Mozaik

Seminar Al-Ghadir: Sayidina Ali Dan Keadilan

ICC Jakarta – Jakarta, (Jum’at, 31/8) – Al-Ghadir yang setiap tahunnya diperingati oleh komunitas pengikut Ahlulbait Nabi di seluruh dunia, menjadi hari yang sangat istimewa setelah hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha, tak terkecuali komunitas pengikut Ahlulbait di Indonesia, peristiwa ini tidak lepas dari tokoh khalifah ke-4 yaitu Ali Bin Abi Thalib, sosok yang menjadi banyak inspirasi dari berbagai penulis terkenal, salah satunya adalah George Jordac dengan judul bukunya yang pernah terbit dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ” Suara Keadilan: Sosok Agung Ali bin Abi Thalib RA”

Adapun mengenai perdebatan dalil tentang peristiwa sejarah ini, memang sudah berlangsung lama, dan ini bukan sebagai ajang untuk saling menegasikan, tetapi mencari titik temu dan upaya intelektualitas sebagai umat muslim yang diperintahkan “Iqra”, agar menemukan benang merah sejarah panjang umat Islam.

Berbagai tuduhan negatif tentang peristiwa Ghadir Khum ini, sudah dijawab dengan rapi oleh para ulama dari kalangan syiah, dan juga kalangan Sunni, sehingga muncul pertanyaan bahwa yang menolak argumentasi ini bukan syiah dan bukan sunni, lalu mereka dari kelompok mana yang begitu getol melakukan upaya propaganda negatif itu?, perlu memang kewaspadaan bahwa musuh-musuh Islam itu sangat licik, banyak negara yang telah hancur karena paham-paham radikal serta ekstrimisme menggerogoti negara itu. Salah satunya Suriah yang sudah mereka rusak.

Salah satu Jawaban atau sanggahan tentang Ghadir Khum itu bisa dibaca  kemutawatiran Hadis Ghair Khum.

Salah satu komunitas Ahlulbait yang rutin mengadakan peringatan hari Al Ghadir ini adalah IJABI (Ikatan Jemaah Ahlulbait Indonesia), dan tahun ini bekerja sama dengan ICC (Islamic Cultural Centre) Jakarta, yang dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus 2018 di Aula Rujab Anggota DPR-RI Kalibata, Jakarta Selatan.

Adapun pembicara, selain dari Ketua Dewan Syuro Ijabi sebagai pembicara tetap tiap tahunnya yaitu KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. juga mengundang pembicara tamu yaitu  Dr. Ulil Abshar Abdala, yang biasa dikenal sebagai Tokoh Islam Liberal, namun beliau dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU), menantu dari KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus. Selain itu, ada dua orang ulama dari Iran yang menggunakan bahasa Inggris dan satunya lagi menggunakan Bahasa Farsi. Salah satunya adalah Dr. Abdul Majid Hakimeilahi (Direktur ICC). Dan sebagai moderator adalah Ustadz Miftah F. Rakhmat, yang juga putra Dr. Jalaluddin Rakhmat.

Majid Hakimeilahi yang menggunakan bahasa inggris menyinggung tentang keadilan dan kaitannya dengan Ghadir Khum ini, bahwa keadilan inilah lebih dekat dengan takwa, maka seyogyanya segala ibadah-ibadah seperti shalat, puasa, haji, dan sedekah adalah untuk menopang keadilan, karena ciri Islam rahmatan Lil Alamin itu menegakkan keadilan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian saksi yang adil karena Allah. Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum menghalangi kalian berlaku adil. Berlaku adil-lah, karena perbuatan adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (Al-Ma’idah: 8)

Kemudian Ulil, panggilan DR. Ulil Abshar Abdala juga berbicara tentang pentingnya berbuat adil bagi pemimpin, baik itu Gubernur hingga level Presiden, Ulil sempat membacakan  cuplikan surat dari Ali Bin Abi Thalib yang terkumpul dalam Najhul Balaghah, yaitu surat Ali kepada Gubernur pada waktu itu Malik Astar. Dari surat itu ada kata atau kalimat yang sangat indah atau tingkat sastranya yang sedemikian tinggi dan terukur. Ali Bin Abi Thalib menggunakan kata yang kalau diterjemahkan bebas yaitu “Janganlah seperti binatang buas yang memangsa rakyat”

Sesuai keterangannya, setiap selesai shalat shubuh Ulil selalu menyempatkan membaca Najhul Balaghah, kitab yang sangat indah dan mengagumkan juga, setelah membaca Alquran dan Hadist-hadist, kemudian Ulil melanjutkan membaca Shahifah as-Sajjadiyyah, kitab yang berisi kumpulan doa-doa dari cicit Nabi Muhammad SAW, Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib. Dari keterangan Ulil, dari kitab ini beliau menemukan kedalaman doa yang begitu memukaunya, sehingga membacanya berkali-kali.

Umat Islam sangat wajib ikut berkontribusi menegakkan keadilan, kalau tidak malah menjadi pengabdi musuh-musuh yang senantiasa berbuat zalim dan merusak bumi ini. Karena itulah, musuh bersama umat islam adalah kezaliman, maka untuk memerangi kezaliman itu adalah dengan ikut menegakkan keadilan. Dan keadilan itu bisa ditegakkan jika pengetahuan tentang keadilan itu sangat tepat, bukan berdasarkan subjektifitas atau angan-angan belaka, ataupun karena berdasarkan kepentingan kelompok dan pribadi.

Kaitannya dengan peristiwa Ghadir Khum adalah, objektif dalam melihat realitas sejarah, apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu hingga timbulnya banyak perbedaan, begitu pentingnya adil sejak dalam pikiran, sehingga tidak terjebak dengan kebekuan intelektualitas. Bagaimana pun semua orang punya hak menggapai kebenaran, dan berkewajiban ikut menegakkan keadilan, sehingga cita-cita menjadi manusia yang bertakwa bukan hanya teori belaka saja, atau hanya sekedar lewat mulut, tapi merupakan upaya terus menerus mendobrak kejumudan sikap keagamaan yang mengarah menjadi radikal. (Ahlul Bait Indonesia)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *