Konsultasi Keluarga

Komunikasi Dialogis, Modal Awal Pendidikan Anak

ICC Jakarta – Mari semua orang bayangkan ada sebuah keluarga yang kaku, keras, otoriter dalam menerapkan pola hubungan orangtua dengan anak.

Biasanya anak-anak diperlakukan dengan sangat disiplin, tepat waktu dalam segala hal dan secara mekanis disiapkan target yang  harus diraih ditiap jenjang pendidikannya. Kemungkinan besar anak-anak tersebut akan mengalami ketakutan dan kecemasan karena kontrol yang berlebihan.

Sebaliknya bila anak diperlakukan laiknya sahabat, dekat secara fisik dan emosi, hingga orang tua cenderung lemah, lembek karena tidak memiliki hierarki wewenang dan kekuasaan yang jelas, maka situasi akan kacau karena masing-masing ingin saling menguasai.

Kedua pola hubungan tersebut tidak baik, setidaknya itu yang ingin disampaikan John L. Friel dan Linda D. Friel dalam bukunya yang terbit tahun 2002 “7 Kesalahan terbesar orang tua dan cara-cara memperbaikinya”.

Kesehatan hubungan orang tua dan anak sangat tidak mudah dijabarkan. Hal ini dipersulit dengan pola asuh di banyak budaya, namun jangan khawatir karena manusia adalah makhluk hebat karena dikaruniai daya adaptif luar biasa untuk menciptakan hubungan yang sehat dalam keluarga.

Salah satu indikator kesehatan hubungan keluarga ditandai dengan hubungan yang bersifat dialogis dengan suasana tenang penuh cinta. Pada kondisi ini anak-anak mendapatkan haknya untuk memperoleh kasih sayang dan perlindungan sehingga berkembang kepribadiannya.

Hal ini sesuai dengan dengan kata pengantar buku Leila Ch Budiman berjudul “Menjadi orangtua idaman, rubrik konsultasi psikologi Kompas”. Buku yang terbit tahun 1999 tersebut mengatakan bahwa suasana yang tenang penuh cinta adalah situasi yang kondusif bagi perkembangan anak-anak.

Anak-anak yang dibesarkan dengan kasih sayang dan perlindungan akan memiliki modal awal bagi perkembangan kepribadiannya. Mereka akan tumbuh sehat memiliki cinta kasih dan rasa hormat kepada sesama. Sebaliknya bila anak dibesarkan dalam suasana yang penuh tekanan, kekerasan dan kebencian maka akan tercetak anak-anak yang bermasalah, demikian kata pengantar buku berisi jawaban-jawaban kasuistik yang dimuat di salah satu rublik harian Kompas itu.

Di dunia nyata, sebuah keluarga yang mengembangkan sikap dialogis maka secara alami akan menciptakan kedekatan yang terukur. Tidak terlalu kaku dan otoriter, tegas pada prinsip-prinsip tertentu namun memungkinkan partisipasi aktif dari anak dan orang tua.

Hal ini setidaknya pernah dikemukakan oleh seorang ibu yang tinggal di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Nyonya Ahmad. Dia bahkan memperdalam ilmu komunikasi yang mengedepankan dialog, lewat jalur formal agar bisa berkomunikasi lebih baik dengan dua buah hatinya.

“Saya mengalami masa-masa sulit ketika harus berdialog dengan anak pertama saya saat dia masih SMP. Saya tidak mau mengulang kesalahan yang sama,” kata Nyonya Ahmad. Kedepan dia ingin lebih baik lagi dan menyadari bahwa anak memerlukan kehadiran orang tua untuk teman dialog, untuk meminta pendapat dan untuk berbagi cerita menghadapi permasalahnya.

Nyonya Ahmad melanjutkan bahwa pola komunikasi anak dan orang tua jaman sekarang sangat berbeda dengan jaman ketika dia dibesarkan, kata dia mengacu pada tahun 70-an.

Ibu dari dua orang anak ini menyebutkan bahwa dia dibesarkan oleh keluarga yang protektif terhadap anak perempuan. Anak perempuan tidak boleh ikut olah raga yang keras seperti bela diri, anak perempuan harus jago masak. Namun Nyonya Ahmad merasa didikan orang tuanya cukup efektif meski tidak bisa diterapkan mentah-mentah untuk jaman sekarang.

“Jaman saya kuliah di awal 1990-an, saya tetap merasakan kedekatan dengan orang tua. Bahkan saya ingat di luar kepala kata-kata nasehat yang diucapkan oleh ayah ibu,” ujarnya.

Lain halnya dengan Yudith, apoteker yang tinggal di Jakarta Barat yang memiliki sejumlah saran atau tip untuk menciptakan suasana keluarga yang komunikatif, terbuka, hangat dan penuh cinta.

Menurut Yudith. hal yang utama dan pertama dilakukan adalah membangun kedekatan melalui upaya pengenalan terhadap kondisi fisik dan psikis anak. Artinya kita harus mengenali gender anak kita dulu, karena susunan otak anak laki-laki berbeda dengan perempuan, kemudian kenali karakternya selain tentu saja fahami kondisi kesehatan fisiknya.

Tahap kedua, menurut ibu tiga orang anak itu adalah metetapkan pola pengasuhan yang tepat sebagai bentuk kompromi antara ibu dan ayah. Langkah selanjutnya adalah mengawal terus proses menuju kedewasaan. Bagian yang paling penting menurut Yudith adalah orang tua dituntut senantiasa memperbaiki diri agar sanggup menjadi suri teladan yang baik bagi anak-anaknya.

Anak yang masuk asrama

Bagaimana tetap mempertahankan hubungan keluarga yang komunikatif bagi anak-anak masuk asrama atau pondok pesantren? Berikut ini hasil rangkuman wawancara dari sejumlah orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di lingkungan asrama.

Iwan menyekolahkan anaknya di asrama setingkat sekolah menengah pertama berstandar international di kota Malang, Jawa Timur. Harapannya agar sang anak bisa bersosialisasi dengan baik. Kekhawatiran Iwan cukup beralasan karena dia sering menjumpai anaknya lebih sibuk bermain game dan memegang gadget dibanding bertegur sapa dengan saudara ataupun teman-temannya.

“Biar dia sekolah di sana, biar kenal banyak orang dari seluruh Indonesia. Biar dia belajar disiplin, biarin aja nyapu sendiri, nyuci sendiri,” demikian ujarnya. Namun Iwan yang tinggal sekitar 70 kilometer dari asrama anaknya tetap menyempatkan hadir hampir di tiap akhir minggu bergantian dengan istri atau kerabatnya untuk menjenguk sang buah hati, bercengkerama dan berdialog.

Lain halnya dengan Eva yang tinggal di Pondok Kopi Jakarta Timur. Ia menyekolahkan anaknya di pondok pesantren di Al-Kahfi Bogor, namun ia berupaya tetap membangun komunikasi dengan sang buah hati.

Eva lebih memilih menggunakan surat meskipun anaknya juga dibekali dengan alat komunkasi yang cukup canggih. Tulisan tangan yang tertera pada selembar kertas, menurut ibu Eva lebih mencerminkan perasaan si penulis, menggambarkan suasana hati, kata dia seraya menunjukkan puisi disertai sketsa yang dibuat anaknya.

“Awalnya kami berdua kangen bahkan menangis ketika anak saya lulus sekolah dasar dan tinggal di asrama, namun kita harus saling menguatkan,” kata Eva. Menurut dia, bentangan jarak orang tua dan anak justru mendekatkan secara emosi, karena hal itu menjadikan mereka lebih khusyu berdoa untuk kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan.

Percaya pada proses

Menciptakan suasana keluarga yang dialogis memerlukan proses dan pembelajaran yang terus menerus dan tidak ada jalan yang mulus. Pada saat yang sama orang tua dan anak-anak selalu bisa belajar dari kesalahan sendiri maupun dari praktek-praktek terbaik dari keluarga yang sukses.

Setiap kesalahan yang telah dibuat hendaknya bisa menjadi momentum untuk memaafkan, bangkit dan memperbaiki diri.

Hendaknya momentum perbaikan diri tersebut ditunjang dengan prinsip-prinsip komunikasi yang jujur dan terbuka dalam berinteraksi dengan buah hati, karena kejujuran adalah poin utama untuk menanamkan rasa percaya sang anak kepada ibu bapaknya.

Demikian pula sebagai timbal baliknya anak-anak harus dididik untuk berkata, bertindak jujur dan membuka diri dalam berkomunikasi dengan orang tua.

Proses selanjutnya untuk menciptakan suasana kedekatan yang terukur adalah menanamkan empati, yakni kecerdasan untuk menempatkan diri pada peran atau posisi orang lain. Artinya orang tua dan anak harusnya secara emosional dan intelektual mampu memahami apa yang dirasakan dan dialami oleh masing-masing pihak.

Yang tidak kalah penting adalah perilaku menerima yakni tidak terlalu kaku mempertahankan pendapat atau sikap.

Selanjutnya adalah mengembangkan sikap positif untuk diri pribadi maupun mengembangkan sikap positif terhadap orang lain serta mengedepankan kesetaraan yakni tidak memandang rendah satu sama lain dalam berkomunikasi.

Memang suasana dialogis bisa diupayakan dan tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Berdialog adalah bagian dari membangun kedekatan yang terukur.

Muaranya adalah agar anak memperoleh haknya untuk tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dyah Sulistyorini (Antaranews)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *