Al-Quran

Menjawab Ejekan Perspektif al-Qur’an

ICC Jakarta –  Tidak mudah bagi non-Muslim melihat bagaimana bentuk Islam yang sebenarnya, karena Islam tertutupi oleh perbuatan para pengikutnya. Ada orang Islam yang tampak begitu keras dan keji, ada pula yang terlihat santun dan penyayang. Ada yang terlihat kotor dan kacau, ada pula yang selalu rapi dan bersih. Sebenarnya Islam itu yang mana? Bagaimana pun juga, Islam tidak bisa diukur hanya dengan melihat perilaku pengikutnya saja.

Kali ini kita akan membahas fenomena yang sedang heboh, khususnya di dunia maya. Fenomena yang bermodal sekali “klik” dapat mengguncang dunia.

Dengan dukungan teknologi yang semakin canggih, banyak yang ingin menyuarakan dakwah, menyampaikan “kebenaran” dan memperjuangkan Islam. Berbagai artikel, gambar dan video dibuat dan disebar dengan semangat memperjuangkan kebenaran.

Namun sayangnya, semangat menyuarakan Islam itu tidak diimbangi dengan cara Islami pula. Mereka memperjuangkan agama Allah dengan cara yang tidak disukai Allah. Mungkin kita pun termasuk dalam golongan ini. Karena kebenaran yang disampaikan seringkali disertai dengan saling mencela, mencaci dan mengejek kelompok lainnya.

Apakah cara semacam ini mendapat restu dari Al-Quran? Kali ini kita akan bertanya pada kitab Mukjizat ini tentang bagaimna cara berkomunikasi dengan orang yang sudah tak beretika dalam dialog. Bagaimana sikap kita berhadapan dengan orang yang membahas argument dengan cacian?

Apakah Al-Quran menyerukan untuk membahas cacian mereka? Atau Islam punya cara lain?

Karena kita adalah umat Al-Quran, maka sudah selayaknya kita akan bertanya tentang sikap Al-Quran dalam mengatasi masal ini.

Tips Al-Qur’an dalam Menghadapi Ejekan

Jika Allah tidak memberi celah sedikitpun untuk membalas ejekan, lalu bagaimana sikap kita menghadapi orang yang menghina pendapat kita, mengejek kita bahkan mengolok-olok kebenaran?

Jawaban Al-Qur’an hanya ada satu cara, diam dan berpaling. Bahkan Allah melarang kita melayani orang-orang “bodoh” yang hanya bermodal cacian.

Ayat pertama Allah berfirman,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199)

Sebelumnya kita telah mengetahui bahwa orang bodoh itu ada dua macam. Orang yang tidak mengerti dan sadar bahwa dirinya tidak tahu. Dan orang yang bodoh tapi merasa paling pintar dan paling benar.

Menghadapi orang yang merasa paling benar tidak bisa lagi dengan argumen. Mungkin mereka tidak bisa membantah argumen kita, tapi mereka mulai memakai senjata cacian untuk memancing agar kita mengikuti pola kotor mereka. Dan jawaban terbaik bagi orang seperti ini adalah diam dan berpaling darinya.

“Tidak menjawab orang yang bodoh itu adalah sebuah jawaban”

Baca sejarah para nabi, khususnya nabi kita Muhammad saw. Segala perkataan keji dilontarkan kepada mereka tapi tidak ada balasan dari para nabi kecuali kebaikan dan keindahan. Karena penyeru tidak boleh masuk dalam dunia caci mencaci.

Bersabar dan berpaling dari orang yang mencaci kita memang bukan hal yang mudah, karenanya Allah berfirman kepada Rasulullah saw,

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْراً جَمِيلاً

“Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.” (QS.  Al-Muzzamil: 10)

Allah swt berpesan untuk bersabar menghadapi mereka, karena menahan diri untuk tidak membalas ejekan bukanlah hal yang mudah. Setelah itu tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.

Cara ini lebih menyakitkan orang yang mencaci kita dibanding kita membalasnya dengan cacian. Karena tujuan mereka memang untuk memancing kita masuk dalam lubang caci mencaci.

Ayat kedua Allah berfirman,

فَإنْ حَآجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ

Kemudian jika mereka membantah engkau (Muhammad) katakanlah, “Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” (QS. Ali Imran: 20)

Ayat di atas menjelaskan ketika Rasulullah saw berdialog dengan orang-orang Kristen Najran, Rasul mulai menyampaikan dalil-dalilnya yang begitu kuat. Ketika mereka tidak bisa menjawab dalil Nabi, akhirnya mereka mulai membantah dan mencaci beliau.

Saat itu pula turun ayat yang memerintahkan Rasulullah untuk pasrah dan tidak melayani mereka. “Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.”

Ayat ketiga Allah berfirman,

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, salam bagimu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.” (QS. Al-Qashas: 55)

Para Ahlul Kitab yang berpegang teguh pada ajarannya mulai masuk Islam dan mengikuti Rasulullah saw. Risiko mereka adalah selalu diejek dengan kata-kata yang keji dan buruk. Tapi mereka tidak pernah melayaninya, mereka hanya menjawab, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, salam bagimu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.”

Salam yang dimaksud adalah untuk mengakhiri pembicaraan dan tidak ada waktu untuk melayani orang-orang bodoh itu.

Kebenaran Harus Disampaikan Dengan Cara Yang Benar!

Sering caci mencaci itu mulai dari kata-kata yang sederhana. Semakin panas semakin keluar kata-kata yang keji bahkan hingga mengejek fisik seseorang.

Alangkah biadabnya seorang yang menghina fisik seseorang. Bayangkan, jika seseorang melihat suatu lukisan kemudian dia mencacinya, kira-kira siapa yang sebenernya dicaci? Lukisan itu atau pelukisnya?

Seorang yang menghina fisik orang lain sama saja dia menghina penciptanya, Naudzubillah!

Kebenaran harus disampaikan dengan cara yang benar. Kebenaran tidak perlu dibela dengan hal-hal yang kotor. Diam bukan berarti kalah, diam saat dicaci adalah tanda orang berakal. Dan ikut terpancing untuk mencaci berarti kita sama bodohnya dengan si pencaci itu.

Jangan pernah ragu hingga merasa harus membela kebenaran apapun caranya. Kebenaran itu ada pemiliknya, dan Sang Pemilik Kebenaran tidak akan tinggal diam.

“Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, salam bagimu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.”

Selamat tinggal orang-orang frustasi yang hanya bermodal mencaci. Kami adalah umat yang ingin menyebar kedamaian dan ketentraman di muka bumi. Tidak layak bagi kami untuk melayani cacian kalian.

Sekali lagi, jangan pernah menganggap diam itu kalah. Kita sedang memperjungkan agama Allah bukan ingin memenangkan ego kita sendiri, karena itu harus dengan cara-cara yang direstui-Nya.

Ayat keempat Allah berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salam,” (QS. Al-Furqan: 63)

Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, para penyeru kebenaran harus penuh dengan rahmat dan kasih sayang.

Salam dalam ayat ini bukan bermakna memberi salam, tapi ingin menunjukkan kami tidak memiliki waktu untuk menjawab cacian, kami hanya ingin membawa kedamaian dan keselamatan.

Jadikan telinga kita seakan tuli dari cacian mereka dan selalu berpikir, mungkin bukan saya yang dimaksud. Seperti kata pepatah arab,

حِلْمِيْ اَصَمْ وَ اُذُنِيْ غَيْرُ صَمَّاء

“Kesabaranku itu tuli walaupun telingaku bisa mendengar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *