Ahlulbait

Zainab dalam Peristiwa Karbala

ICC Jakarta – Kebangkitan Asyura dengan kesyahidan Imam Husain as tidak sampai pada tujuan akhir, akan tetapi petunjuk dan kepemimpinannya beralih ke tangan anak perempuan Ali as. Sayidah Zainab sa telah mendapatkan tugas dari saudaranya dan Imam as dalam wasiatnya telah menyampaikan beberapa perkara kepadanya. Pada sore hari Asyura ketika Zainab sa menyaksikan Imam Husain as jatuh di atas tanah dan musuh-musuh berada di sekitar tubuhnya dengan bertujuan membunuhnya, ia keluar dari kemahnya. Ia memanggil Ibnu Sa’ad dengan panggilan yang demikian:

“یابن سَعد! اَیقتَلُ اَبُو عبداللّه وَ انتَ تَنظُرُ اِلَیهِ؟”
“Hai putra Sa’ad! Abu Abdillah akan dibunuh sementara engkau hanya melihatnya?” 

Ibnu Sa’ad tidak menjawab sedikitpun. Kemudian Zainab Kubra berteriak:

“وا اخاه! وا سیداه! وا اهل بیتاه! لیت السماء انطبقت علی الارض و لیت الجبال تدكدكت علی السهل”
“Oh saudaraku! Oh pemimpinku! Oh keluargaku! Oh, andai saja langit berbalik jatuh ke bumi! Oh, andai saja gunung hancur dan pecahannya terpencar di tepian pantai.”  Sayidah Zainab sa dengan rangkaian kata-kata ini, telah memulai periode kedua kebangkitan Asyura. Zainab mendatangi saudaranya dan menengadahkan wajahnya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, terimalah pengorbanan ini!” 

Ia melewati malam keterasingan para syahid di padang sahara dengan iringan tangis, lantunan yang memilUkan hati-hati yang lara, air mata dan rintihan duka para kekasih sambil merawat para yatim. Ia lewatkan malam itu dengan shalat dan bermunajat kepada Tuhan hingga subuh.

Ketika berada di samping tubuh Imam Husain, Sayidah Zainab menghadap ke arah Madinah dan menyampaikan ratapan-ratapan yang memilukan hati:

“وا محمّداه! بَناتُكَ سَبایا وَ ذُرّیتُك مُقَتّله، تسفی علیهم رِیحُ الصّبا، و هذا حُسینٌ مجزوزُ الَّرأسِ مِنَ القَفا، مَسلُوبُ العمامِةِ و الرِّداء”
“Ya Nabi, mereka ini adalah anak-anak perempuanmu yang berjalan dalam keadaan tertawan. Mereka adalah anak-anak keturunanmu dengan tubuh berlumuran darah, tergeletak di atas tanah dan tubuh mereka diterpa angin. Ya Rasulullah! Inilah Husain yang kepalanya telah terpenggal dari lehernya, jubah serta sorbannya dijarah.” “Ayahku bukan tebusan orang yang menjarah pasukan-pasukannya, kemudian merusak kemahnya! Bukan tebusan seorang musafir yang sudah tidak memiliki harapan untuk kembali.” 

Perkataan dan rintihan-rintihan Sayidah Zainab sa telah mempengaruhi kawan dan lawan. Mereka semua dibuatnya terpaksa menangis.

Setelah hari Asyura, para tawanan dibawa ke Kufah. Mereka diarak dengan kondisi yang memilukan hati. Sejak awal pintu masuk kota Kufah, Sayidah Zainab berpidato yang cukup mempengaruhi para khalayak yang hadir di sana. Busyrin Khuzaim Asadi mengenai Khutbah sayidah Zainab berkata, “Pada hari ini, aku melihat Zainab putri Ali as. Aku bersumpah demi Allah, tidak pernah kulihat seseorang yang begitu mumpuni dalam berpidato; seakan-akan ia berucap dengan ucapan Ali bin Abi Thalib as. Ia membungkam masyarakat dengan berkata, “Diamlah kalian semuanya!” Dengan keterbungkaman ini, tidak hanya membuat kumpulan orang yang berjubel itu diam, bahkan dentangan lonceng unta-unta pun ikut tidak bersuara.

Sayidah Zainab sa mengakhiri pidatonya. Ia telah menciptakan gelombang semangat yang sangat dalam di kota Kufah dan kondisi kejiwaan masyarakat pun goyah. Perawi berkata, “Setelah Zainab putri Ali as menyampaikan pidatonya, seluruh masyarakat terheran-heran sambil menggigit tangan-tangan mereka.” Di akhir pidatonya, mulai terasa gejolak kota dan kebangkitan perlawanan terhadap pemerintah. Untuk mencegah revolusi masyarakat terhadap pemerintah yang zalim, panglima pasukan mengirim para tawanan keluarga Nabi saw ke Darul Imarah, pusat pemerintahan Ubaidillah bin Ziyad.

Sayidah Zainab sa bersama para tawanan memasuki Darul Imarah kota Kufah. Di sana ia berdialog dengan gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad.  Ucapan dan perkataan Sayidah Zainab sa memberikan pengaruh yang dalam kepada para penduduk. Ia telah membongkar kejahatan Bani Umayah. Kemudian Ubaidillah mengeluarkan perintah untuk memenjarakan mereka. Pidato Sayidah Zainab, perkataan Imam Sajjad as, Ummu Kultsum dan Fatimah binti Husain di kota Kufah serta Darul Imarah dan protes-protes yang dilancarkan oleh Abdullah bin Afif dan Zaid bin Arqam telah membuat penduduk Kufah berani dan menyiapkan lahan untuk bangkit melawan pemerintah yang zalim. Setelah mendengar ucapan dan pidato yang menggugah dari Sayidah Zainab as, Penduduk Irak benar-benar menyesal dan mulai berpikir bagaimana cara mengangkat kenistaan atas pembunuhan keluarga Nabi. Dengan bentukan-bentukan baru akhirnya mereka mengadakan perkumpulan dan bergabung bersama Mukhtar al-Tsaqafi.

Setelah peristiwa Karbala, Yazid bin Muawiyah memerintahkan Ubaidillah supaya mengirim rombongan Sayidah Zainab sa dan orang-orang yang bersamanya beserta kepala-kepala para syuhada ke Syam. Keluarga Imam Husain pun berjalan menuju kota Syam.

Kondisi pemerintahan Yazid ketika masuknya para tawanan begitu kuat dan kokoh. Sebuah kota yang penduduknya bertahun-tahun mempunyai kebencian terhadap keluarga Ali as. Bertahun-tahun mereka termakan propaganda-propaganda yang dilakukan oleh keluarga Abu Sufyan. Dengan demikian, tidaklah heran ketika Ahlulbait Nabi memasuki kota Syam, para penduduk memakai pakaian baru dan kota dihiasi dengan gemerlap, para penyanyi sibuk mendendangkan lagu-lagunya dan penduduk tenggelam dalam kesenangan dan kegembiraan seakan-akan kota Syam tenggelam dalam kesenangan.

Akan tetapi dalam waktu singkat, para tawanan memanfaatkan kondisi dan mengubahnya. Sayidah Zainab sa dan Imam Ali Zainal Abidin as menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan pidato. Keduanya membongkar segala kejahatan Bani Umayah. Di satu sisi, mereka mengubah permusuhan dan kebencian penduduk Syam terhadap Ahlulbait as menjadi kecintaan dan kerinduan. Di sisi lain, berhasil menciptakan kemarahan secara umum terhadap Yazid. Yazid sendiri melihat bahwa pembunuhan yang ia lakukan terhadap Imam Husain as bukan menjadikan kondisi menjadi lebih baik, justru hal tersebut malah menciptakan pukulan hebat yang menggoncangkan pemerintahannya. (Wikishia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *