Maarif Islam

Keselamatan Dan Kesehatan Selalu Ada Bersama Berpikir Dan Bernalar

ICC Jakarta – Pentingnya penetapan tujuan, perencanaan, disiplin dan manajemen waktu telah menjadi hal yang disepakati. Kepatuhan pada prinsip-prinsip itu memiliki pengaruh besar bagi gaya hidup kita. Ajaran Islam serta sirah Nabi Saw dan Ahlul Bait sangat menekankan hal tersebut. Semua tugas personal dan sosial kita dalam hidup ini bisa ditata dengan mematuhi prinsip-prinsip tersebut dan dapat dikerjakan dengan baik.

Yang dimaksud dengan tugas-tugas personal adalah suatu kegiatan perseorangan yang dilakukan oleh individu tertentu tanpa memperhatikan apakah ia berada di tengah keluarga atau masyarakat. Di antara tugas-tugas personal adalah membentuk pola pikir, menuntut ilmu pengetahuan, ibadah, menjaga kebersihan dan kesehatan, berolahraga, memilih model pakaian dan menggeluti pekerjaan tertentu.

Berapa lama waktu yang kita luangkan untuk berpikir dan belajar di sepanjang hari? Atau berapa buah buku yang selesai kita baca dan memperkaya pengetahuan kita di sepanjang bulan? Ketika kita memutuskan untuk melakukansesuatu, berapa lama waktu yang kita habiskan untuk berpikir?

Pemikiran dan perenungan termasuk salah satu aset manusia paling berharga dan hal itu menjadi pembeda mereka dengan semua makhluk lain. Manusia adalah makhluk yang berakal dan bernalar, dimana mereka punya kemampuan untuk memikirkan berbagai masalah.

Pada dasarnya, kesempurnaan dan perkembangan manusia bergantung pada kapasitas pemikirannya. Jelas bahwa kegiatan berpikir dan memperkaya pengetahuan memainkan peranan besar dalam gaya hidup kita. Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Keselamatan dan kesehatan selalu ada bersama berpikir dan bernalar.”

Berpikir dan bernalar harus selalu menyertai setiap pekerjaan dan keputusan. Manusia adalah makhluk yang tergesa-gesa dan ingin cepat sampai pada sesuatu. Sifat ini kemudia membuat mereka tidak mampu membedakan mana yang baik dan buruk dan mana yang benar dan salah. Oleh sebab itu, tidak adanya penalaran dan perenungan telah menciptakan banyak kegagalan dan ketimpangan di ranah individu, keluarga dan masyarakat.

Rasul Saw bersabda, “Saya wasiatkan bahwa setiap kali kalian ingin melakukan sesuatu, maka pikirkanlah akibatnya, jika pekerjaan itu membawa kemajuan maka lakukanlah, tapi jika it mendatangkan kerusakan dan kerugian, maka tinggalkanlah.”


Demikian juga Imam Shadiq as dalam sebuah pesan kepada salah seorang sahabatnya yang meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk menjadi penganggur, berkata, Mulailah kembali berdagang dan bekerja, karena menganggur akan mengurangi kemampuan akal.”

Kelalaian terhadap kekuatan akal dan pemahaman dalam kehidupan material dan spiritual justru akan memperlemah manusia. Namun, penggunaan akal dan nalar secara optimal akan meningkatkan efektifitasnya. Menghabiskan waktu dengan kemalasan dan tidak punya kegiatan, juga akan mengurangi kemampuan otak seseorang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *