Ahlulbait Sejarah

Hadis Itrah dalam Kitab-Kitab Ahlus Sunah

ICC Jakarta –  “ Sesungguhnya Aku Tinggalkan di Tengah Kalian Kitabullah dan Sunnahku “ 

Yang pertama kali menyebutkan Hadis ini adalah Mâlik dalam kitab Muwaththa’, namun riwayatnya mursal dan tanpa sanad. Setelahnya, al Thabari dalam kitab Tarikh-nya yang juga mursal. Benar, Abu Syekh menyebut sanadnya dalam kitab Thabaqât al Muhadditsîn bi Ashbahân.

Ibnu ‘Abd al Barr al Andalûsi dalam kitabnya, al Tamhîd limâ fî al Muwaththa’ min al Ma’ânî wa al Asânîd menyebutkan sanadnya melalui jalur Shâlih bin Musa al Thalhi, dan sanad yang ketiga melalui jalur Katsîr bin Abdullah.

Juga ada sanad keempat yang disebutkan oleh al Hâkim al Naysabûri dalam kitab “ al Mustadrak ‘ala al Shahîhain melalui jalur Ibnu Abu Uwais dan ayahnya. Kemudian sanad yang kelima disebutkan oleh al Khathîb al Baghdâdi dalam kitabnya, al Faqîh wa al Mutafaqqih melalui jalur Sayf bin Umar.

Berikut ini akan dijelaskan secara mendetail:

1.Kitab al Muwaththa’ Malik bin Anas.

Malik bin Anas menyebutkan Hadis ini dengan sanad yang mursal dalam Kitab al Qodr ( Dâr Ihyâ’ al Kutub al ‘Arabiyyah) juz 2 halaman 899

( Hadis ) 3- Telah menyampaikan Hadis dari Malik bahwa telah sampai kepadanya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “ Telah Aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegangan dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah NabiNya “.

Yang dimaksud oleh Malik dengan Hadis yang sampai padanya adalah riwayat Ibnu Ishaq, namun dia tidak menyebut Ibnu Ishaq  dengan jelas karena ia men-dhaifkannya.

2. Kitab Tarikh al Umam wa al Mulûk al Thabari.

Al Thabari mengutip riwayat dari jalur Ibnu Ishaq dari Ibnu Abu Najih. Jalur (sanad) Hadis mursal karena Ibnu Abu Najih dari generasi keenam dan tidak terbukti telah berjumpa dengan para sahabat apalagi dengan Rasulullah saw (Mathba’ah al Istiqâmah Qâhirah Mesir) juz 2 halaman 403.

“ Dengarkanlah perkataanku, sesungguhnya Aku telah menyampaikan dan meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegangan dengannya, maka kalian tidak akan tersesat sama sekali; Kiatbullah dan Sunnah NabiNya “.

3.Kitab Taqrîb al Tahdzîb Ibnu Hajar al ‘Asqollani.

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Abdullah bin Abu Najih dari generasi keenam. Dalam pengantar kitab ini dia menyebutkan bahwa generasi ini sezaman dengan generasi kelima tetapi tidak terbukti bahwa mereka berjumpa dengan seorang sahabat pun. Dia berkata, “Abdullah bin Abu Najih, Yasâr al Makki, Abu Yasâr, al Tsaqafi majikan mereka, tsiqah, dituduh qadariyah, terkadang memalsukan, generasi keenam, wafat tahun tuga puluh satu atau setelahnya.( Lihat Taqrîb al Tahdzîb, Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon. Jjuz 1 halaman 541)

4.Kitab Thabaqât al Muhadditsîn bi Ashbahân Abu Syekh Ibnu Hayyân.

Abu Syekh Ibnu Hayyân meriwayatkan Hadis ini kitabnya Thabaqât al Muhadditsîn ( Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut –Lebanon) juz 4 halaman 288.

Dari Yazid al Raqâsyi dari Anas bin Malik, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “ Sesungguhnya telah Aku tinggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegangan dengannya, maka kalian tidak akan tersesat; Kitabullah dan Sunnah NabiNya “.

5. Kitab al Dhuafâ’ al Kabîr Al ‘Aqîli  al Makki.

Al ‘Aqîli  menyebutkan Hadis ini dari Yazid al Raqâsyi dalam Kitab al Dhuafâ’ al Kabîr (Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) sifir 4 halaman 373. Dia menulis, “ Yazid bin Abbân al Raqâsyi. Syu’bah berkata, “ Menempuh perjalanan lebih aku sukai dari pada aku meriwayatkan dari Yazid al Raqâsyi “. Juga menulis, “Syu’bah berkata, “ Melakukan zina lebih aku sukai daripada aku menyampaikan Hadis dari Yazid al Raqâsyi “. “ Yahya tidak menyampaikan Hadis dari Yazid al Raqâsyi.

Ibnu ‘Uday menyebutkan dalam kitabnya al Kâmil fi Dhua’fâ’ al Rijâl ( Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) juz 9 halaman 130,  “ Yazid bin Abbân al Raqâsyi Bashri. Syu’bah berkata, “ Melakukan zina lebih aku sukai daripada aku menyampaikan Hadis dari Yazid al Raqâsyi “. Juga berkata, “Syu’bah berkata, “ Seseorang melakukan zina lebih baik dari pada meriwayatkan dari Abbân dan Yazid al Raqâsyi “.

Juga berkata, “ Ahmad bin Hanbal berkata, “ Jangan kamu tulis dari Yazid al Raqâsyi. Aku bertanya kepadanya, “ Mengapa Hadis Yazid ditinggalkan apakah karena hawa nafsu yang ada padanya ? “. Dia menjawab, “ Tidak, tetapi Hadisnya Munkar ( Hadis yang diriwayatkan oleh seorang diri periwayat yang dha’if, atau hadits itu bertentangan dengan periwayat yang lebih kuat). Syu’bah menyerangnya dan bahwa dia suka dongeng “.

6. Kitab al Tamhîd Lima fi al Muwaththa’ min al Ma’âni wa al Masânîd Ibnu Abdu al Barr al Qurtubi.

Ibnu Abdu al Barr menyebutkan Hadis ini dari dua jalur; pertama jalur Shâlih bin Musa dan kedua jalur Katsîr bin Abdullah dalam kitabnya,  al Tamhîd Lima fi al Muwaththa’ min al Ma’âni wa al Masânîd (Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) juz 10 halaman 526.

“ Telah menyampaikan Hadis kepada kami Shâlih bin Musa al Thalhi, dia berkata, “ Telah menyampaikan Hadis kepada kami Abdul Aziz bin Rafî’ dari Abu Shâlih dari Abu Hurairah, dia berkata, “ Rasulullah saw. bersabda, “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah kalian dua, yang kalian tidak akan tersesat setelahnya sama sekali; Kitabullah dan Sunnahku “.

Dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin ‘Awf dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata, “ Rasulullah saw. bersabda, “ Telah Aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegangan dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah NabiNya ”.

7. Kitab al Kâmil fi Dhua’fâ’ al Rijâl Ibnu ‘Uday al Jurjâni Ibnu ‘Uday.

Ibnu ‘Uday menyebutkan Hadis ini dalam Hadis-hadis Munkarnya Shâlih bin Musa ( Hadis Munkar adalah Hadis yang diriwayatkan oleh orang dha’if sendirian) lihat kitab al Kâmil fi Dhu’af’ al Rijâl (Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) juz 5 halaman 106

“ Telah menyampaikan Hadis kepada kami Shâlih bin Musa al Thalhi, dia berkata, “ Telah menyampaikan Hadis kepada kami Abdul Aziz bin Rafî’ dari Abu Shâlih dari Abu Hurairah, dia berkata, “ Rasulullah saw. bersabda, “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah kalian dua, yang kalian tidak akan tersesat setelahnya sama sekali; Kitabullah dan Sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang kepadaku di Telaga Surga “.

8.Kitab Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlu Sunnah wa al Jamâ’ah Ibnu Mashir al Thabari.

Dr. Ahmad al Ghâmidi dalam catatannya terhadap kitab ini menyatakan ke-dhaifan Hadis ini dari jalur Shâlih bin Musa (Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlu Sunnah wa al Jamâ’ah. Dâr Thaybah jilid 1 halaman 89)

( Hadis ) 90- Telah memberitahu kami al Hasan bin Utsman, telah menyampaikan kepada kami Hamzah bin Muhammad bin al ‘Abbas, telah menyampaikan kepada kami Abdul Karim bin al Haytsam, telah menyampaikan kepada kami Shâlih bin Musa dari Abdul Aziz bin Rafî’ dari Abu Shâlih dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah kalian  sesuatu yang kalian tidak akan tersesat setelah keduanya selamanya selama kalian berpegangan dengan keduanya atau kalian menjalankan keduanya; Kitabullah dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya mendatangiku di Telaga Surga “.

Sanadnya dhaif, di dalamnya terdapat Shâlih bin Musa al Thalhi. Tentangnya, al Dzahabi berkata, dia dhaif. Yahya berkata, “ Dia tidak ada apa-apanya dan Hadisnya jangan ditulis. Bukhari berkata, “ Hadisnya munkar “. Nasâ’i berkata, “ Dia ditinggalkan (matruk). Ibnu ‘Uday berkata, “ Dia menurutku termasuk orang yang tidak sengaja berdusta. Al Dzahabi membawakan Hadis ini dalam biografinya di al Mizan/2: 301-302.

Ibnu ‘Ady menyebutkan Shâlih bin Musa dalam kitab al Kâmil Fi Dhuafâ’ al Rijâl,Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon juz 5 halaman 105, “ Shâlih bin Musa al Thalhi Kûfî. Dari Yahya, dia berkata, “ Shâlih bin Musa Hadisnya bukan apa-apa “

Di tempat yang lain dia berkata, “Shâlih bin Musa bin Ishaq bin Yahya bin Thalhah bukan apa-apa dan Hadisnya jangan ditulis “.

Al Bukhari berkata, “Shâlih bin Musa putra Thalhah bin Ubaidillah Hadisnya munkar “.

Al Bukhari berkata, “Shâlih bin Musa putra Thalhah bin Ubaidillah  Hadisnya munkar “.

Al Sa’di berkata, “Shâlih bin Musa Hadisnya dhaif “.

Al Nasa’I berkata, “Shâlih bin Musa al Thalhi Hadisnya munkar “.

9. Kitab Mîzân al I’tidâl Al Dzahabi.

Al Dzahabi menyatakan, Mîzân al I’tidâl (Dâr al Fikr) bagian 2 halaman 302.

3831- Shâlih bin Musa bin Ubaidillah bin Ishaq bin Thalhah bin Ubaidillah al Qurasyi al Thalhi Kûfî Dhaif. Yahya berkata, “ Dia bukan apa-apa dan Hadisnya jangan ditulis. Al Bukhari berkata, “ Hadisnya munkar “. Al Nasâ’i berkata, “ Matruk “. Ibnu ‘Ady berkata, “ Dia menurutku termasuk orang yang tidak sengaja berdusta “.( Mîzân al I’tidâl. Dâr al Fikr halaman 302)

Dawud bin ‘Amr al Dhabbi, telah menyampaikan kepada kami Shâlih bin Musa, telah menyampaikan kepada kami Abdul Aziz bin Rafî’ dari Abu Shâlih dari Abu Hurairah, “ Sesungguhnya telah Aku tinggalkan di tengah kalian dua hal yang kalian tidak akan tersesat setelahnya; Kitabullah dan Sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya mendatangiku di Telaga Surga “.

10. Kitab Laâlî al Mashnû’ah fi al Ahâdîts ak Mawdhû’ah Al Suyûthi.

Al Suyûthi men-dhaifkan Hadis ini dengan riwayat Katsîr bin Abdullah dalam kitabnya al Laâlî al Mashnû’ah fi al Ahâdîts ak Mawdhû’ah (Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) juz 1 halaman 86.

Malik dalam al Muwaththa’ berkata bahwa telah sampai kepadanya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “ Telah Aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegangan dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnahku “. Ibnu Abdul Barr menyandarkannya dalam al Tamhîd dari jalur Katsir dari ayahnya dari kakeknya.

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “ Yang jelas Malik telah mengambilnya dari Katsir, dan yang lebih dekat bahwa Katsir masuk dalam daftar orang-orang dhaif yang hadisnya tidak jatuh sampai tingkat palsu, dan Hadis yang dibawakan oleh penyusun berada pada tingkat dhaif yang tidak jatuh pada tingkat palsu “.

Ibnu ‘Udy menyebutkan Hadis ini dari Katsîr dalam kitab al Kâmil fi Dhua’fâ’ al Rijâl (Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) juz 7 halaman 187, “ Katsîr bin Abdullah bin ‘Amr bin ‘Awf al Mazni, Madîni.

Ahmad bin Hanbal berkata, “ Jangan lah kamu menyampaikan Hadis dari Katsir bin Abdullah al Mazni sedikitpun “.

Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang Katsir bin Abdullah bin ‘Amr bin ‘Awf, dia berkata, “ Hadisnya munkar dan tidak ada apa-apanya “.

Abdullah dari ayahnya, dia berkata, “ Katsir bin Abdullah bin ‘Amr bin ‘Awf tidak berbuat apa-apa “.

Abdullah berkata, “ Ayahku melemparkan Hadis Katsir bin Abdullah dalam al Musnad dan dia tidak mengambil Hadisnya “.

Yahya bin Maîn berkata, “ Katsir bin Abdullah al Mazni Hadisnya tidak ada apa-apanya dan jangan ditulis “.

Al Dzahabi menyebutkan Hadis ini dari jalur Katsîr bin Abdullah dalam kitab Mîzân al I’tidâl (Dâr al Fikr) bagian 3 halaman 407., “Katsîr bin Abdullah bin ‘Amr bin ‘Awf bin Zaid al Mazni al Madani. Ibnu Maîn berkata, “ Dia bukan apa-apa “. Al Syâfi’I dan Abu Dawud berkata, “ Dia adalah satu pilar dari pilar-pilar kebohongan “, dan Ahmad melemparkan Hadisnya.

Al Dâruqutni dan lainnya berkata, “ Dia matruk “. Abu Hâtim berkata, “ Dia tidak kuat “. Al Nasâ’î berkata, “ Dia tidak tsiqah “. Mithraf bin Abdullah al Madani berkata, “ Aku telah melihatnya, dia sering bertengkar, dan tidak ada seorangpun dari teman-teman kami yang mengambil darinya “.

Ibnu Hibbân berkata, “ Dia mempunyai dari ayahnya dari kakeknya satu naskah yang palsu “.

11. Kitab al Mustadrak ‘ala al Shahihain Al Hâkim al Naysabûri.

Al Hâkim menyebutkan Hadis ini dangan sanad yang ketiga dari jalur Ismail bin Abu Uways dari ayahnya dalam al Mustadrak ‘ala al Shahihain (Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) juz 1 halaman 171.

“ Ismail bin Muhammad bin al Fadhl al Sya’râni, telah menyampaikan kepada Kami kakekku, telah menyampaikan kepada kami ( Ismail ) Ibnu Abu Uways, telah menyampaikan kepadaku ayahku dari Tsawr bin Zaid al Dayli dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw. telah berkhutbah kepada umat manusia pada haji Wada’ dan bersabda, “ Sesungguhnya setan telah kecewa untuk disembah di tanah kalian tetapi dia rela untuk ditaati pada selain itu dari perbuatan-perbuatan kalian yang saling menghina. Hati-hatilah wahai umat manusia, sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegangan dengannya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya; Kitabullah dan Sunnah NabiNya “.

Al ‘Aqîli menyebutkan Hadis ini dari Ismail bin Abu Uways dalam Kitab al Dhua’fâ’ al Kabîr (Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) bagian 1 halaman 87, “  Ismail bin Abdullah bin Abu Uways al Madini. Yahya bin Maîn berkata, “ Abu Uways dan putranya dhaif “.

Yahya bin Maî’n berkata, “ Ismail bin Abu Uways melakukan kedunguan “.

Ibnu ‘Ady menyebutkan Hadis ini dari Ismail bin Abu Uwasy dalam kitab al Kâmil fi Dhua’fâ al Rijâl (Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) juz 1 halaman 525, “ Ismail bin Abu Uways. Yahya bin Maîn berkata, “ Ibnu Abu Uways dan ayahnya mencuri Hadis, dan Abu Uways Abdullah bin Abdullah “.

Al Nidhir bin Salamah al Mirwazi berkata, “ Ibnu Abu Uways seorang pendusta, dia telah menyampaikan hadis dari Malik tentang masalah-masalah Abdullah bin wahab “.

Al Nasâ’i berkata, “ Ismail bin Abu Uways dhaif “.

Al ‘Aqîli menyebutkan Hadis ini dari Abu Uways pada sanad al Hâkim dalam Kitab al Dhuafa’ al Kabîr (Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) bagian 2 halaman 270, “ Abdullah bin Abdullah bin Uways, Abu Uways bin Abu ‘Âmir al Ashbahi al Madani. Yahya berkata, “ Abu Uways jujur tapi bukan hujjah “.

Pada tempat yang lain dai berkata, “ Abu Uways seperti Falih yang ada ke-dhaifannya “.

Yahya berkata, “ Abu Uways dhaif seperti Falih “. “ Abu Uways dan putranya adalah dhaif “.

Ibnu ‘Uday menyebutkan Hadis ini dari Abu Uways pada sanad al Hâkim dalam kitab al Kâmil fi Dhua’fâ al Rijâl(Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) juz 5 halaman 300, “ Abdullah bin Abdullah bin Abu ‘Âmir al Qurasyi al Taymi Abu Uways al Ashbahi al Madîni. Ahmad bin Hanbal berkata, “ Ibnu Abu Uways tidak ada apa-apanya dan ayahnya Hadisnya dhaif “.

Yahya bin Maî’n berkata, “ Ibnu Abu Uways dan ayahnya mencuri Hadis “.

Muawiyah dari Yahya, dia berkata, “ Abu Uways jujur tetapi bukan hujjah, dia di bawah al Darâwardi, dia seperti Falih dalam Hadisnya yang dhaif “.

12. Kitab al Faqîh wa al Mutafaqqih Al Khathîb al Baghdâdi.

Al Baghdâdi menyebutkan sanad yang keempat dari jalur Sayf bin Umar dalam kitabnya al Faqîh wa al Mutafaqqih. Al ‘Azzâzi peneliti kitab ini menyatakan akan ke-dhaifan sanadnya.

Dari Abu Said al Khudri, dia berkata, “ Pernah Rasulullah saw. keluar menghadap kami saat sakit yang membuatnya wafar sementara kami sedang solat dhuhur. Lalu Abu Bakar mundur ke belakang, lalu beliau memberi isyarat agar dia tetap di tempatnya. Beliau solat bersama manusia. Ketika selesai, beliau memuji Allah dan menyebutNya kemudia beliau bersabda, “ Wahai umat manusia, sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengan kalian dua pusaka yang berat; Kitabullah dan Sunnahku. Ajaklah bicara Qur’an dengan Sunnahku, dan janganlah kalian mengabaikannya, karena kalian ia tidak akan membuat mata kalian buta dan kaki kalian tidak akan tergelincir serta tangan kalian tidak akan kurang selama kalian berpegangan dengan keduanya “.

Sanadnya dhaif karena ada Sayf bin Umar dan al Shabâh bin Muhammad bin Abu Hâzim. Mereka semua dhaif dalam kitab al Taqrîb.

Al ‘Aqîli menyebutkan Hadis ini dari Sayf bin Umar dalam sanad riwayat al Khathîb al Baghdâdi dalam Kitâb al Dhua’fâ al Kabîr ( Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) bagian 2 halaman 175, “ Sayf bin Umar al Dhabbi Kûfî. Yahya berkata, “ Sayf bin Umar al Dhabbi yang menyampaikan darinya al Bukhari, dia seorang dhaif “.

“ Dia tidak ditelusuri dan juga kebanyakan Hadisnya tidak diikuti “.

Ibnu ‘Ady menyebutkan Hadis ini dari Sayf bin Umar dalam sanad riwayat al Khathîb al Baghdâdi dalam kitab al Kâmil Fi Dhuafâ al Rijâl (Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon) juz 4 halaman 507, “ Sayf bin Umar al Dhabbi Kûfî. Yahya berkata, “ Sayf bin Umar al Dhabbi orang dhaif “.

Yahya bin Main ditanya tentang Sayf bin Umar, dia berkata, “ Tidak ada kebaikan darinya “.

Al Dhahabi menyebutkan Hadis ini dari Sayf bin Umar dalam sanad al Khathîb al Baghdâdi dalam kitab Mîzân al I’tidâl (Dâr al Fikr) bagian 2 halaman 255, “ Sayf bin Umar al Dhabbi al Asadi, disebut juga al Tamîmi al Burjumi. Abbas dari Yahya, dia berkata, “ Dia dhaif “. “ Tidak ada kebaikan darinya “. Abu Dawud berkata, “ Dia tidak ada apap-apanya “. Abu Hâtim berkata, “ Dia matruk “. Ibnu Hibbân berkata, “ Dia dituduh zindiq (ateis) “. Ibnu ‘Ady berkata, “ Kebanyakan Hadisnya munkar “.

13. Kitab Târîkh Wâsith al Wâsithi.

Al Wâsithi meriwayatkan dari Umar bin al Khattab dalam kitabnya, Târîkh Wâsith (‘Âlm al Kutub halaman 50 ).

“Umar bin al Khaththâb ra. berkata, “ Hai kaum Quraisy, sesungguhnya aku tidak khawatir atas kalian, tetapi aku takut kalian atas umat manusia. Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian atas sesuatu seperti anak unggas, dan aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat setelah keduanya; Kitabullah ‘azza wa jalla dan Sunnah NabiNya “.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *