Ahlulbait

Kelahiran Sang Pelita Penerang Umat

ICC Jakarta – Imam Hadi as, manusia suci keturunan Rasulullah Saw. Pada tahun 212 Hijriah, Imam Ali bin Muhammad yang dikenal dengan Imam Hadi terlahir kedunia. Sejarah kehidupan manusia suci ini sangat cemerlang dan upayanya yang gigih dalam membimbing umat beliau diberi gelar al-Hadi atau pembimbing. Tak diragukan lagi mengenal dan mendekatkan diri kepada manusia yang menjadi manifestasi nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, akan membantu kita mencapai kebahagiaan. Bukalah hati kita untuk menerima petuah-petuah tinggi beliau dan jadikan diri kita sebagai pecintanya yang hakiki.

Imam Hadi dilahirkan di sebuah desa di dekat kota Madinah pada tahun 212 Hijriah. Ibunya bernama Samanah yang lebih dikenal dengan sebutan Sayyidah. Setelah gugurnya sang ayah (Imam Jawad as), Imam Hadi as menerima tanggung jawab besar dalam memimpin serta membimbing umat Islam. Tugas suci ini diemban Imam Hadi selama 33 tahun. Selama masa keimamahannya, Imam Hadi selain aktif menyebarkan prinsip-prinsip agama, juga sangat memperhatikan kondisi politik dan sosial umat Islam.

Selama periode kehidupannya, Imam Hadi mengalami pemerintahan sejumlah pemimpin zalim Bani Abbasiyah. Kezaliman dan egoisme para khalifa Abbasiyah telah membuka peluang ketidakpuasan umat Islam sehingga sendi-sendi pemerintahan mereka semakin keropos. Sejak periode kehidupan Imam Jawad as, para khalifa Bani Abbasiyah semakin meningkatkan represi politiknya kepada Ahlul Bait Nabi. Dalam koridor strategi ini pula, khalifa Bani Abbasiyah memindahkan dengan paksa Imam Hadi as dari pusat ilmu yakni Madinah ke kota Samarra di Irak.

Sepuluh tahun terakhir usianya dihabiskan Imam Hadi as di kota Samarra. Kondisi umat Islam saat periode keimamahan Imam Hadi as sangat tertekan. Represi besar politik dan maraknya syubhah ideologi (ideologi menyimpang), dua fenomena kental yang dapat disaksikan di kehidupan Imam Hadi as. Atmosfir mencekik, khususnya di era pemerintahan Mutawakkil membuat warga kesulitan untuk menjalin hubungan dan akses kepada Imam Hadi. Di sisi lain, maraknya berbagai pendapat yang menyebar di tengah masyarakat terkait isu ideologi dan keyakinan berujung pada terbentuknya kelompok dan mazhab. Sejatinya munculnya kendala ini kian memahamkan kita akan urgensitas keberadaan para imam maksum dan Ahlul Bait Nabi untuk menjaga sendi-sendi agama.

Salah satu misi besar Imam Hadi adalah membangun masyarakat yang kokoh. Imam kemudian memulai konfrontasi tak langsung dengan pemimpin Bani Abbasiyah melalui program terencana khususnya di bidang pencerahan, budaya dan pendidikan umat. Beliau memanfaatkan peluang yang tepat dengan mengenalkan kepada umat bahwa khilafah Bani Abbasiyah adalah pemerintahan ilegal guna memperingatkan umat Islam untuk tidak bekerjasama dengan pemerintahan zalim ini.

Imam Hadi juga memberi optimisme kepada masyarakat bahwa kezaliman akan terhapus. Sementara itu, interaksi antara Imam dan masyarakat adalah hubungan berdasarkan kasih sayang. Di sisi lain, masyarakat yang menyaksikan upaya tak kenal lelah Imam dalam memperjuangkan hak dan kebaikan umat, maka mereka pun dengan semangat tinggi mengikuti manusia suci ini dan memanfaatkan keberadaan beliau dengan sebaik-baiknya.

Imam Hadi senantiasa mencari orang-orang yang berpotensi dan menarik guna dididik dengan ilmu-ilmu Ahlul Bait Nabi. Meski akibat represi kuat penguasa terhadap Imam sehingga masyarakat tidak mendapat akses kepada beliau dan sulit menggali ilmu-ilmunya, namun kelompok didikan Imam merupakan orang-orang yang berhasil memanfaatkan lautan ilmu beliau dalam kondisi sulit tersebut. Jumlah murid Imam tercatat mencapai 185 orang, di mana setiap dari mereka tercatat sebagai pakar dari berbagai disiplin ilmu di zamannya.

Suatu hari di majelis Imam Hadi as pada sahabat beliau membicarakan keberadaan seorang pemuda yang pandai di mana dalam sebuah diskusi ilmiah dengan argumentasi kuat ia berhasil menundukkan orang-orang yang menolak Islam. Setelah mendengar berita tersebut, Imam ingin bertemu dengan pemuda pandai tersebut. Dalam suatu kesempatan ketika tokoh besar dan pembesar berkumpul dengan Imam Hadi, beliau mendengar kedatangan pemuda pandai ini. Ketika pemuda tersebut tiba, Imam menyambutnya dengan penuh penghormatan dan mendudukkannya di sisi beliau.

Para pembesar yang menyaksikan penghormatan besar yang diberikan Imam kepada pemuda tersebut tersinggung. Imam Hadi dalam menjawab ketidakpuasan mereka berkata, “Apakah kalian siap menjadi juri ketika al-Quran berada di tengah-tengah kita? Mereka pun diam membisu. Saat itu, Imam berkata, “Dalam al-Quran disebutkan bahwa Allah Swt meninggikan derajat orang-orang beriman dan mereka yang berilmu akan memiliki derajat yang lebih tinggi lagi. Ketahuilah argumentasi kuat pemuda ini dihadapan orang-orang kafir menunjukkan keutamaan dan kebijaksanaannya yang lebih unggul dari kemuliaan setiap suku.”

Rahasia daya tarik Imam Hadi as adalah hubungannya yang mendalam dengan Allah dan sifat mulia yang dimiliki keturunan Nabi ini. Suara beliau saat membaca al-Quran sangat merdu, siapa saja yang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci dari mulut Imam Hadi pasti sangat terpengaruh. Imam Hadi menyebut perbuatan terbaik adalah melayani masyarakat, oleh karena itu hubungan antara Imam dan umat tidak seperti hubungan para pemimpin zalim Bani Abbasiyah dengan rakyat. Hubungan Imam dengan umat didasari oleh kasih sayang. Umat sendiri ketika menyaksikan perbuatan Imam yang beliau kerjakan semata-mata demi kepentingan mereka, dengan sendirinya kecintaan mereka kepada Imam semakin tebal.

Suatu hari Mutawakkil mendapat laporan bahwa Imam Hadi as mendapat bantuan besar dari berbagai penjuru dunia dan di antara hadiah yang dikirim terdapat senjata. Mutawakkil yang mendengar laporan tersebut langsung mengutus Said Hajib untuk menyerbu dan menggeledah rumah Imam serta menginstruksikan untuk menyita apa saja yang ditemukan di dalam rumah baik itu senjata atau harta.

Said Hajib saat menceritakan misinya berkata, “Di saat warga terlelap tidur, aku bersama sejumlah pasukan menyerbu rumah Imam Hadi di Samarra. Ketika tiba di rumah Imam, dengan bantuan tangga kami melompati tembok rumah Imam dan tanpa meminta ijin langsung menyerbu ke dalam. Kemudian kamimulai memeriksa setiap jengkal rumah Imam, Imam Hadi sendiri meski mengetahui kedatangan serta ulah kami, namun beliau mengabaikannya dan sibuk beribadah kepada Allah. Dalam operasi penggerebekan tersebut kami menemukan dua kantong uang dinar yang salah satunya masih tersegel…”

Ia menambahkan, “…Aku membawa harta rampasan tersebut kepada Mutawakkil. Sang khalifah heran menyaksikan kedua kantong uang yang aku bawa. Mutawakkil kemudian mengambil salah satu kantong uang yang masih tersegel dan memperhatikannya dengan teliti. Mutawakkil kemudian menyadari bahwa kantong uang yang masih tersegel tersebut terukir segel ibunya. Ia berkata, ini segel ibuku. Artinya ibunya Mutawakkil juga membantu Imam Hadi as?

Kemudian Mutawakkil menghadap ibunya dan memintanya menceritakan apa sebenarnya yang terjadi sehingga ia memberi uang kepada Imam Hadi. Menjawab pertanyaan Mutawakkil, sang ibu berkata, “Benar ini adalah kantong uang dinar yang aku kirim kepada Ali bin Muhammad (Imam Hadi). Aku memiliki sebuah hajat dan bernazar kepada Allah. Jika hajatku tersebut dikabulkan maka aku akan memberikan uang kepada Abul Hasan Ali bin Muhammad sebesar sepuluh ribu dinar.”

Hajib menambahkan, “Mutawakkil yang takjub pengaruh Imam Hadi pun sampai menembus orang-orang dekatnya memerintahkan diriku untuk mengembalikan kedua kantong uang tersebut ke rumah Imam. Aku pun kemudian membawanya ke rumah Imam dan mengembalikan kepada beliau. Tak lupa aku juga meminta maaf kepada Imam atas apa yang terjadi. Imam dalam menjawab permintaan maafku membacakan ayat 227 surat al-Syuara …Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *