Maarif Islam

Manfaat Personal dan Sosial Puasa

ICC Jakarta – Puasa adalah sejenis amalan untuk melatih manusia memoles, menyucikan jiwa dan cara yang sesuai supaya manusia mampu mendominasi jiwanya dan bertempur melawan hawa nafsunya.

Puasa pada dimensi personal dan sosial, di samping manfaat-manfaat fisikal juga memiliki pengaruh dan manfaat edukatif dan konstruktif bagi manusia seperti melatih kesabaran, mengkondisikan manusia supaya mengingat akhirat, kemampuan untuk mengontrol syahwat, berseminya perasaan empati dan simpati terhadap orang-orang miskin, berkurangnya jarak strata di antara masyarakat dan lainya sebagainya.

Imam Shadiq As menjelaskan salah satu pengaruh puasa sedemikian, “Puasa diwajibkan supaya tercipta kesetaraaan antara orang fakir dan orang kaya. Hal ini dilakukan supaya orang-orang kaya mencicipi rasa lapar dan menunaikan hak-hak orang fakir; karena orang-orang kaya biasanya apa pun yang diinginkan selalu tersedia. Allah Swt ingin supaya di antara hambanya tercipta kesetaraan dan menjadikan orang-orang kaya mencicipi, rasa lapar, luka dan sakit sehingga mereka mengasihi orang-orang lemah dan lapar.”

Puasa berpengaruh dalam merealisasikan tujuan terpenting dan falsafah hidup manusia yaitu kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt (qurb Ilahi).

Allah Swt dengan mensyariatkan puasa sejatinya menyediakan kesempatan emas bagi manusia sehingga segala kemampuan potensialnya dapat diaktualisasikan untuk sampai kepada kedekatan kepada Allah Swt dan semakin mendekat pada makam khalifahtulLah-Nya. Karena puasa, meski memiliki pengaruh dan faidah untuk badan, moral dan sosial, maka ia memiliki pengaruh dan faidah untuk meraih derajat takwa. Hal ini senada dengan firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertakwa” (Qs. Al-Baqarah [2]:183)

Harap diingat bahwa inti puasa sangat berpengaruh pada jiwa dan raga manusia, kerena itu puasa merupakan salah satu karunia yang bersifat menyeluruh. Dengan pelbagai tipologi mental, spiritual, sifat-sifat sempurna dan keutamaan-keutamaan moral, tentu saja, pengaruh puasa dalam melesakkan jiwa manusia sampai kepada kesempurnaan akan sangat berpengaruh. Dengan demikian, tentu terdapat perbedaan antara puasa seorang awam dan puasa seseorang yang telah melintasi pelbagai tingkatan takwa dan kesempurnaan insaniah serta berakhlak dengan akhlak Ilahi.

Puasa pada dua dimensi personal dan sosial, di samping pengaruh-pengaruh fisikal, juga memiliki pengaruh dan manfaat edukatif dan konstruktif bagi manusia. Berikut ini kami akan menyebutkan sebagian dari pengaruh dan manfaat edukatif puasa itu bagi manusia: 

Terdapat beberapa pengaruh yang ditawarkan puasa bagi manusia seperti melatih kesabaran, mengkondisikan manusia supaya mengingat akhirat, kemampuan untuk mengontrol syahwat, berseminya perasaan empati dan simpati terhadap orang-orang miski, berkurangnya jarak strata di antara masyarakat dan lainya sebagainya.

Pengaruh Personal Puasa

1.     Melatih konsistensi dan kesabaran: Sabar adalah salah satu keutamaan akhlak dan kemanusiaan. Manusia sangat dianjurkan untuk dapat bersabar. Karena seorang seorang yang berjalan menuju Allah Swt (sâlik ilaLlâh) dengan memiliki sifat mulia ini ia dapat menghadapi pelbagai problema, musibah dan semisalnya dan sampai pada tujuan yang diinginkannya. Salah satu jalan untuk sampai kepada sifat mulia dan kemampuan seperti ini adalah dengan berpuasa. Berdasarkan beberapa riwayat yang diriwayatkan dari para Imam Maksum As[1] kalimat sabar, pada ayat suci, “wasta’inu bishabri wa al-shalat,” (dan carilah pertolongan dengan sabar dan (mengerjakan) salat) ditafsirkan sebagai shalat.”[2]

Demikian juga, Rasulullah Saw memandang bulan Ramadhan sebagai bulan kesabaran. Rasulullah Saw bersabda, “Ayyuhannas! Telah datang kepada kalian sebuah bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu malam. Bulan itu adalah bulan Ramadhan. Allah Swt telah mewajibkan pada bulan itu untuk berpuasa… dan bulan itu adalah bulan kesabaran.”[3]

Pada dasarnya, salah satu pengaruh penting puasa adalah pengaruh mental dan spritiual sabar yang berbekas dalam pada ruh dan jiwa orang yang berpuasa. Karena puasa, dengan tersedianya segala keterbatasan yang bersifat sementara dalam menghadapi rasa lapar dan dahaga, memberikan kemampuan kepada seorang yang berpuasa untuk bersikap konsisten, sabar dan membekalinya dengan kekuatan untuk bertempur di hadapan pelbagai peristiwa pelik.  Dengan bersabar insting memberontak dapat dikontrol dan akan menyinari hati manusia dengan cahaya dan kemuliaan.[4]

2.     Ketentraman dan keceriaan: Puasa khususnya puasa bulan suci Ramadhan, dari dua sisi menyebabkan ketenangan bagi orang yang berpuasa dan menjaga seorang yang berpuasa dari pelbagai kerisauan dan stress. Pertama karena mampu menyampaikan manusia pada tingkatan sabar dan manusia yang bersabar akan dapat mendominasi hawa nafsu, mengikuti akal dan berserah diri kepada Allah Swt. Seseorang yang telah sampai pada tingkatan ini tentu saja akan memiliki jiwa yang tenang dan tentram. Karena hakikat dan makna sabar meniscayakan ketentraman dan ketenangan jiwa. Dan sejatinya orang yang sabar adalah orang tidak mudah terpengaruh oleh pebagai peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Angin puting beliung persoalan hidup tidak akan mampu menggoyahkannya dan membuatnya resah dan gelisah.[5]

Dari sisi lain, puasa adalah sejenis dzikir praktis mengingat Allah Swt. Dan tentu saja, dzikir dan mengingat Allah Swt akan membuat hati-hati menjadi tenang dan tentram. Sebagaimana al-Qur’an menyatakan, “Mereka adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Qs. Al-Ra’ad [13]:28)

Di samping itu, ketenangan yang diperoleh orang yang berpuasa boleh jadi bersumber dari sebuah kebahagiaan dan kelezatan tatkala menunaikan kewajiban puasa. Khususnya kenikmatan tatkala ifthâr (berbuka puasa). Imam Shadiq As bersabda, “Bagi orang-orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan tatkala berbuka puasa dan kebahagiaan tatkala bersua dengan Allah Swt.”[6]

Demikian juga, Rasulullah Saw, dalam salah satu anjurannya kepada Imam Ali As, bersabda, “Wahai Ali! Orang beriman di dunia akan bahagia dalam tiga waktu: Tatkala bersua dengan saudara-saudaranya, tatkala berbuka puasa di bulan Ramadhan, dan tatkala menunaikan salat di penghujung malam.”[7]

3.     Membuat orang yang berpuasa mengingat akhirat: Salah satu pengaruh personal puasa adalah mencetak manusia yang mengingat akhirat. Karena manusia yang berpuasa dengan rasa lapar dan dahaga akan mengingat rasa lapar dan dahaga kelak di hari Kiamat dan memutuskan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk hari esok.

Rasulullah Saw bersabda dalam khutbah Sya’baniyah, “Dengan lapar dan dahaga kalian (pada bulan Ramadhan) maka ingatlah lapar dan dahaga (pada) hari Kiamat.”[8] Demikian juga dalam hadis yang lain, Rasulullah Saw bersabda, “Surga memiliki pintu gerbang bernama Rayyan (yang telah melepaskan dahaga) dan hanya orang-orang yang berpuasa yang akan memasuki gerbang tersebut.”[9]

Syaikh Shaduq dalam mengurai hadis ini menulis, “Pemilihan nama ini untuk gerbang surga karena orang puasa paling menderita merasakan dahaga. Tatkala orang-orang berpuasa memasuki pintu gerbang ini sedemikian mereka akan terlepas dahaganya sehingga mereka tidak akan pernah lagi merasakan kehausan.”[10]

4.     Kemampuan untuk mengendalikan libido dan syahwat: Faktor terpenting yang menyebabkan manusia jauh dari rahmat Ilahi dan tidak memperoleh kemurahan Ilahi yang tak terbatas adalah karena manusia terjerembab dalam kubangan hawa nafsu dan syahwat khususnya libido seksual. Dalam ajaran-ajaran agama dijelaskan aturan-aturan praktis untuk mengendalikan dan mengarahkan libido serta menyeimbangkan pelbagai insting manusia. Salah satu aturan tersebut adalah berpuasa. Karena puasa adalah sejenis olah batin (riyadhah) natural dan rasional yang apabila dilakukan secara disiplin dan diulang-ulang secara teratur maka secara perlahan kekuatan untuk mengontrol supaya tidak melakukan perbuatan dosa akan semakin menguat dan mendorong pelakunya untuk dapat menguasai diri. Di sinilah letak fungsi puasa yang membuat orang tidak mudah melakukan perbuatan dosa dan tidak mudah menyerah dalam melakukan proses taqarrub kepada Allah Swt serta menjauh dari perbuatan-perbuatan dosa. Sebagaimana dictum al-Qur’an dalam masalah ini, “laallakum tattaqun”[11] (supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa) yang menyinggung masalah ini.

Rasulullah Saw bersabda, “Wahai kaum muda! Barang siapa yang kondisi hidupnya baik maka menikahlah. Karena pernikahan lebih baik untuk menjaga mata dan kemaluan. Dan barang siapa tidak memiliki harta untuk menikah maka hendaknya ia berpuasa. Karena puasa akan mengurangi syahwat.”[12]

5.     Faktor penguat ikhlas: Imam Ali As tatkala menjelaskan falsafah ibadah-ibadah, beliau menjelaskan falsafah puasa sedemikian, “Allah Swt mewajibkan puasa untuk menguji dan menempa keikhlasan.”[13]

Sayidah Fatimah As dalam hal ini bersabda, “Allah Swt mewajibkan puasa untuk mengokohkan keikhlasan.”[14]

Karena itu, puasa sangat berperan dan berpengaruh untuk mencetak, membina dan mematangkan keikhlasan pada diri manusia. Karena puasa adalah menahan dan menjauhi ia merupakan ibadah yang tersembunyi. Sepanjang orang tersebut sendiri tidak mengatakan bahwa ia berpuasa maka tiada yang mengetahuinya kecuali dirinya dan Tuhan.

Pengaruh Sosial Puasa

Sebagian pengaruh sosial puasa adalah sebagai berikut:

Pertama, berseminya perasaan empati dan simpati kepada orang-orang miskin dan meminimalisir kesenjangan sosial; puasa akan membangunkan perasaan simpati dan kesetiakawanan sosial terhadap orang-orang lemah dalam diri manusia. Orang berpuasa dengan merasa lapar dan dahaga sementara waktu maka perasaannya akan muncul dan akal lebih merasakan kondisi orang-orang lapar dan miskin dengan lebih baik. Jalan hidupnya akan terbuka bahwa ia tidak melanggar hak-hak orang yang berada di bawahnya dan tidak lalai dari penderitaan orang-orang susah. Meski boleh jadi orang-orang kaya dan berada akan memahami kondisi orang-orang lapar dan miskin dengan mendeskripsikannya namun apabila masalah ini diwarnai dengan sisi perasaan dan langsung merasakannya maka hal itu akan lebih baik bagi mereka memahami kesusahan orang-orang lapar dan miskin. Dalam sebuah hadis terkenal yang dinukil Imam Shadiq As ketika Hisyam bin Hakam bertanya tentang sebab pensyariatan puasa. Imam Shadiq As bersabda, “Puasa diwajibkan supaya tercipta kesataran antara orang fakir dan orang kaya. Hal ini dilakukan supaya orang-orang kaya mencicipi rasa lapar dan menunaikan hak-hak orang fakir; karena orang-orang kaya biasanya apa pun yang diinginkan selalu tersedia. Allah Swt ingin supaya di antara hambanya tercipta kesetaraan dan menjadikan orang-orang kaya mencicipi, rasa lapar, luka dan sakit sehingga mereka mengasihi orang-orang lemah dan lapar.”[15]

Kedua, berseminya perasaan interaktif secara sosial. Berpuasa adalah kesempatan bagi manusia menggali nilai-nilai spiritual dan merupakan sebuah faktor untuk keluar dari kasak-kusuk persoalan sosial dan menempatkan manusia pada sebuah jalan untuk meraih ketakwaan dan memupuk perasaan interaktif dengan sesama.

Akan tetapi pemberian pengaruh bulan Ramadhan ini akan nampak lebih nyataka apabila kebanyakan orang-orang berpuasa mengikuti anjuran untuk memberikan buka puasa dan semisalnya kepada orang-orang yang berpuasa.

Ketiga, terciptanya atmosfer spiritual dalam masyarakat dan berkurangnya pelbagai penyakit sosial. Puasa akan menciptakan semangat takwa dan pengendalian diri manusia dan akan semakin bertambah kuat seiring dengan perjalanan waktu. Puasa berpengaruh secara langsung dalam membina mental dan spiritual masing-masing anggota masyarakat. Karena kebanyakan dosa-dosa personal dan sosial bersumber dari dua akar marah dan syahwat. Dan puasa mencegah laju dua insting ini dalam diri manusia. Karena itu, puasa akan meminimalisir kerusakan dalam masyarakat dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.

Tentu saja sebuah masyarakat yang kebanyakan anggotanya khususnya pada bulan Ramadhan berpuasa berhadapan dengan atmosfer spiritual yang khusus. Dan akan menyebabkan tumbuh-berseminya perasaan simpati, kesetiakawanan sosial dan mengurangi pelbagai kerusakan sosial dan kebudayaan. [IQuest]

Catatan Kaki

[1]. Muhammad bin Yakub Kulaini, al-Kâfi, jil. 4, hal. 63 dan 64, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1365 S. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 93, hal. 254, Muassasah al-Wafa, Beirut, 1404 H. Syaikh Hurr Amili, Wasâil al-Syiah, jil. 10, hal. 408, Muassasah Ali al-Bait As, Qum, 1409 H.

[2]. Namun tentu saja penafsiran ini tidak terbatas pada puasa saja. Hanya saja puasa merupakan salah satu obyek nyata dari sabar ini. Karena manusia ketika menunaikan ibadah besar ini maka kehendak akan menjadi kuat dan iman akan menjadi kokoh dan supremasi akal atas panca indra lainnya akan semakin pasti, Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 218, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Pertama, 1374 S. Sayid Muhammad Husain Husaini Hamadani, Anwâr-e Dirakhsyân, riset oleh Muhammad Baqir Behbudi, jil. 1, hal. 144, Kitab Purusyi Luthfi, Teheran, Cetakan Pertama, 1404 H.

[3]. Al-Kâfi, jil. 4, hal. 313.  

[4]. Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 629.  

[5]. Sayidah Nushrat Amin Banu Isfahani, Makhzân al-Irfân dar Tafsir al-Qur’ân, jil. 1, hal. 306, Nasyr-e Nehdhat Zanan-e Musalman, Teheran, 1361 S. Sayid Abdul Hujjat Balaghi, Hujjat al-Tafâsir wa Balâgh al-Iksir, jil. 1, hal. 135, Intisyarat-e Hikmat, Qum, 1386 S.

[6]. Syaikh Shaduq, Man Lâ Yahdhuruhu al-Faqih, jil 2, hal. 76, Intisyarat-e Jamiah Mudarrisin, Qum, 1413 H.

[7]. Man Lâ Yahdhuruhu al-Faqih, jil 4, hal. 360.

[8]. Wasâil al-Syiah, jil. 10, hal. 313.

[9]. Ibid, jil. 404. Syaikh Shaduq, Ma’âni al-Akhbâr, hal. 409, Intisyarat-e Jami’ah Mudarrisin, Qum, 1361 S.

[10]. Ma’âni al-Akhbâr, hal. 409.

[11]. Muhaddits Nuri, Mustadrak al-Wasâil, jil. 14, hal. 153, Muassasah Ali al-Bait As, Qum, 1408 H.

[12]. Sayid Radhi, Nahj al-Balâghah, hal. 512, Nasyr Hijrat, Qum, Cetakan Pertama, 1414 H.

[13]. Bihar al-Anwar, jil. 93, hal. 368.

[14] . Man Lâ Yahdhuruhu al-Faqih, jil 2, hal. 73.

[15]. Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur, jil. 1, hal. 281, Markaz Farhanggi Dars-ha-ye az Qur’an, Teheran, Cetakan Keempat, 1389 S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *