Maarif Islam

Makna Allah Cahaya Langit dan Bumi

ٱللهُ نُورُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ

Allah adalah cahaya seluruh langit dan bumi”

Apabila kita berkata “Allah Cahaya langit dan bumi” maka hal itu bermakna bahwa Allah itu terang dan menerangi. Pencipta langit dan bumi. Redaksi langit-langit dan bumi menandaskan seluruh semesta, keberadaan, seluruh makhluk yang tinggi dan rendah, alam ghaib dan alam dunia.  Tidak semata-mata bermakna semata langit-langit yang berada di atas kepala kita ini atau bumi yang kita jejak ini. Karena itu, makna ayat adalah bahwa “Allah adalah cahaya seluruh semesta.” Redaksi yang digunakan di sini adalah “cahaya” bukan “pencipta” maksudnya adalah untuk menarik perhatian terhadap masalah ini bahwa sebagaimana cahaya itu adalah terang secara esensial dan tidak membutuhkan pada sesuatu yang lain untuk meneranginya, ia juga menerangi (muzhir) dan memberikan cahaya kepada yang lain, demikian juga adanya dengan Allah Swt yang tidak memerlukan sesuatu untuk menampakkan atau menerangi-Nya. Dia adalah Entitas dan Eksisten yang Nampak, Terang, Jelas dan Gamblang. Penalaran untuk menetapkan Wujud-Nya tidak memerlukan media. Dan Dialah Penampak dan Pengada seluruh entitas dan eksiten di alam semesta. Menukil Haji Sabzawari, “Yaa Man Huwa ikhtafa lifirthi Nurihi.”  (Wahai yang menghilang lantaran gemerlapnya cahaya-Nya).

Dengan demikian, sebagaimana urafa (mengikuti irfan para nabi dan imam As) menjelaskan Tuhan menjelma dalam artian dan penerangan sempurna. Dan untuk memusatkan perhatian dan peringatan kepada-Nya, tidak diperlukan media makhluk-makhluk-Nya. Dengan kata lain, untuk menalar wujud Tuhan maka yang harus digunakan adalah burhan limmi bukan burhan inni. Pertama-tama Tuhan yang harus dikenal dan berangkat dari pengenalan terhadap-Nya manusia dapat memahami seluruh makhluk-Nya. Bukan sebaliknya. Pertama-tama mengenal makhluk-Nya kemudian dengan mengenal makhluk-Nya maka Tuhan dapat dikenal.

 Sebagaimana dalam doa Arafah Imam Husain As disebutkan, “Ilahi turaddidu fii al-atsar yujibu ba’da al-mizar” Tuhanku! Perhatian kepada karya dan seluruh makhluk-Mu telah membuatku jauh dari persuaan dan ziarah kepada-Mu.” Amirul Mukminin dalam doa Kumail lamat-lamat merintih dalam doa, “Binur Wajhika alladzi Adha’ lahu Kullu Syai.“ (Dengan (perantara) cahaya wajah-Mu yang menerangi segala sesuatu)”

Apabila bukan karena cahaya wajah-Mu dan Dzat-Mu maka seluruhnya dalam kegelapan. Artinya segala sesuatu tiada dan segala sesuatu pada kegepalan ketiadaan. Apabila bukan karena cahaya Dzat-Mu segala sesuatu dalam kegelapan “ketiadaan.” Bukan segala sesuatu berada pada kegelapan seperti kegelapan malam. Oleh itu, harus dikatakan bahwa: Allah Swt adalah murni cahaya. Dan di hadapan-Nya tiada satu pun yang bercahaya dan segala cahaya di hadapan-Nya adalah kegelapan (zhulmat), lantaran hanya pada Entitas yang pada Dzat-Nya nampak dan menampakkan. Terang dan menerangi hanyalah Tuhan; segala sesuatu yang lain apabila ia nampak dan menampakkan, terang dan menerangi maka sesungguhnya pada dzat mereka adalah “kegelapan,” dan Tuhanlah yang menjadikan mereka “nampak” dan “menampakkan.”

Dari sini, Allamah Thabathabai sangat indah menyimpulkan ayat ini, “Karena itu dapat disimpulkan bahwa Allah Swt tidak majhul (misterius) bagi segala entitas dan eksisten, karena nampaknya segala sesuatu bagi diri mereka atau bagi yang lain bersumber dari penampakan Tuhan, apabila Tuhan tidak menampakkan dan mewujudkan sesuatu maka mereka tidak akan nampak; dengan demikian sebelum segala sesuatu, Allah nampak dan terang secara esensial. Maka kesimpulan yang dapat diambil dari apa yang dimaksud dengan “Cahaya” pada redaksi ayat “Allah cahaya langit dan bumi” cahaya Tuhan yang menjadi sumber penciptaan semesta. Sebuah cahaya yang dengan perantaranya segala sesuatu tercahayai dan benderang, dan “wujud” segala sesuatu sama, dan inilah rahmat Ilahi yang berlaku secara umum.”

Karena itu, menurut kosa kata al-Qur’an, Allah Swt bukanlah sosok yang ghaib dan tersembunyi secara esensial sehingga Dia nampak dan tersingkap melalui seluruh makhluk dan alam penciptaan, langit dan bumi. Melainkan makrifat sedemikian adalah makrifat yang lemah dan tidak sempurna. Makrifat sejati adalah bahwa alam semesta dikenal melalui perantara Tuhan, bukan Tuhan dikenal melalui perantara semesta. Dan ayat ini menegaskan bahwa Allah Swt berada pada kesempurnaan penyingkapan, penerangan dan kegamblangan.

Cahaya atau Cahaya Terbesar

Poin lainnya yang dapat disimpulkan dari ayat adalah bahwa kita berkata cahaya kepada Tuhan namun kita tidak berkata cahaya terbesar yang bermakna bahwa kita memiliki banyak cahaya dimana di antara cahaya tersebut ada yang lebih besar dan ada yang lebih kecil. Di antara cahaya-cahaya ini, cahaya Tuhan yang terbesar.

Pandangan al-Qur’an di sini menegaskan bahwa hanya ada satu cahaya dan cahaya tersebut adalah Tuhan dan lainnya adalah kegelapan dan ketiadaan. Dalam membandingkan segala sesuatu dengan yang lain satu adalah cahaya dan yang lainnya adalah non-cahaya. Misalnya ilmu, iman dan akal adalah cahaya. Akan tetapi ketiganya mendulang cahaya dari Tuhan. Karena itu, di hadapan Tuhan, ketiganya bukanlah cahaya. Atau dengan kata lain, Allah Swt adalah “Nur al-Nur”,  artinya cahaya segala cahaya bukan cahaya terbesar. Dengan demikian, keyakinan yang disandarkan kepada Manikanisme yang menyebut Tuhan sebagai “cahaya terbesar” sejatinya memandang Tuhan sebagai cahaya empirik, akan tetapi cahaya Tuhan adalah cahaya teragung dan terbesar di alam semesta. Bagaimanapun, siapa saja yang menerima keyakinan ini, maka sesungguhnya keyakinan ini adalah keyakinan yang salah dan batil.

Akhir kata, kami akan menyinggung sebuah riwayat yang dinukil dari Imam Ridha As dalam menjawab pertanyaan Abbas bin Hilal terkait “Allah Nur al-Samawat wa al-Ardh”, beliau bersabda: “Petunjuk bagi penduduk langit dan petunjuk bagi penghuni bumi.”[]

Beberapa referensi untuk telaah lebih jauh:

  1. Tafsir Maudhui Qur’an Karim, Abdullah Jawadi Amuli, jil. 12, Fitrat dar Qur’an, hal. 291-297 dan Wahy wa Nubuwwat dar Qur’an, jil. 3, hal. 138-140.
  2. Tauhid Shaduq.
  3. Tafsir al-Mizan, jil. 15, Surah Nur, Muhammad Husain Thabathabai.
  4. Tafsir al-Kabir, jil. 23, Fakhrurazi, tafsir ayat “Allah Nur al-Samawat wa al-Ardh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *