Islam Mancanegara

Ultimatum Iran dan Ancaman Komitmen Kesepakatan Nuklir 2015

ICC Jakarta – Iran memberi tenggat waktu kepada blok Eropa itu tenggat waktu 60 hari untuk menegosisasikan kembali persyaratan yang diajukan Iran.

Selain itu, Iran juga mengultimatum untuk melanjutkan program pengayaan uranium jika pihak-pihak lain tidak menepati janjinya. Dua persyaratan lain dari kesepakatan baru yang ditegaskan oleh Iran.

“Kami merasa, kesepakatan nuklir membutuhkan operasi dan pil penawar rasa sakit tahun lalu tidak efektif,” kata Rouhani. “Operasi ini untuk menyelamatkan kesepakatan, bukan menghancurkannya”, demikian pernyataan Hassan Rouhani yang disiarkan langsung TV pemerintah pada Rabu.

Selain Uni Eropa, Iran juga memberikan informasi kepada Inggris, Rusia, China, Prancis dan Jerman mengenai keputusan Rabu pagi itu. Negara-negara tersebut merupakan penandatangan kesepakatan nuklir dan sejauh ini masih terus “mendukungnya”.

“Jika kelima negara yang bergabung dalam negosiasi dan membantu Iran untuk mencapai manfaat di bidang minyak dan perbankan, Iran akan kembali ke komitmennya sesuai dengan kesepakatan nuklir,” kata Rouhani.

Namun, Rouhani juga memperingatkan akan ada “reaksi keras” jika para pemimpin Eropa itu malah berusaha menjatuhkan sanksi lebih banyak kepada Iran melalui Dewan Keamanan PBB (DK PBB).

Menurut Rouhani, jika tenggat waktu 60 hari berlalu tanpa tindakan apapun, Iran akan menghentikan segala upaya yang dipimpin Cina untuk mendesain ulang reaktor nuklir air berat Arak.

Sementara di Moskow, Zarif juga mengeluarkan nada peringatan. Menlu Iran itu pada Rabu sore bertemu dengan mitranya dari Rusia di Moskow.

“Setelah satu tahun bersabar, Iran menghentikan langkah-langkah yang membuat AS tidak mungkin melanjutkan,” tulis Zarid via twitter. Kekuatan dunia memiliki “jendela penyempitan untuk membalikkan ini”.

Reaksi cepat meluncur dari mulut Perdana Menteri Zionis Benjamin Netanyahu, seorang kritikus setia Iran dan kritikus perjanjian nuklir 2015.

“Saya mendengar, Iran bermaksud melanjutkan program nuklirnya. Kami tidak akan membiarkan Iran memperoleh senjata nuklir,” kata Netanyahu seperti dilansir oleh ABC News.

Sejauh ini AS lebih memilih diam, namun, Gedung Putih pada Ahad kemarin telah memberi jawaban dengan mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln dan satuan gugus pembom B-52 ke Teluk Persia atas apa yang digambarkannya sebagai ancaman baru dari Iran.

Reaksi cepat datang dari Prancis. Prancis bereaksi terhadap pengumuman dari Tehran yang membatalkan beberapa komitmen Kesepakatan Nuklir, dan mengatakan, Paris akan menetapkan beberapa sanksi lagi, jika Iran benar-benar “melanggar” kewajibannya yang disepakati tahun 2015.

“Kami mengirim pesan ke Tehran untuk mengatakan bahwa kami bertekad untuk mengimplementasikan perjanjian itu, bahwa kami benar-benar ingin mereka tetap dalam perjanjian ini meskipun kami mempertimbangkan kompleksitas situasi dan menyampaikan pesan yang sama kepada sekutu kami Amerika,” kata sebuah sumber di kantor kepresidenan Prancis, seperti dilansir oleh New York Times.

Prancis mengatakan, sanksi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) terhadap Iran dapat diberlakukan kembali jika perlu.

Sementara staf umum angkatan bersenjata Iran mengeluarkan pujian atas keputusan Rouhani dan memperingatkan musuh-musuhnya.

“Setiap gerakan yang mungkin dilakukan oleh musuh, akan menghadapi tanggapan bangsa Iran dan angkatan bersenjata,” kata pernyataan itu, menurut Fars News Agancy.

Kesepakatan 2015 mencabut sanksi terhadap Iran dengan imbalan batasan pada program nuklirnya. AS menarik diri dari kesepakatan itu setelah Trump berkampanye dengan janji untuk merobek dokumen kesepakatan.

Namun, pengawas atom PBB, Badan Energi Atom Internasional (IEA), berulang kali telah memverifikasi Iran yang terjebak dalam persyaratan kesepakatan.

Di bawah kesepakatan 2015, Iran dapat menyimpan persediaan uranium yang diperkaya rendah dan tidak lebih dari 300 kilogram dan 130 ton air berat, sebagai pendingin yang digunakan dalam reaktor nuklir. Jauh lebih kecil dibandingkan dengan 10.000 kilogram (22.046 pon) uranium yang diperkaya tinggi yang pernah dimiliki Iran.

Pekan lalu AS, mengakhiri kesepakatan yang memungkinkan Iran untuk menukar uranium yang diperkaya dengan uranium Yellowcake tanpa dimurnikan dari Rusia, dan menjual air berat yang digunakan sebagai pendingin reaktor nuklir ke Oman. AS juga mengakhiri keringanan bagi negara-negara yang membeli minyak mentah Iran, sumber pendapatan utama bagi pemerintah Iran.

Saat ini, perjanjian tersebut membatasi Iran untuk memperkaya uranium hingga 3,67%, yang hanya dapat memicu pembangkit listrik tenaga nuklir komersial.

“Setiap kali tuntutan kami dipenuhi, kami akan melanjutkan jumlah yang sama dari komitmen yang ditangguhkan, tetapi sebaliknya, Republik Islam Iran akan menangguhkan pelaksanaan kewajiban lain langkah demi langkah,” demikian sebuah pernyataan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) pada Rabu.

“Jendela yang sekarang terbuka untuk diplomasi tidak akan tetap terbuka untuk waktu yang lama,” tegas SNSC.

Well, mengingat fakta-fakta komitmen Iran terhadap JCPOA, sungguh sangat naif ketika musuh-musuh Republik Islam Iran berpikir, JCPOA adalah pakta abadi untuk menjaga Iran supaya terus terikat dan mengikatnya.

Dan sungguh naif, ketika para teroris CENTCOM berandai-andai akan diberi izin dan akses oleh Republik Islam untuk menggeledah jantung pertahanan negara. Dan semakin mereka mencederai kesepakatan-kesepakatan, maka tak lama lagi di kawasan ini, akan segera menyaksikan bahwa rezim Zionis Israel penjajah al-Quds, akan segera terhapus dari peta dunia, kurang dari 25 tahun. Karena waktu kehancurannya semakin dekat dan semakin jelas.[Islam Times]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *