Mahdawiyah

Tempat Keberadaan Imam Mahdi As ketika bersama Sang Ayahanda

ICC Jakarta – Imam Mahdi As dilahirkan di kota Samara’, tepatnya di rumah sang ayahanda, Imam Hasan ‘Askari As. Selama ayahandanya masih hidup, Imam As senantiasa bersamanya.

Periode ini dimulai semenjak kelahiran Imam As (pertengahan Sya’ban tahun 255 HQ) hingga wafatnya Imam Hasan ‘Askari As (8 Rabi’ul Awal tahun 260 HQ).

Selain dikisahkan dalam banyak kitab sejarah, beberapa ulama’ syiah juga mencatat kisah kelahiran Imam As.

Syaikh Shaduq dalam kitabnya, Kamâl al-Dîn wa Tamâm al-Ni’mah menyebut secara rinci tentang kelahiran Imam Mahdi As[1]. Riwayat yang ia tulis itu kemudian menjadi riwayat terpenting yang mengkisahkan kelahiran Imam Mahdi As. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Imam Mahdi As dilahirkan di rumah ayahandanya, Imam Hasan ‘Askari As di Samara’.

Dalam riwayat yang di nukil oleh Syaikh Shaduq tersebut juga disebutkan bahwa dalam periode ini, Imam Mahdi As dapat dilihat oleh orang-orang yang diberi ijin oleh Imam Hasan ‘Askari untuk melihatnya. Pada waktu itu, mereka melihat Imam Mahdi As selalu dalam keadaan berada disamping ayahandanya, Imam Hasan ‘Askari As.

Dhau’ bin Ali, salah seorang penduduk Fars meriwayatkan, “Ketika aku datang di kota Samara’, aku pergi menuju rumah Imam Hasan ‘Askari As. Akupun memasuki rumahnya, aku ikuti dengan mengucapkan salam kepadanya. Imam lalu bersabda, “Untuk apa engkau datang?” Lantas aku menjawab, “Aku datang kemari lantaran aku rindu kepadamu.” Imam kembali menjawab, “Kalau begitu, tinggalah bersama kami!” Kemudian akupun akhirnya tinggal di rumah Imam bersama dengan para pembantu lainnya. Kadang kala, aku harus pergi ke pasar untuk memenuhi segala kebutuhan makananku. Ketika ada lelaki di rumah Imam, akupun akan masuk rumah tanpa harus meminta ijin terlebih dahulu. Pada suatu hari, aku masuk ke rumah Imam dengan tidak meminta ijin terlebih dahulu. Dan aku mendapati Imam berada di antara kumpulan para lelaki di rumahnya. Tiba-tiba, terbukalah pintu kamar beliau dan tak lama setelah itu akupun mendengar satu suara dari arah pintu tersebut. Melihat pemandangan itu, Imam berkata, “Berhenti! Jangan melangkah!” Mendengar perkataan Imam tersebut, aku menjadi tidak berani bertolak dari tempat dudukku sehingga akupun diam di tempat dudukku. Kemudian aku melihat seorang pembantu perempuan melewati sampingku dengan menggendong seorang anak kecil yang terbungkus kain. Tak lama setelah itu, Imam memanggilku supaya pergi menghadapnya. Akupun kemudian masuk ke hadapannya. Kemudian Imam juga memanggil pembantu perempuan tadi untuk menghadapnya. Pembantu itu pun akhirnya kembali dan menghadap Imam. Lalu Imam berkata kepadanya, “Buka kain penutup itu!” Pembantu perempuan itu pun kemudian  membuka kain yang menyelimuti tubuh anak kecil itu. Kemudian, Imam Hasan ‘Askari membuka kain pembungkus  yang membalut perut anak kecil itu. Pada waktu itu, aku melihat rambut yang berwarna hitam kehijau-hijauan tumbuh di kepala bayi tersebut. Setelah itu, Imam bersabda, “Inilah Shahib (Imam Zaman) kalian!” Beliau kemudian memerintahkan pembantu itu untuk membawanya kembali. Semenjak itu, aku tidak pernah lagi melihat anak tersebut hingga wafatnya Imam Hasan ‘Askari As.[2]

Selain orang-orang dekat dan pembantu Imam Hasan ‘Askari As, juga terdapat sebagian sahabat pilihannya yang mampu melihat Imam Mahdi As pada waktu kecil ketika bersama dengan ayahandanya di Samara’. Mereka mengatakan bahwa mereka melihat Imam Mahdi As sedang berada di rumah ayahandanya di Samara’.

Ya’qub bin Manqusy mengatakan, “Aku masuk menghadap kepada Imam Hasan ‘Askari As. Beliau duduk di atas sebuah dipan, sedang di samping kanannya terdapat satu kamar yang tertutupi oleh tirai. Akupun kemudian bertanya kepada beliau, “Wahai tuanku, siapakah Shahib al-Amr itu?” Beliau kemudian berkata, “Angkatlah tirai itu!” Akupun kemudian mengangkat tirai tersebut. Setelah itu, keluarlah anak kecil yang tingginya kira-kira seukuran lima jengkal, ia memiliki dahi yang sangat bercahaya, mukanya sangat putih berseri, kedua matanya bulat, bahunya kekar, memiliki lesung pipi disebelah kanan pipinya. Ia pergi kearah ayahandanya, dan duduk tepat di atas kedua lututnya.Pada waktu itu, Imam ‘Askari as lalu berkata kepadaku, “Inilah Shahibmu (Imam Zaman-mu).” Setelah itu, Imam ‘Askari As langsung berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, masuklah ke kamar sampai waktu yang telah ditentukan!” Anak tersebut kemudian pergi ke kamarnya. Akupun kemudian menoleh kesana-kemari, dan Imam ‘Askari As lalu bersabda, “Ya’qub! Pergilah ke kamar dan lihat siapakah yang ada di sana!” Lantas, akupun pergi untuk memasuki kamar tersebut, akan tetapi aku tidak mendapati seorangpun disana.[3]

Selain itu, Ahmad bin Ishaq juga meriwayatkan bahwa ia juga melihat Imam Mahdi As di Samara’[4].

Oleh karena itu, sesuai dengan riwayat yang disebutkandi atas dan puluhan riwayat lainnya, maka secara pasti kita dapat katakan bahwa selama Imam Hasan ‘Askari As masih hidup, Imam Mahdi As tinggal dan berada di samping ayahnya, di kota Samara’. Sekalipun, pada masa itu Imam Mahdi As sudah ghaib, akan tetapi para keluarga dekat serta beberapa sahabat pilihan ayahandanya (Imam Hasan ‘Askari as) masih sering melihatnya.

Sebagian periset mengatakan bahwa Imam Mahdi As pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di kota Madinah. Mereka bersandar kepada hadis yang diriwayatkan oleh Mas’udi yang mengisahkan tentang permintaan Imam Hasan ‘Askari As kepada ibunya untuk pergi haji pada tahun 259 H.Q. Imam Hasan ‘Askari As memohon kepada ibunya untuk membawa putranya (Imam Mahdi As) demi menjaga keselamatannya. Setelah menyebutkan hadis dan riwayat itu, periset itu kemudian berkomentar, “Sepertinya, setelah melaksanakan manasik haji, mereka kemudian pergi ke Madinah. Mereka menjadikan tempat tersebut sebagai tempat yang paling aman untuk persembunyian Imam Mahdi As.”

Ada beberapa dalil dan alasan yang ditulis oleh periset ini untuk menguatkan apa yang ia katakana.

Dalil dan alasan-alasan tersebut diantaranya adalah:

  1. Ketakutan Imam Hasan ‘Askari As terhadap keselamatan nyawa putranya
  2. Adanya beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa selepas wafatnya Imam ‘Askari As, Imam Mahdi As berada di Madinah
  3. Adanya beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Mahdi As akan muncul di Makkah
  4. Adanya beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa setiap tahun pada musim haji, Imam Mahdi As selalu datang ke Makkah[5].

Menurut hemat kita dalil dan alasan-alasan di atas tidak benar karena; dalil pertama yang menyebutkan bahwa Imam Hasan ‘Askari As takut terhadap keselamatan putranya,karena pada waktu itu Imam Mahdi As masih berusia 4 tahun. Dan selama empat tahun tersebut, Imam Mahdi As senantiasa berada dalam naungan ayahandanya. Bahkan selama berada dalam naungan ayahandanya, Imam Mahdi As menjalani hidupnya dengan rasa tentram, aman dari bahaya apapun. Oleh karena itu, untuk apa ia keluar dari lingkupan naungan ayahandanya tersebut? Hal itu tidaklah penting. Selain itu, Imam Hasan ‘Askari As juga terkadang harus menunjukkan putranya (sebagai hujjah) kepada sebagian para sahabatnya. Dan apabila Imam Mahdi As berpisah dengan Imam Hasan ‘Askari As, maka hal itu akan sulit dapat dilakukan oleh ayahandanya tersebut.

Dalil lainnya juga menerangkan bahwa Imam Mahdi As sendiri sudah ghaib, ketika ayahandanya  masih hidup[6]. Dan hal ini akan berlawanan dengan rasa was-was yang dimiliki oleh Imam Hasan ‘Askari As, karena semuanya sudah diatur oleh Allah Swt. Pada akhirnya, kita juga harus memperhatikan satu riwayat yang menceritakan tentang kehadiran Imam Mahdi As untuk menshalati jenazah ayahandanya ketika wafat (sementara kita juga tidak pernah mendengar ada satu riwayatpun yang menceritakan tentang kembalinya Imam Mahdi As dari Madinah ke Samara’ guna menshalati jenazah ayahandanya).

Dalil kedua yang menyebutkan bahwa Imam Mahdi As berada di Madinah selepas wafatnya Imam ‘Askari As juga tidak dapat kita yakini kebenarannya. Mengingat, dalam satu riwayat dikatakan dengan sangat jelas bahwa Imam Mahdi As baru pergi menuju Madinah setelah ayahandanya wafat.

Dalil ketiga yang menyebutkan bahwa Imam Mahdi As akan muncul di Makkah, juga tidak dapat diterima karena apabila demikian, maka hal itu akan menguatkan dalil yang mengatakan bahwa selama masa kehidupan ayahandanya, Imam Mahdi As berada di Madinah (sementara, sebelumnya sudah kita jelaskan bahwa selama kehidupan ayahnya tersebut, Imam Mahdi As senantiasa berada di sisi sang ayahanda, di Samara’).

Adapun dalil keempat, yaitu apabila dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Imam Mahdi As setiap tahun pergi ke Makkah guna melaksanakan manasik haji, di mana riwayat ini kemudian dipakai untuk menunjukkan bahwa ketika Imam As berusia empat tahun pasti tinggal di Madinah, maka dalil dan perkataan semacam ini adalah sebuah dalil dan perkataan yang tidak dapat diterima kebenarannya.

Dari paparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ketika Imam Hasan ‘Askari As masih hidup, maka ketika itu pula Imam Mahdi As senantiasa hadir disisi ayahandanya. Sekalipun, bisa saja Imam Mahdi As pada masa-masa tersebut pergi dari Samara’ menuju tempat dan daerah lainnya. Akan tetapi, selama kepergiannya beliau selalu dalam pengawasan sang ayahandanya. (Dars Nameh Mahdawiyat II, Khuda Murad Salimiyan)

Catatan Kaki

[1]. Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Shaduq, Kamâl al-Dîn wa Tamâm al-Ni’mah, Qum, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1395 HQ, jil. 2, hal. 143.

[2]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Kâfi, Teheran, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1365 HS, jil. 2, hal. 119.

[3]. Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Shaduq, Kamâl al-Dîn wa Tamâm al-Ni’mah, Qum, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1395 HQ, jil. 2, hal. 164.

[4]. Ibid, jil. 2, hal. 80.

[5]. Jasim Husain, Târîkh-e Siyasi-e Ghaibat-e Imam-e Dawazdahum, terjemahan Sayid Muhammad Taqi Ayatullahi, cetakan kedua, Teheran, Amir Kabir, 1377 HS, hal. 24;

[6]. Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Shaduq, Kamâl al-Dîn wa Tamâm al-Ni’mah, Qum, Darul Kutub Al-Islamiyah, 1395 , jil. 2, hal. 164.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *