Al-Quran

Bertadabur Ayat-ayat al-Qur’an di Bulan Mulia

ICC Jakarta – Di bulan Ramadhan, kita memiliki kesempatan istimewa untuk membersihkan jiwa dan batin kita dengan membaca al-Quran dan merenungi (tadabbur) isinya. Sangat indah jika pembacaan kitab ini disertai dengan tadabbur dan perenungan. Al-Quran adalah sebuah kitab yang selalu menyingkap misteri baru dan hakikat jika pembacanya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang dalam.

Tentu saja, kitab semacam ini tidak diturunkan hanya untuk dibaca. Al-Quran mengandung makrifat tinggi Ilahi tentang pengenalan Tuhan, asma’ dan sifat-sifat-Nya, rahasia tauhid, kriteria para nabi dan rasul, misteri dunia gaib, tradisi yang berlaku pada berbagai umat, pengenalan manusia dan nasib mereka, serta berita ghaib tentang umat terdahulu dan orang-orang setelah mereka. Al-Quran juga menjelaskan tentang sistem sosial, hukum, ekonomi, dan politik yang dibutuhkan manusia untuk kebahagiaan dan kesejahteraan hakiki.

Mengikuti al-Quran akan menyelamatkan manusia dari perbudakan rezim penindas dan membebaskan mereka dari belenggu kebodohan, takhayul, dan godaan syaitan. Kitab suci ini akan mengantarkan manusia kepada keselamatan, kesucian lahir dan batin, serta kemajuan di bidang material dan spiritual.

Al-Quran menjabarkan parameter untuk membedakan antara yang hak dan batil, antara cahaya dan kegelapan. Jika seseorang berada dalam kegelapan mutlak, semua hal akan tampak sama baginya, karena dalam gelap, kita mustahil bisa mengidentifikasi sesuatu dan menentukan jalan. Namun, jika ada secercah cahaya yang datang menolong manusia, perbedaan akan terlihat jelas dan jalan yang dituju dapat ditempuh.

Al-Quran diturunkan sebagai cahaya; cahaya hidayah dan pelita yang menerangi jalan. Dalam surat An-Nisa’ ayat 174 disebutkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

 “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Quran).”

Dalam perspektif al-Quran, semua hal yang membimbing manusia ke arah kesempurnaan disebut Nur (cahaya). Misalnya, akal adalah kekuatan utama pemberi petunjuk dalam diri manusia, dan al-Quran selalu menekankan peran akal serta memuji orang-orang yang berakal dan bijak. Untuk memperoleh cahaya al-Quran, kitab ini mengajak semua orang untuk berpikir dan merenung dalam ayat-ayatnya.

Penggunaan frasa seperti, tafakkur, tadabbur, hikmah, dan ilmu, menyiratkan fakta bahwa dengan bertadabbur dalam ayat-ayat al-Quran, kita bisa mencapai makrifat dan hakikat yang terkandung dalam kitab ini. Sekarang, para ilmuwan telah sampai pada kesimpulan bahwa ada banyak rahasia dan misteri dalam al-Quran, yang hanya bisa ditemukan dengan pemikiran dan perenungan.

Dalam surat Sad ayat 29 disebutkan,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”

Pada ayat ini, misi diturunkannya al-Quran adalah untuk bertadabbur sehingga manusia tidak hanya melafalkan ayat-ayatnya sebagai kumpulan kalimat yang suci dan melupakan tujuan yang lebih tinggi. Tadabbur berarti mencurahkan perhatian pada akibat dari setiap perkara dan merenungkan hasilnya. Oleh karena itu, tadabbur pada ayat-ayat Ilahi akan membantu manusia mengenal hakikat yang terkandung dalam al-Quran.

Tadabbur pada ayat-ayat Ilahi dan upaya menyingkap dimensi hakiki al-Quran, adalah sarana yang paling penting untuk mendatangkan berkah dari langit. Al-Quran mencela orang-orang yang mengharapkan berkah tanpa mau merenungkan ayat-ayat Ilahi, dan menekankan bahwa mereka harus bertadabbur pada ayat-ayat al-Quran. Imam Ali as berkata, “Renungkanlah ayat-ayat al-Quran, karena tadabbur dalam al-Quran adalah musim semi hati.”

Jelas bahwa tahap yang paling penting dari al-Uns (keintiman/hubungan erat) dengan al-Qur’an adalah mengamalkan ajarannya. Kitab suci ini berisi tentang petunjuk dan ajaran yang sangat berguna untuk membimbing individu dan masyarakat. Jika ajaran ini dipahami dan diterapkan dengan sahih, kondisi dunia akan berbeda dan ia akan terbebas dari belenggu kejahatan dan kebinasaan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengajak semua orang untuk mengamalkan al-Quran. Beliau berkata, “Jika kita meyakini bahwa mengamalkan al-Quran adalah landasan untuk menghidupkan kitab suci ini dan pekerjaan ini tidak cukup hanya dengan membacanya, maka kita harus menjadikan komunitas kita menjadi masyarakat Qurani, perbuatan kita harus sejalan dengan ajaran al-Quran, kita harus yakin dengan al-Quran dan percaya bahwa janji-janji al-Quran itu benar.”

Tadabbur dalam al-Quran memiliki beberapa tahapan. Memahami kedudukan al-Quran adalah salah satu dari tahapan tadabbur. Al-Quran bukanlah sebuah ucapan yang biasa, ia adalah firman Allah yang diwahyukan dalam bahasa yang jelas dan tegas kepada Rasulullah Saw sehingga menjadi peringatan bagi umat manusia.

Al-Quran adalah kebenaran yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha Esa melalui perantaraan Malaikat Jibril. Tempat turunnya al-Quran adalah kalbu Rasulullah Saw. Kedua mahkluk ini memiliki derajat yang tinggi dan dari sini, kita akan memahami betapa pentingnya untuk berpikir dan bertadabbur dalam firman Allah Swt.

Di sisi lain, memiliki akal sehat dan menggunakannya untuk mencari kebenaran adalah salah satu syarat lain untuk bertadabbur dalam al-Quran. Sebagaimana Allah berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”

Syarat lain bertadabbur adalah menyingkirkan kabut yang menyelimuti hati manusia. Allah dalam surat Ali Imran ayat 7 berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dialah yang menurunkan Al Kitab (al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

Dengan kata lain, manusia bisa mencapai kebahagiaan dengan bertadabbur dan mengamalkan al-Quran. Allah dalam surat Fatir ayat 29 berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”

Filosof besar Muslim, Mulla Sadra dalam mukaddimah tafsir surat al-Waqiah mengatakan, “Aku telah mempelajari banyak buku hikmah sehingga aku bangga dengan semua itu, tetapi ketika batinku tersadar, aku menemukan diriku kosong dari ilmu hakiki. Di akhir hayat, aku memutuskan untuk bertadabbur dalam al-Quran dan riwayat Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Baitnya. Akhirnya, aku yakin bahwa pekerjaanku selama ini tidak punya dasar, karena selama hidup aku justru berteduh di balik bayangan dan bukannya di bawah cahaya.”

Mulla Sadra melanjutkan, “Jiwaku terbakar dan hatiku membara karena kesedihan sampai rahmat Tuhan menggenggam tanganku dan memperkenalkanku dengan rahasia al-Quran. Sejak itu, aku mulai merenungkan dan bertadabbur dalam al-Quran. Aku mengetuk pintu rumah wahyu dan pintu itu pun terbuka, tabirnya tersingkap dan aku menyaksikan para malaikat yang berkata kepadaku, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya. (Parstoday)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *