Teologi

Lakukan Ini Supaya Terjaga Keimanannya Meski Dalam Lingkungan Tidak Islami

ICC Jakarta – Menjaga akhlak insaniah dan islamiyah serta mengamalkan ajaran-ajaran agama dan komitmen dengan nilai-nilai agama merupakan hal-hal yang berpengaruh secara langsung kepada kebahagiaan dan kesenangan kehidupan duniawi dan akan mengubah kehidupan yang buruk dengan watak hewani menjadi kehidupan yang lebih baik dan watak insani serta islami.
Manusia yang secara sungguh-sungguh terikat dengan aturan ajaran agama secara benar, maka ia akan keluar dari tawanan, takhayul, hal-hal yang ekstrim (berlebihan dan kekurangakan) dan akan menggapai kehidupan yang paling menyenangkan.
Dari sisi lain, apabila manusia tidak mengamalkan aturan-aturan ini, maka ia tidak akan mendapatkan keberkahan baik dari sisi bendawi maupun maknawi dan ia sendiri yang akan merugi, jika tidak, maka hal itu tidak akan membahayakan agama dan Tuhan. Berdasarkan hal ini, supaya tidak terlepas dari keberkahan ini, kita harus menjaga keajegan iman kita dalam segala kondisi dan secara sempurna kita memegang teguh aturan-aturannya khususnya apabila kita terpaksa hidup di lingkungan secara lahir lebih nampak kefasikan dan kemaksiatannya.
Salah satu peringatan penting dan penegasan yang dilakukan secara berulang pada masa ghaib adalah  berhati-hati terhadap masalah agama dan nilai-nilai penting agama sehingga tidak akan menderita kesalahan berfikir, tidak terjebak pada akidah yang salah dan tidak tertipu oleh keglamoran dunia. Nabi Muhammad Saw tentang orang-orang mukmin pada masa ini bersabda, “Setiap mereka (orang-orang mukmin pada masa ghaib) menjaga kepercayaan agamanya dengan bersusah payah, seperti mengupas pohon berduri di kegelapan malam dengan tangannya atau menjaga nyala api dengan telapak tangannya.”[1]
Imam Ali As dalam menjelaskan orang-orang mukmin yang hakiki bersabda, “Setelah ghaibah Imam Zaman Afs, manusia menjadi takut dan bingung serta akan menemui kesulitan yang sangat, sekelompok dari mereka akan tersesat dan sekelompok yang lain, disamping berada pada kondisi yang sangat sulit, mereka tetap berada di jalan hidayah.[2]
Salah satu hal yang menyebabkan hilangnya kepribadian seseorang adalah karena ia berbuat dosa. Pada hakikatnya jika seseorang membiarkan aturan-aturan yang berasal dari Tuhan dan mengikuti hawa nafsunya, maka sejatinya ia telah mengunggulkan setan atas Tuhan. Seseorang dengan kepribadian ini pada dasarnya telah membawa dirinya ke derajat yang rendah di hadapan Tuhan. Padahal apabila manusia mengetahui kedudukannya di hadapan Sang Khalik yang Maha Esa, maka ia tidak akan pernah menjual dirinya dengan harga yang rendah.
Harus diketahui bahwa mempertahankan diri di hadapan dosa menunjukkan kekuatan keimanan seseorang, dan menjaga keimanan dalam kondisi dan lingkungan yang tercemar dengan perbuatan dosa memerlukan usaha lebih giat dan keras khususnya pada masa muda di mana pada masa ini kesempatan untuk berbuat berbagai dosa terbuka secara lebar, tentu saja dari sisi bahwa seorang pemuda itu lebih mudah untuk terkena dosa, namun di sisi lain seorang pemuda juga mempunyai semangat, harapan dan kemauan yang keras untuk memperoleh kehidupan yang sehat dan menghadapi kemaksiatan. Oleh itu, dengan usahanya sendiri dan pertolongan Tuhan akan memperoleh kemenangan dalam memerangi setan dan kemaksiatan.
Atas dasar itu, kiranya Anda perlu memperhatikan beberapa poin berikut:
  1. Karena pada masa muda terbuka peluang lebar untuk melakukan dosa, oleh itu kaum muda harus berusaha untuk tidak menciptakan terbukanya peluang untuk berbuat dosa atau meminimalkan peluang itu, yaitu keadaan-keadaan seperti khalwat (sepi), bercanda dengan non mahram, berada dalam keadaan sendirian di tempat kerja dan rumah, menonton film yang bisa menimbulkan nafsu dan syahwat, berada di tempat kemaksiatan seperti di tepi pantai, kolam renang dan lain sebagainya.
  2. Memperkuat iradah (keinginan dan kehendak): Setiap kali iradah manusia kuat, maka ia akan semakin kuat dalam menghadapi dosa dan kemaksiatan yang ada di hadapannya.
  3. Memperhatikan akibat dosa dalam kehidupan: Memperhatikan akibat buruk perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan akhlak yang biasa terjadi pada lingkungan seperti itu merupakan faktor-faktor yang berperan penting dalam menjaga keimanan seseorang. Perbuatan-perbuatan  tercela itu di antaranya disebabkan oleh hilangnya rasa kasih sayang, binasanya norma keluarga, tidak menghormati orang tua dan guru dan lain sebagainya.
Nabi Muhammad Saw bersabda, “Berbuat baiklah untuk menghadapi dosa karena dosa merupakan pelenyab kebaikan seperti seorang hamba yang berbuat dosa, maka ilmu dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya akan lupa.”[3]
  1. Menaruh perhatian akan kehadiran Imam Zaman Afs dan pengetahuan beliau tentang keadaan orang-orang mukmin pada masa ghaibnya
  2. Membangun hubungan dengan ulama rabbani: Karena pada masa gaib Imam Zaman Afs, tidak dengan mudah mengidentifikasi kewajiban beragama bagi seseorang, maka ulama rabbani dan bertakwa yang bertanggung jawab untuk menjelaskan ahkam keagamaan, memberi hidayah kepada masyarakat, menjaga nilai-nilai Islami dan mempertahankan maktab Islam. Mereka dengan menggunakan literatur-literatur asli agama yaitu al-Quran dan sunah, akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan oleh masyarakat.
Imam Hadi As bersabda, “Apabila tidak ada ulama-ulama yang membimbing manusia untuk menyeru kepada Tuhan, dengan menggunakan dalil-dalil yang kuat dalam menjaga agama dan melepaskan orang-orang yang menderita dan bodoh dari cengkeraman iblis dan pengikut-pengikutnya, dan juga membebaskan orang-orang dari musuh-musuh Ahlulbait, maka tidak ada seorang pun yang akan tetap beragama. Ulama hakiki senantiasa berusaha menjaga hati para pengikut Syiah yang terombang-ambing dan lemah sebagaimana nakhoda yang menjaga penumpang bahtera. Sekelompok ulama ini mempunyai keutamaan dan kedudukan yang sangat tinggi dihadapan Tuhannya.” [4]
Syarat utama untuk menjaga keselamatan pikiran dan akidah masyarakat pada masa ghaibnya Imam Zaman Afs adalah mengikuti ulama rabbani. Terkait dengan hal ini, ketika ditanyakan kepada Imam Zaman Afs tentang pada zaman Anda kepada siapakah kami harus menanyakan hukum-hukum agama dan dalam kejadian-kejadian yang akan menimpa kami, kami harus meminta petunjuk dan bimbingan dari siapa sehingga kami bisa memperoleh petunjuk? Imam Mahdi Ajf menjawab, “Tatkala kejadian (persoalan-persoalan kekinian) menimpa kalian maka tanyakanlah kepada para perawi hadis-hadis kami karena mereka hujah kami bagi kalian dan aku adalah hujah Tuhan.”[5]
Oleh itu, untuk menjaga akidah dan keimanan, manusia berkewajiban untuk bertanya kepada ulama yang bertakwa dan para marja serta mempelajari pengetahuan-pengetahuan agama dari mereka, menyelaraskan semua kejadian kehidupannya dengan aturan-aturan amal perbuatan yang berasal dari  teks-teks suci  ajaran-ajaran agama.
Sudah barang tentu apabila manusia dalam masalah ini tidak membuat kesalahan dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban, maka bukan hanya fitnah-fitnah masa ghaib dan konspirasi musuh serta para ulama gadungan, akan dapat merusak agama dan kepercayaan mereka dimana perilaku mereka dalam kerangka agama maka dari hari ke hari persiapan kemunculan Hadhrat Mahdi Afs dan kekuasaan hukum-hukum dan nilai-nilai Ilahi di seluruh dunia semakin terbuka lebar.[6] Insya Allah. [iQuest]

[1] Bihār al-Anwār, jil. 52, hal. 124
[2] Kitāb al-Ghaibah, hal. 104
[3] Mizān al-Hikmah, jil 3, hal. 456, 6633, Bihār al-Anwār, jil. 70, hal. 377
[4] Bihār al-Anwār, jil. 2, hal. 6
[5] Ihtijāj, jil. 2, hal. 469
[6] Silahkan lihat: Sayid Shadiq Sayid Nejad, Dindāri dar ‘Ashr Ghaibat, Didār Ashena, Aban 1381, No. 29

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *