Islam Mancanegara

Rakyat Aljazair di Paris: Rakyat Pahlawan Sesungguhnya

ICC Jakarat- Ahad (7/4) waktu setempat selama beberapa jam lamanya, Place de la Republique, Paris, Prancis menjadi lautan bendera Aljazair dan suku asli Amazon. Ribuan pengunjuk rasa berkumpul selama tujuh pekan berturut-turut, kali ini merayakan mundurnya mantan presiden Abdelaziz Bouteflika pada awal April.

“Kami pertama kali berkumpul di sini sebagai tanda dukungan untuk sesama rekan senegara Aljazair di rumah,” kata Amira Hodeidi, salah satu penyelenggara protes Paris.

“Sekarang berbeda. Kami ingin sistem itu pergi, gerakan dan ideologinya mulai menyusun dirinya sendiri hari demi hari. Klaim lebih jelas. Misalnya, kami ingin persamaan antara pria dan wanita dan tuntutan sosial dasar,” kata wanita berusia 26 tahun yang meninggalkan Aljazair dua tahun lalu.

Hodeidi mengatakan, protesnya terhadap Bouteflika di Aljazair dilakukannya sejak 2014 ketika Bouteflika yang kerap sakit-sakitan memenangkan pemilihan untuk keempat kalinya. Temannya banyak yang menjadi korban penangkapan sehingga membuatnya percaya dia tidak punya masa depan di Aljazair.

Namun bagi Hodeidi, euforia pengunduran diri Bouteflika diredupkan oleh fakta kroni di dalamnya yang dikenal sebagai “pouvoir”, tetap ada di pemerintahan. “Tentara, dan sebagian besar pemimpinnya, Gaid Salah, sedang mencoba mencuri gerakan dari kami. Namun, orang-orang masih muncul karena mereka tidak bodoh. Kami tidak ingin kekuatan militer menjadi pahlawan revolusi ini,” katanya.

“Satu-satunya pahlawan di sini adalah rakyat,” ujarnya, mengulangi nyanyian populer Aljazair.

Ribuan demonstran Aljazair berkumpul di Aljir, Jumat (5/4). Rakyat Aljazair berhasil menumbangkan presiden Abdelaziz Bouteflika yang berkuasa selama 20 tahun.

Para pengunjuk rasa di Paris merayakan pengunduran diri Bouteflika di alun-alun dengan pesan tersebut. Mereka menyanyikan lagu sepakbola Aljazair populer yang menjadi lagu demonstrasi, La Casa del Mouradiya, sambil membawa simbol-simbol yang bertuliskan “Degagez tous” (singkirkan semuanya).

Warga Aljazair, Nadjib Hadjb yang tinggal di Paris dan sering mengunjungi Aljazair, mengatakan, kini orang-orang menunjukkan hak untuk hidup, bukan hanya bertahan hidup. Ia menilai sistem Aljazair harus ganti. Rakyat akan terus turun ke jalan sampai nafas terakhir.

“Kami tidak punya apa-apa, meskipun negara kami kaya. Politikus telah merusaknya selama bertahun-tahun. Aku akan melakukan semua yang aku bisa untuk Aljazair menjadi lebih besar,” kata Hadjb seperti dilansir Aljazirah, Senin (8/4).

Ibu Hadjb, Fatima yang terakhir mengunjungi Aljazair pada Januari, juga turut mengikuti protes. “Ketika orang-orang bangkit, tidak ada yang bisa menghentikan kita!” katanya.

Ia pun tidak pernah mengira akan menyaksikan hari seperti ini. “Aljazair akan bangkit dan berkembang seperti bunga mawar. Aku benar-benar percaya hari-hari terbaik akan datang,” tambahnya.

Berbagai potret yang terjadi selanjutnya untuk Aljazair tidak hilang pada Sofia Djama, seorang pembuat film Aljazair. Menurutnya, penurunan presiden yang berkuasa selama 20 tahun baru permulaan. “Sekarang, kita perlu membahas bagaimana memajukan masyarakat kita,” kata dia.

Djama mengakui teknis dari transisi masih belum jelas, meski pada akhirnya tujuannya adalah untuk membangun sistem baru tanpa pembuat keputusan mantan presiden yang tangguh, yang dikenal sebagai “pouvoir” untuk mempertahankan cengkeraman mereka pada kekuasaan. Menurutnya, dibutuhkan waktu untuk membangun kembali demokrasi yang adil, dan masyarakat sipil yang adil di mana berbagai pihak dapat berdiskusi.

“Aljazair telah terpecah selama beberapa dekade. Bouteflika berusaha keras membongkar masyarakat sipil,” ujarnya.

Penyelenggara protes pada Ahad kemarin mengadakan debat warga di alun-alun, yang dihadiri oleh orang-orang dari berbagai latar belakang sosial ekonomi, sehungga baik mengangkat isu dan konstruktif pemerintahan. “Dengan hanya berbicara dan mengatakan apa yang kita inginkan, itu seperti kita menemukan diri kita melalui penemuan penyebab umum,” kata Hodeidi.

Bagi para pengunjuk rasa dan pengamat, ada sedikit keraguan mengenai proses kontra-revolusioner, seperti yang disaksikan di negara-negara Arab lainnya setelah pemberontakan 2011. “Saya telah mendengar banyak orang membandingkan gerakan kami dengan Mesir atau pemberontakan Suriah, tetapi mari kita bicara tentang Tunisia misalnya. Mereka membuat perbaikan besar, dan kita harus belajar dari mereka,” kata Djama.

Sumber: Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *