Ahlulbait

Sanad dan Kandungan Khutbah Syiqsyiqiyyah

ICC Jakarta – Khutbah Syiqsyiqiyyah adalah khutbah Imam Ali As yang termaktub dalam Nahjul Balaghah. Seluruh Syiah dan sebagian Sunni meyakini bahwa Khutbah Syiqsyiqiyyah adalah khutbah yang disampaikan Imam Ali As. Khutbah ini dikutip dalam beragam literatur – terkadang dengan menyebutkan sanad dan terkadang tanpa sanad.
Sebagian dari literatur ini meriwayatkan khutbah ini dari Sayid Radhi dan sebagai hasilnya dapat diyakini bahwa bukanlah Sayid Radhi yang memunculkan khutbah ini dan riwayat ini – boleh jadi dengan perbedaan kecil – sebelumnnya telah ada sebelum Sayid Radhi. Silsilah ragam sanad juga telah disebutkan terkait dengan riwayat ini, baik oleh orang-orang yang hidup sebelum Sayid Radhi atau setelahnya.
Syaikh Mufid yang merupakan guru Sayid Radhi, terkait dengan sanad khutbah ini, berkata, “Sekelompok periwayat hadis mengutip khutbah ini dengan rentetan sanad dari Ibnu Abbas.”
Adapun terkait dengan kandungan Khutbah Syiqsyiqiyyah harus dikatakan bahwa khutbah ini dengan jelas menunjukkan adanya perampasan khilafah demikian juga menandaskan kelayakan Ali As atas posisi ini sehingga telah menjadi sebab adanya upaya untuk mempersoalkan inti validitas nukilan dan riwayat ini dan menganggapnya sebagai khutbah yang tidak bersanad!
Imam Ali As dalam penggalan khutbah ini bersabda “Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia pasti tahu bahwa kedudukan saya sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dari saya dan burung tak dapat terbang sampai kepada saya. Saya memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya.

Kemudian saya mulai berpikir, apakah saya harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, di mana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat matinya). Saya dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka saya mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan. Saya melihat perampokan warisan saya sampai orang yang pertama menemui ajalnya, tetapi mengalihkan kekhalifahan kepada Ibnu Khaththab sesudah dirinya.”

Sayid Radhi dari ulama Syiah dalam bukunya Nahj al-Balâghah mengutip dari Imam Ali As sebuah khutbah yang bernama Syiqsyiqiyyah yang memuat beberapa persoalan kunci dan penting.
Namun sehubungan dengan pertanyaan yang diajukan kami akan membahasnya berkaitan dengan sanad dan kandungan khutbah ini  sebagai berikut:

Sanad Khutbah Syiqsyiqiyyah

Terdapat perbedaan terkait dengan sanad riwayat ini. Kaum Syiah meyakini bahwa Imam Ali As yang menyampaikan khutbah ini. Kebanyakan peniliti dalam karya-karyanya menukil khutbah ini tanpa menjelaskan penentangannya terhadap sanad khutbah ini. Namun sebagian dari Ahlusunnah menyatakan bahwa penyandaran khutbah ini kepada Imam Ali As adalah dusta. Adanya pengingkaran ini dilakukan karena khutbah ini mengandung persoalan terkait dengan kezaliman yang menimpa dan keluhan Imam Ali As terkait dengan masalah khilafah yangs secara jelas menunjukkan adanya perampasan posisi dan makam ini yang dilakukan oleh khalifah pertama.[1]
Mari kita kaji secara ringkas dua pandangan kelompok yang meyakini bahwa khutbah ini adalah khutbah yang disampaikan oleh Imam Ali dan kelompok yang mengingkarinya sebagai berikut:

  1. Sebagian non-Syiah mengingkari pokok dan inti penyandaran khutbah ini kepada Amirul Mukminin As dan sebagian melangkah lebih jauh bahkan menganggap keliru menyandarkan kitab Nahj al-Balâghahkepada Imam Ali As. Mereka berkata, “…Kitab Nahj al-Balâghah dan apa yang terkandung di dalamnya berupa khutbah-khutbah, tuturan-tuturan, hikmah-hikmah yang disandarkan kepada Imam Ali As. Kitab ini sama sekali tidak dapat disandarkan kepada Imam Ali; karena tidak sesuai dengan realitas yang ada pada Imam Ali As. Demikian juga karena pakem ilmiah yang harus diperhatikan dalam menyandarkan ucapan-ucapan orang lain tidak dijalankan. Pakem ilmiah yang dimaksud itu adanya silsilah sanad yang bersambung yang menunjukkan bahwa ucapan-ucapan ini bersambung kepada beliau, namun hal itu tidak tersedia; karena Syarif Radhi As mengumpulkan khutbah-khutbah ini pada abad keempat Hijriah sementara terbentang jarak yang panjang antara dirinya dan Imam Ali As…”[2]

Kritikan ucapan yang mempersoalkan secara umum Nahj al-Balâghah terdapat pada beberapa literatur dan artikel. Namun pada makalah ini, terkait dengan khutbah Syiqsyiqiyyah khususnya akan kami jelaskan bahwa klaim tidak bersambungnya khutbah ini kepada Amirul Mukminin Ali As adalah klaim yang tidak benar.
Kira-kira seluruh Syiah dan sebagian Sunni meyakini bahwa Khutbah Syiqsyiqiyyah adalah khutbah yang disampaikan Imam Ali As dan tidak ada persoalan terkait dengan hal ini. Khutbah ini memiliki ragam nukilan. Sebagian literatur mengutip hadis ini sebelum Sayid Radhi[3]yang hasilnya dapat dikatakan bahwa Sayid Radhi bukanlah orang yang menyampaikan ucapan ini dan sebelumnya riwayat ini juga telah ada.

 2. Di samping itu, ada hal yang menarik dinukil oleh Ibnu Abi al-Hadid, seorang ulama Sunni, dari guru-gurunya sebagai berikut:
“Guruku Abu al-Khair Mushaddiq bin Syabib al-Wasithi menyatakan bahwa ia mendengar khotbah ini dari Syeikh Abu Muhammad ‘Abdullah Ibnu Ahmad Al-Baghdadi yang dikenal sebagai Ibnu Al-Khasysyab…. Ketika saya katakan bahwa  sebagian orang menganggapnya buatan Sayid Radhi, ia menjawab, “Bagaimana mungkin Radhi dan selain Sayid Radhi dapat mempunyai gaya penulisan seperti itu. Saya telah melihat tulisan-tulisan Radhi dan mengetahui gaya penulisannya. Demi Allah! Saya telah melihatnya pada buku-buku yang ditulis ratusan tahun sebelum lahirnya Sayid Radhi; dan saya telah melihatnya dalam tulisan-tulisan yang terkenal yang saya tahu ulama dan ahli sastra mana yang mengutip tulisan-tulisan itu. Pada masa itu, bukan saja Radhi, tetapi bahkan ayahnya, Abu Ahmad An-Naqib, belum lahir.” Kebanyakan dari khutbah ini saya lihat dalam buku-buku Abu  al-Qasim al-Balkhi. Di samping itu, khutbah-khutbah ini juga saya temukan pada buku Inshâf karya Abu Ja’far bin Qibah.”[4]
Demikian pula buku-buku hadis, menyebutkan silsilah sanad khutbah ini dan memuat secara persis hadis-hadis ini dikutip dari siapa saja hingga silsilah sanad ini sampai pada Ibnu Abbas dari Amirul Mukminin Ali As.
Penjelasan silsilah sanad ini disebutkan pada pelbagai literatur; yang menerangkan siapa saja yang hidup sebelum Sayid Radhi[5] dan siapa yang menyebutkan silsilah sanad setelahnya.[6] Hal ini membuat sebagian ulama terdahulu berkata tentang sanad khutbah ini, “Sejumlah periwayat hadis menukil khutbah ini dengan silsilah sanad yang beragam dari Ibnu Abbas.”[7]
Akan tetapi di sini terdapat pembahasan bahwa khutbah ini memiliki tawâtur lafzhi atau hanya tawâtur ma’nâ? Demikian juga apakah terdapat hal yang menunjukkan kezaliman yang menimpa Imam Ali As dan keluhannya?? Sebagian peneliti berkata tentang hal ini, “Yang benar bahwa perselisihan masalah khilafah antara Imam Ali As dan orang-orang yang memegang tampuk khilafah pada masanya adalah hal yang tidak dapat diingkari. Keluhan dan terzaliminya Imam Ali dalam khutbah ini adalah berdasarkan tawâtur ma’nâ. Ucapan-ucapan yang mengisahkan kondisi terzalimi dan keluhan dalam urusan khilafah sedemikian banyak dan terkenal sehingga mustahil dapat mengingkarinya. Bahkan mau tak mau sebagiannya harus dibenarkan keberadaannya. Sekedar membenarkan adanya keluhan persoalan ini dengan sendirinya sudah dapat ditetapkan. Adapun apakah keluhan ini disampaikan dengan ungkapan-ungkapan tertentu,  tidaklah mutawatir, meski sebagian lafaz lebih terkenal ketimbang lafaz-lafaz lainya. Dengan demikian, tidak lagi tersisa ruang untuk mengingkari bahwa khutbah ini disampaikan oleh Imam Ali As dan menyandarkannya kepada Sayid Radhi; karena dalil para penentang dalam menolak khutbah ini adalah karena ucapan Imam Ali tidak disampaikan secara lugas dan tegas. Apabila adanya kelugasan dalam mengungkapkan kisah terzaliminya Imam Ali dalam khutbah ini sebagai dalil untuk mengingkari khutbah ini maka hal itu bermakna kita meyakini di antara imam dan para khalifah tidak terdapat ikhtilaf sementara kita tahu bahwa pendapat ini adalah pendapat keliru (karena sejarah mencatat adanya ikhtilaf di antara mereka) terkhusus khutbah ini telah masyhur di kalangan ulama sebelum Sayid Radhi.”[8]


Kandungan Khutbah Syiqsyiqiyyah

Pertanyaan yang kemudian mengemuka di sini adalah bahwa anggaplah kita menerima sanad khutbah ini lantas bagaimana khutbah ini menunjukkan bahwa Ali As memandang khilafah adalah haknya dan meyakini bahwa haknya telah dirampas?
Petunjuk khutbah ini dengan jelas menunjukkan adanya perampasan khilafah demikian juga menandaskan kelayakan Ali As atau posisi ini sehingga menjadi sebab adanya upaya untuk mempersoalkan inti validitas riwayat dan nukilan khutbah ini!
Untuk menjelaskan hal ini terdapat beberapa penggalan khutbah ini yang dapat dikutip di sini, misalnya,  “Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia pasti tahu bahwa kedudukan saya sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dari saya dan burung tak dapat terbang sampai kepada saya. Saya memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian saya mulai berpikir, apakah saya harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, di mana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat matinya). Saya dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka saya mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan. Saya melihat perampokan warisan saya sampai orang yang pertama menemui ajalnya, tetapi mengalihkan kekhalifahan kepada Ibnu Khattab sesudah dirinya.”[9]
Dengan demikian ucapan dan tuturan yang serupa dengannya dapat disimpulkan bahwa khilafah adalah hak Imam Ali As dan beliau lebih layak untuk posisi ini namun telah dirampas oleh orang lain.[10] [iQuest] 


[1]. Mirza Habibullah Hasyimi Khui, Minhâj al-Barâ’ah fi Syarh Nahj al-Balâghah, Riset dan edit oleh Ibrahim Miyaniji, jil. 2, hal. 345, Maktabah al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Keempat, 1400 H.  

[2]. Muhammad Rasyid bin Ali Ridha Muhammad, Rasyid Ridha, Rasâil al-Sunnah wa al-Syi’ah, Catatan Kaki dan Annotasi oleh Muhammad Ahmad al-Ibad, jil. 2, hal. 144 (Catatan Kaki), Dar al-Manar, Kairo, Cetakan Kedua, 1366 H.  

[3]. Syaikh Shaduq, Ma’âni al-Akhbâr, Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari, hal. 361-362, Daftar Intisyarat Islami, Qum, Cetakan Pertama, 1403 H.  

[4]. Abdul Hamid bin Hibatullah, Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, Riset dan edit oleh Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, jil. 1, hal. 205-206, Maktabah Ayatullah al-Mar’asyi al-Najafi, Qum, Cetakan Pertama, 1404 H.

[5]Ma’âni al-Akhbâr, hal. 361; Syaikh Shaduq, ‘Ilal al-Syarâ’i, jil. 1, hal. 150, Kitabpurusyi Dawari, Qum, Cetakan Pertama, 1385 S.  

[6]. Syaikh Thusi, al-Âmali, hal. 372, Dar al-Tsaqafah, Qum, Cetakan Pertama, 1414 H; Ali bin Musa bin Thawus, al-Tharâif fi Ma’rifat Madzhâhib al-Thawâif, Riset dan edit oleh Ali Asyur, jil. 2, hal. 418, Nasyr Khayyam, Qum, Cetakan Pertama, 1400 H; Sayid Hasyim Bahrani, Hilyat al-Abrâr fi Ahwâl Muhammad wa Alihi al-Athar As, jil. 2 hal. 289, Muassasah al-Ma’arif al-Islamiyah, Qum, Cetakan Pertama, 1411 H; Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 29, hal. 479, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1403 H.  

[7]. Syaikh Mufid, al-Irsyâd fi Ma’rifat Hujajullah ‘ala al-‘Ibâd, jil. 1, hal. 287, Kongre Syaikh Mufid, Qum, Cetakan Pertama, 1413 H.  

[8]. Maitsam bin Ali, Ibnu Maitsam , Syarh Nahj al-Balâghah, terjemahan Persia oleh Muhammad Ridha Athai dan Habib Ruhani, jil. 1, hal. 499, Bunyad Pazyuhesyha-ye Islami, Masyhad, Cetakan Pertama, 1385 S.

[9]. Muhammad bin Husain, Syarif Radhi, Khutbah 3, Nahj al-Balâghah, Riset dan edit oleh Subhi Saleh, hal. 48, Intisyarat Hijrat, Qum, Cetakan Pertama, 1414 H
«أَمَا وَ اللَّهِ لَقَدْ تَقَمَّصَهَا فُلَانٌ [ابْنُ أَبِی قُحَافَةَ] وَ إِنَّهُ لَیَعْلَمُ أَنَّ مَحَلِّی مِنْهَا مَحَلُّ الْقُطْبِ مِنَ الرَّحَى‏ یَنْحَدِرُ عَنِّی السَّیْلُ وَ لَا یَرْقَى إِلَیَّ الطَّیْرُ فَسَدَلْتُ دُونَهَا ثَوْباً وَ طَوَیْتُ عَنْهَا کَشْحاً وَ طَفِقْتُ أَرْتَئِی بَیْنَ أَنْ أَصُولَ بِیَدٍ جَذَّاءَ أَوْ أَصْبِرَ عَلَى طَخْیَةٍ عَمْیَاءَ یَهْرَمُ فِیهَا الْکَبِیرُ وَ یَشِیبُ فِیهَا الصَّغِیرُ وَ یَکْدَحُ فِیهَا مُؤْمِنٌ حَتَّى یَلْقَى رَبَّهُ‏ فَرَأَیْتُ أَنَّ الصَّبْرَ عَلَى هَاتَا أَحْجَى‏ فَصَبَرْتُ وَ فِی الْعَیْنِ قَذًى وَ فِی الْحَلْقِ شَجًا أَرَى تُرَاثِی نَهْباً …».[

[10]. Untuk telaah lebih jauh atas matan dan teks khutbah ini silahkan lihat, 12758,  Khutbah Syiqsyiqiyyah.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *