan, “Jika dibukakan bagimu mata untuk menyaksikan kegaiban, maka butiran-butiran alam ini akan berbagi rasa denganmu. Pada waktu itulah kamu akan mendengar percakapan air dan bunga, dan dengan mendengar nyanyian tasbih para makhluk alam, keraguan seluruh takwil akan menjadi sirna. Sungguh telinga manusia asing tidak akan mendengarkan realitas ini. Akan tetapi, seorang insan yang akrab dengan kerahasiaan mempunyai kelayakan untuk mendengarkan nyanyian dan rahasia ini.”

Oleh karena itu, mukâsyafah dan penyaksian mata batin dalam ibarat yang pendek bisa didefinisikan sebagai berikut:

Mukâsyafah dan penyingkapan batin adalah menemukan jalan menuju alam nonmaterial dan penyaksian realita alam itu dengan mata batin, persis seperti penyaksian alam material. Bahkan, intensitasnya lebih kuat. Atau mendengar bisikan-bisikan tersebut dengan menggunakan telinga jiwa.

Tentu saja tidak harus semua orang yang mengklaim dirinya mempunyai kemampuan semacam ini bisa segera diterima dan tidak pula cerita setiap pengklaim harus didengar. Akan tetapi, pembahasan kita hanya berkisar pada adanya sumber makrifat semacam ini. Kemudian masih terdapat pula pembahasan tentang bagaimana hal ini bisa diperoleh, dan bagaimana metode memeriksa klaim yang benar dan yang bohong. [Syiahahlilbait.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *