Mozaik

Professor Sains Amerika Serikat: Muslim Buka Puasa Terlalu Cepat

ICC Jakarta – Professor Neil deGrasse Tyson adalah seorang ahli astrofisika, penulis, dan pembicara dalam berbagai seminar tentang sains dari Amerika Serikat. Selain itu, dia juga dianggap sebagai pemikir hebat, pendapatnya seringkali ditunggu-tunggu oleh khalayak.  

Pada tahun 2014, Tyson menggarap sebuah acara televisi bersama National Geographic yang berjudul Cosmos. Pada tahun 2017, dia menerima penghargaan sains dari Stephen Hawking’s Award. Singkat kata, kiprahnya di dalam dunia sains sudah diakui oleh dunia.


Neil deGrasse Tyson. Foto: Craig Barritt/Getty Images

Mengenai agama, dia tidak pernah secara terang menyatakan apa agamanya. Dia mengaku bukan seorang ateis, tetapi seorang agnostik.

Belum lama ini, dia membuat sebuah pernyataan kontroversial di dalam akun Twitter-nya tentang cara berpuasa Muslim. Dia berkata, “Alquran mengatakan dengan jelas bahwa puasa pada siang hari selama bulan Ramadan berakhir pada saat ‘Gelap’ bukan saat matahari terbenam. ‘Gelap’ adalah padanan yang tepat untuk berakhirnya senja (cahaya temaram).”

The Qur’an says plainly that daytime fasting during Ramadan ends at “Dark” not at sunset. “Dark” is a good match for the end of twilight. This time of year: up to 15 mins later in equatorial latitudes. 30 mins at middle latitudes. And 45 mins at higher latitudes. I’m just saying.

Dengan demikian, waktu berbuka yang benar menurut Tyson, sebagaimana dikatakannya, “Waktu untuk tahun ini: hingga 15 menit kemudian (setelah matahari terbenam) – apabila Anda berada – di garis khatulistiwa. 30 menit di lintang tengah. Dan 45 menit pada garis lintang lebih tinggi. Saya hanya mengatakan.”

Jadi menurut Tyson, pada dasarnya, ketika seseorang buka puasa saat matahari terbenam, maka dia sesungguhnya buka terlalu cepat.

Adapun ayat yang dimaksud, yang membahas mengenai waktu buka puasa, ditemukan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 187: “,….  ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ” yang terjemahan bahasa Indonesianya, “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”

Yang menjadi persoalan di sini adalah perbedaan tafsir kata “lail” yang artinya “malam”. Tyson beranggapan bahwa yang dimaksud dengan malam adalah ketika cahaya temaram sudah hilang dan langit sudah gelap.

Seorang netizen menyanggah pendapat Tyson, dia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan malam adalah ketika matahari terbenam. Namun Tyson tetap bersikukuh dengan pendapatnya, berkata, “Kalimat yang menyebutkan kata itu (lail),juga merujuk ke langit Timur, membuat saya tidak memiliki interpretasi lainnya.”

Netizen lain mencoba membenarkan pendapat Tyson, bahwa yang dimaksud dengan malam adalah ketika datangnya gelap, sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Ya Sin Ayat 37:
“ وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ ”

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.”

Adapun menurut Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi Arabia), tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 187, sebagaimana telah disebut di atas, yang dimaksud dengan datangnya malam adalah, “Yang diawali dengan terbenamnya matahari dengan sempurna.” Allahu a’lam. [Islam Indonesia]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *