Uncategorized

Satu Lagi Pengungsi Sampang Meninggal Semasa Mengungsi

Inna Lillah Wa Inna Ilaihi Raji’un.

Kesedihan berlapis-lapis kembali menyaputi pengungsi Sampang dan sanak kerabat mereka di kampung halaman. Di akhir bulan ramadan dan menjelang lebaran 1439 Hijriah satu lagi pengungsi Sampang meninggal dunia di pengungsian di Rusunawa, Jemundo, Sidoarjo. Setelah sebelumnya Busidin meninggal dunia semasa berada di pengungsian dua tahun lalu.

Kepergian pengungsi kedua menjelang Lebaran ini akan kembali menambah duka pengungsi selain kehilangan kesempatan berlebaran di kampung halaman mereka.

Pengungsi yang meninggal Rabu hari ini (13/06) bernama Kurriyah binti Syafii, 24 tahun. Ia menderita sakit cukup lama dan dalam perawatan di rumah sakit Soetomo sampai akhirnya meninggal dunia. Beliau diketahui mengalami penyakit tumor dan TBC tulang.

Kurriyah adalah perempuan yang sehari-hari menjadi ustadzah yang mengasuh ruhani dan agama di kalangan pengungsi terutama perempuan. Beliau meninggal mendekati maghrib dan malam ini dari rumah sakit kembali dibawa ke pengungsian.

Sejak Kurriyah menghembuskan nafas terakhirnya, pihak keluarga mulai menghubungi sanak kerabat yang ada di kampung di Karanggayam, Sampang agar menyiapkan pekuburan.

Pihak keluarga yang di kampung menyatakan siap dan mereka mulai menggali kuburan pada jam 18.30 wib. Namun kemudian ada pernyataan dari aparat kepolisian Sampang sekitar jam 18.45 mengatakan kepala desa Karanggayam menolak jenazah dikuburkan di kampung meskipun warga tak keberatan sama sekali.

Sementara tulisan ini dibuat pihak keluarga sudah membawa jenazah mengarah ke kampung di Karanggayam, Sampang menggunakan ambulans meskipun sebelumnya ada upaya dari Polres Sidoarjo untuk menahan jenazah di RSU Sidoarjo tanpa alasan yang jelas.

Menurut cerita almarhumah Kurriyah sudah lama bersabar menunggu untuk pulang kampung dari pengungsian yang sudah mereka jalani selama 7 tahun sejak Agustus 2012. Namun nampaknya Allah lebih suka Ia kembali kepadaNya dalam keadaan menjadi pengungsi di negeri sendiri.

Apakah mungkin situasi seperti ini yg diinginkan pemerintah. Satu per satu pulang kepada Tuhannya hingga pemerintah tidak perlu lagi memikirkan untuk memulangkan mereka ke kampung halamannya?

Semoga Allah memberi kelembutan dan rasa kasih sayang kepada pemerintah khususnya kepada Presiden Jokowi untuk mengambil langkah pengembalian pengungsi ke kampung halaman yang sebenarnya modal sosialnya sangat memadai untuk dilakukan. (AM/HI/Ahlulbaitindonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *