Maarif Islam

Tingkatan-tingkatan Puasa

ICC Jakarta – Puasa sebulan penuh berperan efektif dalam meninggalkan kebiasaan yang salah dan rutinitas hidup. Manusia harus memanfaatkan Ramadhan untuk menciptakan perubahan fundamental dalam kehidupan dan perilakunya dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Perlawanannya terhadap hawa nafsu dan godaan akan memperkuat tekad batinnya.

Manusia yang selalu memenuhi perutnya dengan makanan dan minuman, ia ibarat pohon yang tumbuh di dalam gedung dan tidak terkena pancaran sinar matahari. Ia akan cepat layu jika tidak diberi air dan tidak memiliki daya tahan yang kuat. Namun, pohon yang tumbuh di sela-sela bebatuan dan gunung, dan sejak awal sudah merasakan terpaan angin badai dan salju, ia akan memiliki ketahanan yang lebih besar.

Puasa akan memperlakukan jiwa dan batin manusia seperti itu. Beban kesulitan akan membuat mereka kuat, tangguh, dan resisten. Dengan kekuatan ini, orang yang berpuasa akan mampu menundukkan hawa nafsunya dan memenuhi hatinya dengan cahaya taqwa.

Puasa memiliki beberapa derajat. Kaum ‘arif membagi puasa ke dalam tiga kategori; puasa umum, puasa khusus, dan puasa yang sangat khusus.

Puasa umum adalah menjauhi makan dan minum serta hawa nafsu. Seseorang dianggap telah menunaikan kewajibannya ketika ia meninggalkan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa. Ini adalah derajat puasa yang umum dan paling rendah. Rasulullah Saw bersabda, “Hal yang paling mudah yang diwajibkan Allah atas orang yang berpuasa adalah tidak makan dan tidak minum.”

Di tingkatan berikutnya, seseorang tidak hanya menjauhi hal yang membatalkan puasa, tetapi juga meninggalkan semua perkara yang diharamkan Allah. Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as dalam doa bulan Ramadhan berseru, “Ya Allah! Bantulah kami melalui puasa ini sehingga anggota badan kami tidak melakukan maksiat kepada-Mu dan menggunakannya untuk hal-hal yang mendatangkan ridha-Mu, telinga kami tidak mendengarkan perkataan yang sia-sia dan mata kami tidak mengejar hal yang tidak berguna, tangan-tangan kami tidak menjulur ke arah perkara haram dan kaki kami tidak melangkah ke sana, perut kami tidak terisi dengan selain apa yang telah Engkau halalkan, dan lisan kami tidak tergerakkan untuk selain yang Engkau sampaikan.”

Dikisahkan bahwa seorang wanita sedang berpuasa, tetapi dia berulang kali menghina tetangganya dan membuatnya kesal. Berita ini pun sampai ke Rasulullah Saw dan beliau meminta disiapkan makanan untuk wanita tersebut. Rasul meminta wanita itu untuk makan. Ia kaget dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku sedang berpuasa.” Rasulullah menjawab, “Bagaimana engkau mengaku berpuasa, padahal engkau menghina tetanggamu. Ketahuilah bahwa puasa bukan hanya meninggalkan makan dan minum. Allah menjadikan puasa sebagai pencegah dari perkataan dan perilaku buruk. Sungguh sedikit orang yang berpuasa dan sungguh banyak orang yang menahan lapar.”

Jadi, orang yang berpuasa jangan merasa cukup dengan hanya menanggung beban lapar dan dahaga, dan tidak memperoleh keutamaan maknawi dari ibadah agung ini.

Derajat tertinggi dari puasa adalah puasa yang sangat khusus. Orang yang berpuasa tidak hanya meninggalkan makan dan minum, tetapi juga menjaga pikiran dan niatnya sehingga tidak terlintas pikiran maksiat dan dosa dalam benaknya serta tidak mengotori niat tulusnya.

Motivasi orang yang berpuasa di sini, bukan karena takut akan siksaan atau mengejar pahala, tapi semata-mata ingin menjalankan perintah Allah Swt, mendekatkan diri kepada-Nya, meraih keridhaan Allah, dan pertemuan dengan-Nya. Puasa yang sangat khusus ini adalah milik orang-orang saleh yang semata-mata mengejar keridhaan dan kerelaan Allah Swt. Seruan Tuhan membuat mereka lupa akan beban lapar dan dahaga, dan mereka menyambut seruan itu dengan penuh cinta dan rasa syukur.

Dalam riwayat disebutkan bahwa setiap kali bulan Ramadhan tiba, raut wajah Rasulullah selalu berubah. Beliau banyak mendirikan shalat serta memperbanyak doa dan munajat.

Puasa jenis ini – yang dijalankan dengan makrifat dan pemahaman yang benar – akan mencegah jiwa dan raga manusia dari perkara yang diharamkan Allah Swt, bahkan ia tidak memikirkan dosa. Pemeliharaan dan kewaspadaan ini membuat jiwa manusia benar-benar murni dan bersih, dan menciptakan sebuah perubahan besar dalam diri mereka. Inilah salah satu tujuan luhur puasa.

Jika dilukiskan dalam sebuah kalimat, puasa umum ibarat seorang yang berenang di permukaan air dan hanya menyaksikan gelombang air, sementara puasa yang sangat khusus ibarat orang yang berenang di kedalaman laut dan mengetahui dunia di bawah laut. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *