Ahlulbait

Menyambut Kelahiran Sang Juru Selamat

ICC Jakarta – Imam Muhammad Al-Mahdi as. lahir pada 15 Sya’ban 255 H. Kelahiran beliau sungguh menghidupkan harapan di dalam jiwa-jiwa kaum tertindas di dunia.

Ayah Imam as. adalah Imam Hasan Al-Askari as. dan ibunya bernama Nargis, seorang wanita suci keturunan salah satu Hawariyyun (sahabat setia) Nabi Isa as., yaitu Sam’un Ash-Shafa.

Imam Mahdi as. adalah Imam terakhir Ahlul Bait as. Secara khusus, sang datuk Rasulullah saw. telah memberitakan kehadirannya dalam sejumlah hadis-hadis yang mutawatir, bahwa “Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah disesaki oleh kezaliman”.

Beliau dikenal dengan panggilan Abul Qosim, dan gelar mulia  “Al-Mahdi”. Dengan demikian, beliau membawa nama sekaligus panggilan junjungan kita Muhammad saw., sebagaimana beliau pun membawa risalah agamanya, Islam.

Para penguasa zalim menjadi begitu awas dan  senantiasa mengintai kelahiran Imam Mahdi as, sehingga mereka berupaya menggagalkannya. Persis dengan apa yang telah dilakukan Fir’aun; mengawasi setiap ibu yang hamil dan bayi yang lahir. Namun,  mereka tidak sadar bahwa Fir’aun,  meskipun mengerahkan segenap kekuatan raksasa yang dimilikinya sampai  membunuh secara massal bayi-bayi yang baru lahir,  usahanya itu gagal total.

Mu’tamid, Khalifah Abbasiyah –yang  merupakan Fir’aun pada masanya– pun ingin melakukan hal yang sama. Ia pun mencoba mengikuti langkah Fir’aun berusaha mencegah kemunculan Sang Pembela Kebenaran yang akan merongrong kekuasaannya. Ia seketat mungkin mengawasi rumah Imam Hasan Al-Askari as.

Ketika Imam Hasan as. diracun, beliau dibawa dalam keadaan lemah dari penjara ke rumahnya. Mu’tamid menugaskan lima orang pengawal pergi menyertai Imam untuk mewaspadai dan berjaga-jaga di sekeliling rumah Imam jika ada peristiwa yang terjadi di rumah itu. Tidak hanya mengutus mata-mata, ia juga mengirim beberapa bidan ke rumah Imam untuk menjaga dan membantu proses kelahiran istri Imam as.

 Kota  Samarra berubah menjadi kota duka atas kematian Imam Hasan Al-Askari. Orang-orang menutup tempat kerja mereka untuk melayat ke rumah Imam. Penduduk kota itu mengusung jenazah suci Imam dengan tangan mereka sendiri dalam upacara penguburan yang kudus, agung dan akbar.

Khalifah Abbasiyah sangat gusar dan kesal atas kerumunan massa yang datang melayat Imam. Ia berusaha keras untuk menutupi kejahatannya dan mengumumkan bahwa kematian Imam merupakan sebuah kejadian yang wajar dan alamiah.

Mu’tamid mengutus saudaranya untuk menghadiri upacara pemakaman dan bersaksi bahwa tidak ada yang membunuh Imam. Di sisi lain, ia membagi-bagikan harta peninggalan Imam untuk menunjukkan bahwa Imam tidak meninggalkan anak yang dapat menunaikan shalat jenazah dan menjadi pewaris sah atas harta peninggalan beliau.

Namun, betapapun usaha untuk menutupi cahaya kebenaran, kehendak Allahlah yang tetap berlaku. Ketika Imam Al-Askari as. dibunuh, putra beliau berusia lima tahun. Ia mencapai kedudukan Imam pada usia lima tahun, seperti Nabi Isa yang diangkat sebagai nabi ketika ia masih dalam buaian.

Ketika mereka meletakkan jenazah suci Imam Al-Askari as., saudara beliau -yang bukan orang baik-baik- hendak memimpin shalat jenazah. Namun putra beliau Imam Al-Mahdi ajf.  –yang masih belia- mendorongnya  ke samping dan beliau sendiri maju ke depan memimpin shalat jenazah tersebut. Setelah selesai shalat jenazah, beliau menghilang dari pandangan mata.

Orang-orang Syiah telah melihat Imam Al-Mahdi di kediaman sang ayah, Imam Hasan Al-Askari yang saat itu masih hidup. Di kediaman itu pula mereka  mendengarkan nasihat beliau tentang anaknya kepada mereka. Setelah syahadah Imam Hasan as., mereka tetap berhubungan dengan Imam Al-Mahdi hingga  beberapa waktu lamanya.

Keadaan ketika Imam Al-Mahdi Lahir

Hakimah, bibi Imam berkata, “Aku pergi ke rumah anak saudaraku, pada hari Kamis bulan Sya’ban. Ketika aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, Imam berkata, ‘Wahai bibi, tinggallah malam ini bersama kami karena putra kami akan segera lahir’.

“Aku sangat bergembira dan berbahagia mendengarkan kabar itu dan pergi menjumpai Nargis (Ibunda Imam Al-Mahdi) namun aku tidak menemukan tanda-tanda kehamilan pada diri beliau. Aku terkejut dan bergumam, ‘Tidak melihat tanda-tanda kelahiran bayi padanya’.

“Pada saat-saat itu, Imam datang padaku dan berkata, “Duhai bibi, jangan bersedih, Nargis seperti ibunda Nabi Musa as., dan si bayi seperti Musa yang lahir secara tersembunyi dan tanpa tanda-tanda apa pun yang  menyertai kelahirannya. Temuilah Nargis, dia akan segera melahirkan pada subuh hari’.

“Aku berbahagia menemani Nargis, sambil mengamati apa yang dikatakan oleh Imam bahwa tanda-tanda kelahiran Nargis muncul sebelum matahari terbit di ufuk timur. Seberkas cahaya membentang antara diriku dan dia sehingga aku tidak dapat melihat Nargis lagi. Aku ketakutan dan keluar dari bilik itu untuk menjumpai Imam dan melaporkan apa yang telah terjadi. Beliau tersenyum dan berkata, ‘Kembalilah, beberapa saat lagi engkau akan melihatnya’.

“Aku kembali ke kamar dan melihat seorang bayi baru lahir dan tengah melakukan sujud lalu ia mengangkat tangannya ke angkasa, berdzikir dan memuji  Allah dengan segala kepemurahan-Nya, kebesaran-Nya dan keesaan-Nya”.

Keadaan Ibunda Nargis

Salah seorang budak Imam Hadi as., Bishr Al-Anshari menukilkan sebuah kisah  sehubungan dengan kejadian itu:

“Suatu hari, Imam Hadi as. memanggilku dan berkata padaku, ‘Aku ingin memberikan sebuah pekerjaan untukmu, pekerjaan ini akan menjadi sesuatu yang sangat berharga untukmu’. Beliau memberikan sebuah surat disertai dengan seikat kantong yang berisi dua ratus emas Dinar. Beliau berkata, ‘Ambillah kantong ini dan pergi ke Baghdad,  nantikan kapal yang akan berlabuh besoknya di sana di sungai Furat (Eufrat). Di dalamnya terdapat banyak budak-budak yang dibawa untuk diperjualbelikan. Kebanyakan pembeli dan penjual itu berasal dari Bani Abbas dan beberapa pemuda dari suku bangsa yang lain.

“Di atas kapal itu, ada seorang wanita yang, ketika ia diminta untuk menampakkan dirinya, enggan memenuhi permintaan itu. Salah seorang pemuda maju ke depan dan berkata kepada tuannya, “Aku siap membeli wanita itu dengan harga dua ratus emas Dinar”. Tetapi si wanita itu tidak setuju dengan tawaran pemuda itu. Lalu tuannya berkata, “Kamu tidak ada pilihan lain kecuali harus dijual, kamu harus terima tawaran pemuda itu”. Tapi ia  menukas, “Tunggu sebentar! Pembeliku akan segera datang”. Lalu kau maju ke depan berikan surat itu kepadanya,  katakan “Jika wanita ini berhasrat kepada orang yang mengirim surat ini, aku akan membelinya”. Setelah membaca surat yang disodorkan padanya, wanita itu merasa senang lalu kau bayar dengan uang ini, serahkan pada tuannya dan bawa wanita itu kemari’.

Bishr berkata, “Aku kerjakan apa yang diperintahkan Imam kepadaku, aku beli wanita itu dari tuannya. Dalam perjalanan, ia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang mengejutkan. Katanya, “Aku adalah putri Raja Romawi. Datukku adalah sahabat dekat Nabi Isa. Ayahku menginginkan agar aku menikah dengan keponakannya.

“Suatu hari, ia mengadakan sebuah pertemuan akbar di istana dan meminta kemenakannya duduk bersanding denganku di singgasana. Seluruh bangsawan Nasrani dan para pengawal kerajaan berkumpul untuk menikahkan aku dengannya.

“Tiba-tiba istana berguncang, yang membuat segala sesuatunya berserakan hingga saudara sepupuku itu terjatuh dari singgasana. Meski begitu, mereka tetap bersikeras untuk menikahkanku dengannya. Mereka kembali mengadakan pertemuan itu, namun kejadian yang sama juga kembali terjadi. Para bangsawan Nasrani menganggapnya sebagai sebuah tanda buruk. Mereka segera  meninggalkan istana.

“Pada malam yang sama, aku tertidur dalam keadaan sedih dan pilu. Aku bermimpi seorang pria dengan cahaya yang memancar dari tubuhnya, datang ke istana. Beberapa orang berkata bahwa pria itu adalah Nabi Isa,  dan yang lainnya berkata bahwa pria itu adalah Rasulullah saw.  Rasulullah saw. berhadapan dengan Nabi Isa as, beliau berkata, ‘Aku meminang cucumu untuk cucuku’.

“Nabi Isa as. sangat gembira dengan pinangan itu. Beliau menerima pinangan Rasulullah saw.

“Aku bangkit dari tempat tidurku dan tidak mengungkapkan perihal mimpi itu kepada siapa pun. Hingga suatu hari, aku jatuh sakit dan ayahku memanggil seluruh tabib untuk memeriksa keadaanku. Namun tidak satu pun dari mereka yang dapat menyembuhkan sakitku.

“Aku memohon kepada ayahku untuk membebaskan orang-orang muslim yang ada dalam penjara ketika itu. Ia mengabulkan permohonanku. Ia membebaskan tawanan-tawanan muslim. Segera setelah  itu aku pun sembuh dari sakitku.

“Pada malam yang sama, aku sekali lagi melihat dua orang wanita yang penuh dengan cahaya. Mereka berkata bahwa wanita itu adalah ibunda Nabi Allah Isa as. dan Fatimah putri Rasulullah saw. Fatimah maju ke depan dan berkata kepadaku, ‘Jika engkau ingin menjadi istri  putraku, engkau harus menjadi muslim’. Dalam mimpi malam itu, Aku menerima Islam melalui tangannya. Lalu ia membawaku menjumpai anaknya Imam Hasan Al-Askari.

“Cintanya menawan hatiku dengan kuat, dan seluruh badanku lemas siang dan malam. Sampai pada suatu malam, aku melihat Imam Hasan Al-Askari dalam mimpi. Aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana aku dapat menjadi istrimu?’ Beliau berkata, ‘Ayahmu dalam waktu dekat ini akan mengirim serdadunya untuk berperang melawan serdadu muslim, dan engkau akan berada di barisan belakang serdadu itu. Serdadu muslim akan memenangkan perang itu dan engkau akan di tahan sebagai tawanan perang lalu dibawa ke Baghdad untuk dijual. Engkau akan dibawa ke Baghdad dengan kapal yang melintasi sungai Furat. Kapal itu akan berlabuh di sungai itu dan mereka akan membawamu keluar dari kapal itu untuk dijual’. Para pembeli akan datang untuk membelimu. Namun, tunggulah sampai seseorang (utusan) datang untuk membelimu. Ia akan datang dengan membawa surat dari ayahku. Dialah yang akan menjadi pembelimu dan membawamu pergi’.

“Aku terjaga dari mimpi dan merasa gembira.  setelah beberapa waktu berlalu, apa yang diceritakan oleh Imam Hasan Al-Askari dalam mimpi itu terjadi.

“Wahai Bishr! Hingga saat ini, tidak ada seorang pun yang tahu akan kisah ini dan mengenali aku. Berhati-hatilah, jangan engkau ceritakan kisah ini kepada siapapun. Simpanlah kisah ini untukmu saja”.

Bishr berkata, “Ketika Nargis menukilkan  kisah itu kepadaku, terasa gemetar sekujur tubuhku. Sejak saat itu, aku menghormatinya dan menemaninya seakan-akan aku ini adalah budaknya. Aku membawa beliau ke hadirat tuanku Imam Hadi as.”

Imam Hadi as. bertanya kepada wanita itu, bagaimana kisahmu sampai memeluk Islam?  Dia menjawab, “Anda bertanya sesuatu yang Anda lebih tahu ketimbang aku.”

 Beliau lalu berkata, “Berita gembira untukmu tentang seorang anak yang akan memenuhi alam semesta ini dengan keadilan dan hukum, seorang anak yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat manusia”.

Kemudian beliau memalingkan wajahnya ke saudarinya Hakimah, “Wahai ukhti! Inilah wanita yang kau nanti-nantikan selama ini. Bawalah ia bersamamu dan ajarkan Islam kepadanya”. Hakimah memeluknya erat dan ia membawanya pergi dengan penuh hormat.

Periode Kehidupan Imam Al-Mahdi ajf.

Periode kehidupan Imam Muhammad Al-Mahdi ajf. dapat dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Pra-Imamah

Yaitu sejak lahir hingga syahadah ayahanda beliau, Imam Hasan Al-Askari as. Periode ini berlangsung selama lima tahun.

Selama periode ini, Imam Hasan as. senantiasa menjaga putranya ini sedemikian rupa hingga  tidak ada yang dapat melihatnya kecuali sebagian sahabat-sahabat dan orang-orang yang dekat dengan beliau.

Penjagaan ketat ini beliau lakukan lantaran kuatir terhadap penyusupan orang-orang Abbasiyah dan mata-mata mereka yang begitu ketat mengawasi kediaman beliau.

  • Kegaiban Kecil (Ghaibah Sughra)

Yang dimulai pada waktu beliau berusia enam tahun dan terus berlanjut hingga usia tujuh puluh enam tahun. Selama periode ini, aparat pemerintahan dan agen-agennya tidak dapat bertemu dengan beliau. Akan tetapi, sahabat-sahabat beliau tetap memiliki kesempatan untuk bertemu dengan beliau dan meminta jalan keluar atas masalah-masalah yang mereka hadapi.

Selama masa Kegaiban Kecil ini, ada empat orang yang menjadi sahabat khusus Imam Al-Mahdi ajf., sekaligus menjadi perantara antara Imam dan pengikutnya. Mereka membawa dan mengirim surat atau pun uang dari umat dan menyampaikannya kepada Imam as., juga sebaliknya menyampaikan jawaban Imam kepada mereka.

Empat sahabat Imam Mahdi as. itu adalah:

  1. Utsman bin Sa’id
  2. Muhammad bin Utsman
  3. Husain bin Rouh
  4. Ali bin Muhammad Sumari

Periode ini berakhir dengan wafatnya sahabat keempat Imam pada 329 H. Sebelum wafatnya, beliau telah menyatakan berakhirnya keperantaraan dan kedutaan. Dengan begitu, Imam Al-Mahdi ajf. segera memasuki periode baru dalam hidupnya, yaitu Kegaiban Besar.

  • Kegaiban Besar (Ghaibah Kubra)

Sepanjang periode ini – yang entah sampai kapan, hanya Allah swt. Yang Mahatahu- Imam Muhammad Al-Mahdi ajf. menghadiri perhelatan dan acara perkumpulan yang diadakan oleh pengikut beliau. Beliau hadir tanpa diketahui oleh seorang pun.

Tidak ada satu orang pun yang mengenali beliau. Mereka menganggapnya sebagai orang asing. Setelah Imam meninggalkan tempat itu, dengan melihat tanda-tanda yang ada, barulah mereka sadar bahwa Imam telah datang ke tempat mereka.

Masa Penantian

Imam Al-Mahdi ajf. tidak menunjukkan  dirinya kepada fuqaha  (ulama dan pakar hukum Islam) yang handal dalam memecahkan masalah-masalah keagamaan yang mereka hadapi dan masyarakat Islam selama kegaiban beliau. Namun demikian,  mereka menyediakan lahan dalam rangka menyongsong revolusi yang akan dicetuskan oleh Imam Maksum ini.

Orang-orang di masa kini, menantikan kedatangannya. Penantian ini tidak berarti hanya duduk tanpa ada usaha yang berarti sama sekali, pasif, acuh tak acuh, tidak berusaha, dan tidak berupaya membuka jalan bagi kemunculan Imam ajf.Sebaliknya, orang yang menanti adalah orang yang penuh pengharapan, berusaha, bekerja, bergerak, sadar dan giat, memiliki keyakinan yang teguh pada Imam Al-Mahdi, sehingga ia  melempangkan jalan bagi kemunculan dan kedatangan beliau.

Seorang penanti sejati persis ibarat pendaki gunung, yang menantikan waktu untuk menaklukkan puncak gunung dan berjuang untuk mencapai puncak yang ditujunya.Ia senantiasa siap-sedia untuk melakukan apa saja yang diperlukan demi menginjakkan kaki di atas puncak. Tak pelak lagi, ia harus memiliki perencanaan yang matang untuk mencapai puncak kesuksesan dan sadar, bahwa duduk diam berpangku tangan tidak akan membawanya kepada tujuan.

Dengan demikian, penantian berarti  pergerakan, usaha, upaya, pikiran yang teguh, berkarya dan mencipta untuk kemaslahatan umat manusia.Jika prinsip dasar ini tidak tertanam  secara baik dalam masyarakat, umat manusia akan beku, putus asa dan kecewa, serta tidak lagi berpandangan optimistis dalam menatap masa depan yang gemilang.

Prinsip Penantian (Intidzarul Faraj) dalam Islam adalah sebuah prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari agama yang memberikan kabar gembira tentang masa depan yang gemilang dan pelaksanaan segenap keadilan sosial bagi seluruh umat manusia.Oleh karena itu, ia membina dirinya untuk mewujudkan cita-cita luhur ini sebegitu rupa sehingga ia mampu memerangi dan menghilangkan kegelapan, menyingkirkan para sufi gadungan dan kaum yang bersikap permusuhan  terhadap Imam Mahdi ajf.

Dengan kekuatan pergerakannya yang tak terbendung itu, seorang muslim akan menciptakan  sebuah lingkungan yang siap  membentuk pemerintahan tunggal alam semesta.Sehingga, ketika tiba masa kemunculan insan yang telah diciptakan Allah swt. dengan pesona kepribadian yang luhur ini, seluruh maksud dan tujuan Islam akan menjadi kenyataan, Insya Allah.Dialah Imam Mahdi ajf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *