Maarif Islam

Pentingnya Masalah Hijab dari sisi Individu dan Kemasyarakatan

 ICC Jakarta – Ayatullah al Uzhma Nashir Makarim Shirazi dalam pertemuannya dengan pengurus dan pengajar Pusat Pendidikan dan Penelitian Raihana al-Nabi di Madrasah Amirul Mukminin As Qom Republik Islam Iran sabtu [29/8/15], mengatakan bahwa hijab dan kehormatan masyarakat adalah masalah penting dalam sebuah sistem sosial. Ia berkata, “Keseriusan dalam dakwah mengenai hijab harus diemplementasikan melalui agenda-agenda dakwah yang tersistematis dan berkesinambungan, serta mencegah upaya-upaya penggembosan oleh penetrasi budaya asing. Masjid, sekolah-sekolah, media dan kebijakan pemerintah harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menggalakkan syiar pentingnya masalah hijab ini dalam kehidupan sosial.”

Ulama marja taklid Syiah tersebut menegaskan pentingnya kerjasama antara pemerintah dengan lembaga-lembaga keagamaan yang ada untuk menjaga eksistensi hijab untuk tetap berlaku dan dijaga ditengah-tengah masyarakat. Ia berkata, “Pemerintah dalam masalah ini tidak boleh tinggal diam dan menyerahkan sepenuhnya kepada lembaga-lembaga keagamaan, melainkan harus memiliki peran yang lebih besar khususnya dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan agar masalah hijab ini tidak dianggap sepele. Pemerintah harus menjaga, agar di kantor-kantor, di rumah sakit, sekolah-sekolah, dibandara, di stasiun-stasiuan televisi dan kantor media massa, serta diruang-ruang publik lainnya hijab tetap diperhatikan, dan interaksi sosial yang terjadi harus tetap sesuai dengan ketentuan Islam.”

Ayatullah Makarim lebih lanjut mengatakan, “Jika pemerintah tidak mampu membantu menyebarluaskan pentingnya menjaga hijab dalam interaksi sosial, maka akibat buruknya akan kembali kepada pemerintah juga. Lalai dengan masalah hijab, adalah ancaman serius bagi keutuhan negara. Apakah keburukan yang ditimbulkan dengan tidak terjaganya hijab dengan baik belum menjadi pelajaran, bahwa tingginya tingkat perceraian dan rusaknya banyak rumah tangga itu bermula dari kelalaian menjaga hijab?”

“Hijab adalah simbol Islam, yang menjaga terjaganya akhlak ditengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah harus menjadi contoh dan menjadi keteladanan buat masyarakat dalam hal ini. Jika pemerintah sendiri lalai dalam hal ini, maka masyarakat akan jauh lebih lalai lagi. Sehingga sistem Islam sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.” jelasnya.

“Sebagian dari pejabat pemerintah mengatakan, Islam bukan hanya masalah hijab. Memangnya para ulama Islam mengatakan bahwa Islam itu semuanya hanya mengurusi masalah hijab saja?. Ini sama saja dengan seseorang yang melukai mata orang lain, dan ia minta untuk tidak diprotes dan diadili dengan mengatakan, “Tubuh manusia bukan hanya mata, masih banyak organ tubuh lain yang masih utuh dan tidak saya lukai.” Ucapan tersebut adalah upaya melarikan diri dari hukum yang sifatnya darurat dan penting dalam Islam.” tegasnya.

Ulama Hauzah Ilmiah Qom tersebut menambahkan, “Kita tidak boleh mendiamkan dan membiarkan ada upaya pelalaian mengenai masalah hijab di negara ini. Kita harus menghadapi upaya-upaya tersebut. Karena hijab adalah masalah penting dalam aturan Islam, bukan hanya berkaitan dengan urusan rusaknya akhlak, namun juga berkaitan erat dengan masalah politik dan pelecehan terhadap sistem negara yang berdasarkan aturan-aturan Islam.”

Pada bagian lain penyampaiannya, Ayatullah Makarim Shirazi menyampaikan ucapan terimakasih kepada aktivitas dakwah yang telah dilakukan lembaga Islam Raihana an-Nabi. Ia berkata, “Aktivitas dakwah pusat Islam Raihana an-Nabi sangat membanggakan dan memberikan kita harapan besar. Semoga pengurus dan para aktivisnya mendapatkan pahala besar dari Allah Swt, dan apa yang kalian lakukan ini adalah amal kebaikan yang insya Allah menjadi tabungan untuk keselamatan di akhirat kelak.”

“Hijab adalah urusan furu’din, cabang dari agama, namun saat ini, musuh menyikapi hijab seperti layaknya ushul dalam agama. Yaitu, jika hendak menghancurkan Islam, maka lebih dulu rusaklah hijab itu. Mengapa mereka melakukan itu? karena mereka tahu, hijab adalah simbol Islam, jika suatu simbol agama telah berhasil disepelekan dan diremehkan, maka agama itu akan hancur dengan sendirinya.” ungkapnya.

“Tujuan pertama dari penggunaan hijab yang serampangan, adalah menyebarkan kerusakan akhlak, sehingga mengikis nilai-nilai agama yang berlaku disuatu masyarakat. Tujuan selanjutnya adalah lebih besar dari itu, yaitu menyelewengkan arah revolusi Islam yang berujung pada keinginan untuk merubah sistem Islam yang berlaku di negara ini.” tambahnya.

“Hal itulah yang harus kita cegah dari awal. Mengembalikan ruh Islam dengan memberikan perhatian besar pada masalah penggunaan simbol Islam, yaitu tradisi hijab dan interaksi sosial yang sesuai dengan aturan Islam, harus dipertahankan di masyarakat.” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *