Wawancara

Grand Shaikh Al-Azhar: Tidak ada Masalah dengan Ajaran Syiah!

ICC Jakarta — Tokoh Sunni moderat Grand Shaikh Al-Azhar, Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb menyampaikan dengan tegas pentingnya persaudaran sejati dengan kalangan Syiah ketika menjawab pertanyaan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan wartawan Channel Nil Mesir.

Intinya beliau menyampaikan dengan tegas pentingnya persaudaraan sejati termasuk dengan Muslim Syiah. Mazhab Sunni tidak boleh mengkafirkan kelompok Syiah karena perbedaan pendapat. Karena menurut beliau, mereka (mahzab Syiah) adalah saudara muslim. Hasil wawancara ini kembali diunggah oleh situs resmi Kementerian Agama RI, bimasislam.kemenag.go.id. Berikut ini kutipan hasil wawancaranya:

Bagaimana ajaran Syiah menurut Anda?

Tidak ada masalah dengan ajaran Syiah. 50 tahun lalu, Syaikh Syaltut berfatwa bahwa Syiah adalah mazhab kelima dalam Islam dan sama seperti mazhab-madzab Islam yang lain.

Anak-anak kita akan menjadi Syiah. Apa tindakan kita?

Biar saja mereka menjadi Syiah. Apakah kita akan menyalahkan orang yang berpindah mazhab dari Hanafi ke Maliki? Mereka (yang menjadi Syiah) hanya berpindah dari mazhab keempat ke mazhab kelima.

Orang Syiah menjadi kerabat kita. Mereka menikah dengan anak-anak kita.

Apa masalahnya? Pernikahan antar mazhab itu dibolehkan.

Kabarnya Alquran mereka berbeda dengan Alquran kita.

Itu omong kosong. Tidak ada perbedaan antara Alquran kita dan mereka. Bahkan rasmul khat mereka sama dengan Alquran kita.

23 ulama dari sebuah negara (Saudi) berfatwa bahwa Syiah adalah kafir dan rafidhi.

Hanya Al-Azhar yang bisa berfatwa untuk muslimin. Fatwa mereka (ulama Saudi) tidak kredibel.

Lalu bagaimana dengan perselisihan Syiah-Sunni yang dikemukakan mereka?

Perselisihan itu adalah politik luar negeri yang ingin memecah belah Syiah dan Sunni.

Saya punya pertanyaan serius. Syiah tidak menerima Abu Bakar dan Umar. Bagaimana bisa Anda menyebut mereka muslim?

emang mereka tidak menerima. Tapi apakah meyakini Abu Bakar dan Umar termasuk prinsip agama Islam? Kisah tentang mereka berdua adalah kisah sejarah. Sejarah tidak berkaitan dgn prinsip akidah.

Ada satu kritikan terhadap Syiah. Mereka berkata bahwa imam zaman mereka masih hidup semenjak 1000 tahun lalu.

Mungkin saja,kenapa tidak mungkin? Tapi tak ada alasan kita mesti berkeyakinan sama seperti mereka.

Mungkinkah bocah berusia 8 tahun menjadi imam? Syiah meyakini bahwa bocah berusia 8 tahun menjadi imam.

Kalau bayi dalam buaian bisa menjadi nabi (Nabi Isa as-red) ,tidak mengherankan bocah usia 8 tahun menjadi imam. Meski kita sebagai Ahlussunnah tidak meyakini hal ini. Tapi keyakinan ini tidak merusak keislaman mereka. Mereka tetap orang muslim.

Setelah mendengar wawancara di atas, Dr. Shojaei Fard, dosen ilmu mekanik di Universitas Elm va Shanat, berkata: “Wawancara ini sangat menarik untuk saya. Saya berusaha menghubungi Syaikh Thayyeb untuk berterima kasih kepadanya. Melalui telpon saya berkata kepada beliau, “Anda membela Syiah dengan sangat baik. Bahkan seorang ulama Syiah pun mungkin tidak akan melakukan pembelaan serupa. Minimal dia akan bersikap hati-hati. Tapi Anda berani mengatakan bahwa keyakinan kepada Abu Bakar dan Umar bukan bagian dari prinsip Islam”.

Syaikh Thayyeb berkata, “Saat Ayatullah Khamenei menghadapi Amerika dengan teguh dan membuat mereka bertekuk lutut dalam masalah nuklir, dan di sisi lain, Sayyid Hasan Nasrullah melawan Zionis dengan berani dan mengalahkan mereka dalam perang 33 hari, saya melihat mereka sebagai kebanggaan Islam. Amerika dan kawan-kawan nya berniat mencitrakan mereka sebagai Syiah radikal dan menyebut Syiah sebagai rafidhi dan non-muslim demi mengambil kebanggaan ini dari Dunia Islam.

“Supaya para pemuda kita merasa bahwa kebanggaan ini milik Islam, saya telah mengadakan 8 acara televisi untuk mengatakan bahwa Syiah adalah muslim, Syiah tidak berbeda dengan kita, dan Syiah adalah salah satu mazhab Islam.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *